Selasa, 08 Juli 2014

Minggu Tenang Pilpres, La Nyalla Edarkan Lagi Tabloid Obor Rakyat & SapuJagat

Berpotensi Untuk Hancurkan NKRI
Minggu Tenang Pilpres, La Nyalla Edarkan Lagi Tabloid Obor Rakyat & SapuJagat


Pada saat tahapan pilpres 2014 yang seharusnya sudah memasuki minggu tenang, selasa (8 Juli 2014) dini hari, di Surabaya, masyarakat menangkap pelaku penyebaran Tabloid Obor Rakyat yang berisi provokasi & meresahkan masyarakat.

Sebagaimana diketahui, saat mulai sebelum masa kampanye pilpres, Tabloid Obor Rakyat sudah beredar di seluruh Indonesia dalam jumlah ratusan ribu eksemplar. Tabloid ini menghebohkan karena selain berisi berita2 yang mendiskreditkan Jokowi Widodo (Jokowi), salah seorang capres pada pilpres 2014 ini, tabloid ini juga cenderung mengadu-domba, menimbulkan rasa kebencian, permusuhan & memecah-belah masyarakat Indonesia dalam hal SARA (suku, ras, agama & antar golongan). Dan saat ini penanggugjawab Tabloid ini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian

Peristiwa yang ditangkap masyarakat Surabaya pada selasa dini hari tersebut adalah pembagian Tabloid Obor Rakyat dan juga Tabloid SapuJagat yang isinya juga berisi hasutan & mengadu domba masyarakat serta pembagian sembako, kaos, stiker pasangan capres PraHara (Prabowo - Hatta Radjasa), dan selebaran dari La Nyalla Academia yang berisi ajakan pada masyarakat untuk memilih pasangan PraHara & mendiskreditkan pasangan capres yang lain dengan tudingan yang berbau SARA. Oleh masyarakat pelaku penyebaran diserahkan pada pihak kepolisian di Surabaya.

Pada pilpres RI 2014 ini, La Nyalla Mattalitti ketua Kadin (Kamar Dagang & Industri) & ketua MPW Pemuda Pancasila Jatim (Jawa Timur) memang menonjolkan & mengumumkan dirinya seolah sebagai pendukung utama dari pasangan PraHara. Hal ini bisa dilihat pada masa kampanye yang lalu, ratusan spanduk, banner dengan logo La Nyalla Academia terpasang dibanyak tempat di Jatim dengan himbauan "pokoknya masyarakat harus memilih pasangan PraHara"

Yang sangat disayangkan oleh masyarakat adalah, pada saat sudah memasuki minggu tenang, La Nyalla Academia malah melakukan kampanye dengan pembagian sembako, kaos, stiker pasangan capres yang didukungnya. Yang lebih memprihatinkan adalah gerombolan La Nyalla Academia memperbanyak/mengedarkan lagi Tabloid Obor Rakyat dalam jumlah puluhan ribu eksemplar yang berisi fitnah & adu domba yang cenderung bisa memecah-belah persatuan rakyat Indonesia. Padahal pengelola Tabloid Obor Rakyat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian, karena dianggap bisa merusak persatuan, kesatuan & keutuhan NKRI.

Yang lebih parah, kelompok La Nyalla ini juga meng-order Tabloid lain yakni Tabloid SapuJagat milik seorang tokoh pers gaek di Surabaya dalam jumlah puluhan ribu eksemplar yang memuat berita yang isinya hampir sama dengan Tabloid Obor Rakyat untuk diedarkan keseluruh Jatim, untuk menimbulkan keresahan masyarakat menjelang dilaksanakannya Pilpres.

Masyarakat berharap, bahwa pihak kepolisian menindak secara tegas, upaya dari kelompok ini yang diduga telah melakukan upaya memecah belah & menimbulkan keresahan masyarakat. Jangan hanya pelaku yang mengedarkannya saja yang dikenakan hukum, tapi otak dari pelaku adu domba untuk memecah belah NKRI ini yang harus diusut tuntas. Karena pelaku yang ditangkap masyarakat & dierahkan pada kepolisian, saat mengedarkan provokasi untuk menghancurkan NKRI ini diduga hanya melakukan penyebaran itu karena mendapat upah/bayaran saja.

Masyarakat menganggap bahwa La Nyalla Mattalitti menonjolkan diri seolah sebagai satu2nya pendukung utama pasangan capres PraHara ini sebenarnya tidaklah secara tulus mendukung pasangan PraHara. Akan tetapi hanya merupakan upaya mencari muka & berharap jika Prabowo menang dalam pilpres, akan meminta bahwa kasus2 korupsi Kadin Jatim sejumlah puluhan milyar rupiah  yang saat ini sedang diperiksa oleh aparat hukum, bisa dihentikan pengusutannya.

Beranikah kepolisian mengusut dugaan kasus upaya adu-domba & memecah-belah persatuan NKRI yang merwesahkan masyarakat ini, secara tuntas?


AOM - Aliansi Orang peMberani


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar