Minggu, 15 Januari 2012

Kutuk Rasisme Neo-Nazi atas WNI

 


Oleh : Berthy B Rahawarin | 14-Jan-2012, 10:22:04 WIB

Kutuk Rasisme Neo-Nazi atas WNI
KabarIndonesia - Dunia internasional dituntut memaksa Pemerintahan Kanselir Jerman Angela Markel untuk mengutuk tindakan rasis oleh kelompok Neo-NAZI terhadap Warga Negara Indonesia Hamid A Tahar (tgl 10/1/2012). Peristiwa rasialis yang kembali mencoreng pemerintahan Angela Markel, dikhawatirkan hanya dipandang sebagai kejahatan remaja, dan tidak tersangkut ideologi komunis Neo-Nazi.

Sulit memahami bila di satu pihak, Pemerintahan Markel tidak menyatakan sikap terhadap kejahatan rasial-ideologis di negerinya. Pemerintah Jerman tidak perlu menunggu demonstrasi Pemuda Indonesia atas kejahatan rasialis itu.

Di pihak lain, tidak adanya tuntutan dan sikap tegas oleh Pemerintahan Indonesia, dapat dianggap membenarkan atau memberi angin kepada kejahatan diskriminatif. Pemerintah RI wajib membela warganya oleh karena tindakan rasialis-ideologis, yang amat dikutuk dalam sistem konstitusi RI.

Jika dunia tidak menyatakan sikap bersama terhadap kejadian rasialis, tidak hanya di wilayah olah-raga sepak-bola, tetapi dalam seluruh tata pergaulan dan kehidupan internasional, dunia dapat dianggap membiarkan ketidak-adilan rasial berlangsung di hadapan mereka.

Sejauh ini, tindakan rasialis dalam wilayah olah-raga, khsususnya sepak bola, dianggap relatif konsisten. Tetapi, kekerasan rasial yang terjadi di beberapa negara, dan terakhir terhadap WNI di Bonn, Jerman, adalah tindakan pengecut yang harus dikutuk.

Jerman belum Terbebas dari NAZI Hitler?

Sejumlah pengamat mengakui, Komunisme yang pernah menjadi sistem pemerintahan Jerman Timur, samar ataupun nyata masih eksis. Setelah penyatuan Jerman Timur dan Jerman Barat dengan dirobohkannya tembok Berlin, 10 November 1989, atau dua puluh tiga tahun silam tidak segera menuntaskan masalah sosial, ekonomi, politik, hingga ideologi Jerman Raya.

Jerman Barat tetap bagian yang lebih makmur secara ekonomis, sementara ketertinggalan ekonomi wilayah Timur Jerman belum terjembatani sepenuhnya. "Kenangan Manis" palsu Jerman Timur yang dapat makmur dalam sistem ekonomi komunis di masa lampau dapat kembali hidup dalam sebagian warga bekas Jerman Timur maupun sejumlah kecil di wilayah bekas Jerman Barat.

Para pemuda yang kini hidup dalam frustrasi ekonomi di wilayah Jerman Timur tidak memiliki pengalaman historis yang nyata tentang kegagalan sistem ekonomi yang berakhir "kesediaan" bersatu dengan saudaranya di Jerman Barat. Kompensasi negatif membangun tindakan dan sikap agresif dan ofensif terhadap warga yang tidak se-ideologi hingga ras, dapat subur dan sistematis.

Diskriminasi dan kekerasan mutlak ditolak dunia internasional, dan itu harus dinyatakan terbuka dan langsung. Perbedaan ideologi, politik, sosial, ekonomi, budaya tidak menjadi alasan bertindak tidak adil terhadap sesama. Apalagi, bentuk penyerangan langsung, seperti dialami WNI Hamid A Tahar. Sulit memahami, jika bahkan Pemerintah Indonesia tidak menyatakan sikap atas warga negaranya yang didikriminasikan dalam tata dunia internasional.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//
 
*) Komunisme tidak disamakan dengan Nazi atau Neo-Nazi, keduanya menjadi dua Partai Terakhir sebelum Jerman terbagi, tapi keduanya telah merongrong Demokrasi Jerman, dan berakhir dengan berdirinya totalitarian Hitler. 

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar