Minggu, 26 Agustus 2012

[forumpembaca-kompas] Menjadi Satu Peringatan Akan Daku

 

 

Pasal 72

 

Menjadi Satu Peringatan

Akan Daku

 

"PADA malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: 'Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatn akan Aku.' Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: 'Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!' Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang." 1 Kor. 11:23‑26.

Kristus sedang berdiri pada titik peralihan antara dua sistim dan dua masa raya mereka yang besar. Ia, sebagai Anak Domba Allah yang tidak bercacat, hampir akan menyerahkan diri‑Nya sebagai suatu persembahan karena dosa, agar dengan demikian Ia akan mengakhiri sistim upacara korban bayangan yang selama empat ribu tahun telah menunjuk kepada kematian‑Nya. Ketika Ia makan Paskah dengan murid‑murid‑Nya, Ia mendirikan sebagai gantinya upacara yang akan menjadi peringatan pengorbanan‑Nya yang besar itu. Masa raya nasional orang Yahudi itu harus dihilangkan

-----------------

Pasal ini dialaskan atas Mat. 26:20‑29 ; Mrk. 14:17‑25; Luk. 22:14‑23; Yoh. 13:18‑30.

 

selama‑lamanya. Upacara yang ditetapkan oleh Kristus harus dipelihara oleh para pengikut‑Nya di semua negeri dan pada segenap zaman.

Paskah ditentukan sebagai suatu peringatan kelepasan Israel dari perhambaan Mesir. Allah telah memberi petunjuk bahwa, dari tahun ke tahun, bila anak‑anak menanyakan makna upacara ini, sejarah itu harus diceritakan kembali. Dengan demikian kelepasan yang ajaib itu akan tetap segar dalam ingatan semua orang. Upacara Perjamuan Kudus diberikan untuk memperingati kelepasan yang besar yang dilaksanakan sebagai hasil kematian Kristus. Sampai Ia datang kedua kalinya dalam kuasa dan kemuliaan, upacara ini harus diperingati. Itulah ikhtiar yang olehnya pekerjaan‑Nya yang besar bagi kita harus dipelihara dalam keadaan segar dalam pikiran kita.

Pada saat kelepasan mereka dari Mesir, anak‑anak Israel makan Paskah sambil berdiri, dengan memakai ikat pinggang, dan dengan tongkat ditangan, mereka siap untuk mengadakan perjalanan. Cara mereka memperingati upacara ini sesuai benar dengan keadaan mereka, karena hampir akan dikeluarkan dari tanah Mesir, dan hampir akan memulai suatu perjalanan yang tidak menyenangkan dan sukar melalui padang belantara. Tetapi pada zaman Kristus keadaan sudah berubah. Sekarang mereka tidak hampir akan dikeluarkan dari negeri asing, melainkan sebagai penghuni negeri mereka sendiri. Sesuai dengan perhentian yang telah diberikan kepada mereka, pada waktu itu, orang banyak mengambil bagian dari Paskah dalam posisi bersandar. Balai‑balai sudah ditaruh di sekeliling meja, dan para tamu berbaring di atasnya, bertumpu pada lengan kiri, dan tangan kanan leluasa digunakan untuk makan. Dalam posisi ini seorang tamu dapat menyandarkan kepalanya di atas dada orang yang duduk di sebelahnya. Dan kaki, yang terjuntai di tepi balai‑balai, dapat dicuci oleh seorang yang berkeliling di luar lingkaran itu.

Kristus masih di meja yang di atasnya perjamuan Paskah sudah disajikan. Roti yang tidak beragi yang digunakan pada masa raya Paskah terdapat di hadapan‑Nya. Anggur Paskah, yang tidak mengalami peragian, terdapat di atas meja. Lambang ini digunakan Kristus untuk menggambarkan pengorbanan‑Nya sendiri yang tidak bercacat‑cela. Tidak ada sesuatu dinajiskan dengan peragian, lambang dosa dan kematian, dapat menggambarkan "Anak Domba yang tak bernoda dan bercacat." 1 Petr. 1:19.

"Sementara mereka itu makan, diambil oleh Yesus roti dan diberkati‑Nya, lalu dipecah‑pecahkan‑Nya serta diberikan‑Nya kepada murid‑murid itu sambil berkata, Ambillah, makanlah, inilah tubuh‑Ku. Lalu diangkat‑Nya cawan minuman, diucapkan‑Nya syukur serta diberikan‑Nya kepada mereka itu sambil berkata, Minumlah kamu sekalian dari cawan itu. Karena inilah darah‑Ku, yaitu darah perjanjian baru yang ditumpahkan karena orang banyak, jalan keampunan dosa. Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa daripada ketika ini tiada lagi Aku minum air buah anggur sehingga sampai kepada hari Aku minum dia yang baharu bersama‑sama dengan kamu di dalam kerajaan Bapa‑Ku."

Yudas si pengkhianat hadir pada upacara perjamuan itu. Ia menerima dari Yesus lambang tubuh‑Nya yang sudah dipecah‑pecahkan serta darah‑Nya yang sudah ditumpahkan. Ia mendengar perkataan, "Perbuatlah demikian menjadi suatu peringatan akan Daku." Dan sambil duduk di situ di hadirat Anak Domba Allah, sipengkhianat itu merenungkan niatnya sendiri yang gelap itu, serta menaruh pikiran yang murung dan penuh rasa dendam.

Pada waktu membasuh kaki, Kristus telah memberikan bukti yang meyakinkan bahwa Ia mengerti tabiat Yudas. "Tidak semua kamu bersih" (Yoh. 13:11), kata‑Nya. Perkataan ini meyakinkan murid yang palsu ini bahwa Kristus membaca niatnya yang tersembunyi. Sekarang Kristus berbicara lebih jelas lagi. Sementara mereka duduk di sekeliling meja berkatalah Ia, sambil memandang kepada murid‑murid‑Nya, "Aku berkata bukan dari hal kamu sekalian karena Aku ini tahu, siapa pilihan‑Ku; tetapi supaya isi Alkitab itu sampai, yaitu, Orang yang makan roti‑Ku itu mengangkat tumitnya melawan Aku."

Pada saat itu murid‑murid tidak mencurigai Yudas. Tetapi mereka melihat bahwa Kristus kelihatan sangat susah hati‑Nya. Sebuah awan menudungi mereka semuanya pertanda suatu malapetaka yang mengerikan, yang sifatnya tidak mereka pahami. Sementara mereka makan dalam ketenangan, Yesus berkata, "Sesungguh‑sungguhnya Aku berkata kepadamu, bahwa seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku." Mendengar perkataan ini mereka dipenuhi keheranan dan kekejutan. Mereka tidak dapat mengerti bagaimana salah seorang dari mereka dapat memperlakukan Guru Ilahi dengan pengkhianatan. Untuk alasan apa mereka dapat menyerahkan Dia? Dan kepada siapa? Hati siapakah dapat menjadi sumber bagi rencana seperti itu? Tentu saja tidak seorang pun dari kedua belas murid yang disenangi itu sudah mendapat kesempatan melebihi semua orang lain untuk mendengar ajaran‑Nya, yang telah mendapat bagian dari kasih‑Nya yang ajaib, dan yang baginya Ia telah menunjukkan perhatian sebesar itu oleh membawa mereka ke dalam hubungan yang erat dengan Dia!

Ketika mereka menyadari makna perkataan‑Nya, dan mengingat betapa benarnya ucapan‑Nya itu, mereka dipenuhi ketakutan dan sifat tidak mempercayai diri sendiri. Mereka mulai memeriksa hati mereka sendiri untuk melihat apakah ada satu pikiran yang menentang Guru mereka tersimpan di situ. Dengan emosi yang paling menyedihkan satu demi satu bertanya, "Ya Tuhan, hamba inikah?" Tetapi Yudas duduk diam. Yohanes dalam kesedihan besar akhirnya bertanya, "Ya Tuhan, siapakah dia itu?" Dan Yesus menjawab, "Bahwa orang yang mencelupkan tangannya ke dalam pinggan sekaligus dengan Aku, itulah dia yang akan menyerahkan Aku. Maka Anak manusia pergi juga, sebab sudah tersurat halnya; tetapi wai bagi orang itu, yang menyerahkan Anak manusia! Alangkah baiknya bagi orang itu, jikalau tiada ia dilahirkan. Murid‑murid sudah saling memandang satu dengan yang lain ketika mereka bertanya, "Ya Tuhan, hamba inikah?" Dan sekarang ketenangan Yudas menarik semua mata kepadanya. Di antara kekacauan pertanyaan dan pernyataan keheranan, Yudas tidak mendengar perkataan Yesus sebagai jawab pada pertanyaan Yohanes. Tetapi sekarang, untuk menghindari penyelidikan kritis dari murid‑murid, ia pun bertanyalah sama seperti mereka juga, "Hamba inikah, ya Rabi?" Yesus menjawab dengan sungguh‑sungguh, "Adalah seperti katamu itu."

Dalam keheranan dan kekacauan karena niatnya sudah dibeberkan, Yudas pun berdiri dengan cepat hendak meninggalkan ruangan itu. "Barang yang engkau berniat, perbuatlah lekas.... Setelah diambil oleh Yudas sesuap itu, keluarlah ia dengan segeranya; maka hari pun malamlah." Sudahlah malam bagi sipengkhianat ketika ia berbalik dari Kristus ke dalam kegelapan di luar.

Sampai ia mengambil langkah ini, Yudas belum melewati kemungkinan adanya pertobatan. Tetapi ketika ia meninggalkan hadirat Tuhannya serta rekan‑rekan murid, keputusan terakhir telah diambil. Ia telah melewati garis batas.

Sungguh mengherankan kesabaran Yesus dalam perlakuan‑Nya terhadap jiwa yang tergoda ini. Tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan Yudas ditinggalkan dalam keadaan tidak dilakukan. Sesudah dua kali ia berjanji untuk menyerahkan Tuhannya, Yesus masih memberi dia kesempatan untuk bertobat. Oleh membaca niat yang tersembunyi dari hati sipengkhianat itu, Kristus memberi Yudas bukti yang terakhir dan meyakinkan tentang keilahian‑Nya. Bagi murid yang palsu itu, inilah panggilan terakhir kepada pertobatan. Tidak ada seruan yang dapat disampaikan oleh hati Kristus yang bersifat manusia Ilahi telah diperhatikan. Gelombang kemurahan yang dipukul mundur oleh kesombongan yang degil, kembalilah dalam pasang kasih yang menaklukkan yang lebih keras lagi. Tetapi meski pun heran dan digemparkan ketika kesalahannya kedapatan, Yudas hanya menjadi lebih nekad. Dari upacara perjamuan itu keluarlah ia hendak menyelesaikan pekerjaan pengkhianatannya.

Dalam mengucapkan celaka ke atas Yudas, Kristus juga mempunyai suatu maksud kemurahan terhadap murid‑murid‑Nya. Dengan demikian Ia memberi mereka bukti utama bahwa Ialah Mesias. "Aku mengatakan perkara itu kepadamu sebelum ia itu jadi, supaya apabila jadi kelak, kamu akan percaya bahwa Akulah Dia." Sekiranya Yesus tinggal diam, dan tampaknya tidak mengetahui apa yang akan berlaku atas‑Nya, maka murid‑murid mungkin akan berpendapat bahwa Guru mereka tidak mempunyai pandangan Ilahi, dan telah dikejutkan dan diserahkan ke tangan orang banyak yang ingin membunuh. Setahun sebelumnya, Yesus telah mengatakan kepada murid‑murid‑Nya bahwa Ia telah memilih kedua belas murid, dan bahwa seorang adalah Iblis. Sekarang perkataan‑Nya kepada Yudas, yang menunjukkan bahwa pengkhianatannya diketahui benar‑benar oleh Gurunya, akan menguatkan iman para pengikut Kristus yang sejati selama saat Ia merendahkan diri. Dan bila Yudas datang pada akhir hidupnya yang mengerikan, mereka akan mengingat celaka yang telah diucapkan ke atas sipengkhianat itu.

Dan Juruselamat masih mempunyai maksud lain. Ia tidak menahan pelayanan‑Nya dari dia yang diketahui‑Nya sebagai seorang pengkhianat. Murid‑murid tidak mengerti perkataan‑Nya ketika Ia berkata pada upacara cuci kaki, "Tidak semua kamu bersih," atau pun ketika di meja perjamuan Ia menyatakan, "Orang yang makan roti‑Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku." Yoh. 13:11, 18. Tetapi kemudian, ketika maksud‑Nya sudah dijelaskan, ada sesuatu perlu mereka pertimbangkan mengenai kesabaran dan kemurahan Allah terhadap orang yang berbuat kesalahan yang paling menyedihkan.

Meski pun Yesus mengetahui Yudas dari mulanya, dibasuh‑Nya juga kakinya. Dan sipengkhianat itu mendapat kesempatan untuk bersatu dengan Kristus dalam mengambil bagian dari perjamuan itu. Juruselamat yang panjang sabar menawarkan setiap ajakan bagi orang berdosa untuk menerima Dia, bertobat dan disucikan dari kenajisan dosa. Inilah teladan bagi kita. Bila kita menganggap bahwa seorang berada dalam kesalahan dan dosa, jangan hendaknya kita memisahkan diri dari dia. Jangan hendaknya dengan perpisahan karena sifat kurang peduli kita meninggalkan dia sebagai mangsa penggodaan, atau mengusir dia ke atas medan pertempuran Setan. Ini bukannya metoda Kristus. Ia membasuh kaki murid‑murid. justru karena mereka mudah berbuat kesalahan dan bersalah, dan semuanya kecuali seorang dari kedua belas murid itu dibawa kepada pertobatan dengan jalan demikian.

Teladan Kristus melarang sifat suka memilih pada Perjamuan Suci. Memang benar bahwa dosa terang‑terangan mengasingkan orang yang bersalah. Inilah yang diajarkan dengan jelas oleh Roh Kudus. 1 Kor. 5:11. Tetapi lebih dari ini tidak seorang pun harus dihakimkan. Allah tidak menyerahkan hak kepada manusia untuk mengatakan siapa‑siapa harus hadir pada peristiwa seperti ini. Karena siapakah dapat membaca hati? Siapakah dapat membedakan rumput dari gandum? "Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum  dari cawan itu." Karena "barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan." "Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya." 1 Kor. 11:28,27,29.

Bila orang‑orang percaya berhimpun untuk memperingati upacara itu, hadirlah juga pesuruh‑pesuruh yang tidak dapat dilihat dengan mata manusia. Mungkin juga ada Yudas dalam rombongan itu, dan jika demikian, pesuruh‑pesuruh dari putera kegelapan pun ada di situ, karena mereka melayani semua orang yang enggan dikendalikan oleh Roh Kudus. Malaikat‑malaikat surga juga hadir. Tamu‑tamu yang tidak kelihatan ini hadir pada setiap kesempatan seperti itu. Mungkin ke dalam rombongan itu datang juga orang‑orang yang dalam hatinya bukannya hamba kebenaran dan kesucian, tetapi yang ingin mengambil bagian dalam upacara itu. Mereka tidak boleh dilarang. Ada saksi‑saksi yang hadir pula ketika Yesus membasuh kaki murid‑murid dan Yudas. Lebih dari mata manusia melihat peristiwa itu.

Kristus oleh Roh Kudus ada di situ untuk menaruh meterai pada upacara‑Nya sendiri. Ia ada di situ untuk meyakinkan dan melembutkan hati. Tiada suatu pandangan, tiada suatu pikiran penyesalan yang tidak diperhatikan‑Nya. Ia sedang menunggu orang yang mau bertobat dan hancur hatinya. Segala perkara siap sedia untuk penerimaan jiwa itu. Ia yang membasuh kaki Yudas ingin membasuh setiap hati dari noda dosa.

Jangan hendaknya seorang pun mengasingkan dirinya dari Perjamuan Kudus karena ada orang yang tidak layak mungkin hadir. Setiap murid diundang untuk mengambil bagian di hadapan umum, dan dengan demikian menyaksikan bahwa ia menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi. Pada saat inilah, pada upacara‑Nya sendiri, Kristus bertemu dengan umat‑Nya, dan menguatkan mereka oleh hadirat‑Nya. Hati dan tangan yang tidak layak mungkin mengurus upacara itu, namun Kristus ada di situ untuk melayani anak‑anak‑Nya. Semua orang yang datang dengan iman pada‑Nya akan mendapat berkat besar. Semua orang yang melalaikan upacara Ilahi ini akan menderita kerugian. Tentang mereka boleh dikatakan dengan tepat, "Tidak semua kamu bersih."

Dalam mengambil bagian‑dengan murid‑murid‑Nya dari roti dan anggur, Kristus berjanji kepada mereka untuk menjadi Penebus mereka. Ia memberikan perjanjian baru kepada mereka, yang olehnya semua orang yang menerima Dia menjadi anak‑anak Allah, dan waris bersama‑sama dengan Kristus. Oleh perjanjian ini setiap berkat yang dapat diberikan oleh surga untuk kehidupan ini dan kehidupan pada masa depan menjadi bagian mereka. Upacara perjamuan suci ini harus dikuatkan dengan darah Kristus. Dan diadakannya upacara ini mengingatkan kepada murid‑murid tentang korban yang tak terbatas yang diadakan bagi masing‑masing mereka secara pribadi sebagai sebagian dari segenap umat manusia yang sudah jatuh.

Tetapi upacara Perjamuan Kudus jangan hendaknya menjadi suatu saat berdukacita. Ini bukanlah maksudnya. Ketika murid‑murid Tuhan berkumpul di sekeliling meja‑Nya, tidak seharusnya mereka mengingat dan meratapi kekurangan mereka. Tidak seharusnya mereka merenungkan pengalaman rohani mereka yang lampau, apakah pengalaman itu menggembirakan atau menyedihkan. Tidak seharusnya mereka mengingat perbedaan paham antara mereka dan saudara‑saudara mereka. Upacara persiapan telah meliputi segala perkara ini. Pemeriksaan diri sendiri, pengakuan dosa, pemberesan perbedaan paham, semuanya sudah dilakukan. Sekarang mereka datang untuk berjumpa dengan Kristus. Tidak seharusnya mereka berdiri dalam bayang salib, melainkan dalam terangnya yang menyelamatkan. Mereka harus membuka jiwa kepada sinar terang dari Matahari Kebenaran. Dengan hati yang disucikan oleh darah Kristus yang paling berharga, dalam rasa kesadaran yang penuh akan hadirat‑Nya, meski pun tidak kelihatan, mereka harus mendengar perkataan‑Nya, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu." Yoh. 14:27.

Tuhan kita mengatakan, Di bawah keyakinan dosa, ingatlah bahwa Aku mati untuk engkau. Bila ditindas dan dianiaya dan disusahkan karena nama‑Ku dan karena Injil, ingatlah kasih‑Ku, begitu besar sehingga bagimu Aku memberikan hidup‑Ku. Bila kewajibanmu tampaknya berat dan keras dan bebanmu terlalu berat untuk ditanggung, ingatlah bahwa karenamulah Aku menanggung salib, tidak menghiraukan malu. Bila hatimu takut akan ujian yang berat, ingatlah bahwa Penebusmu hidup untuk memohonkan syafaat bagimu.

Upacara perjamuan Kudus menunjukkan kepada kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Upacara ini direncanakan dengan maksud agar harapan ini diingat baik‑baik oleh murid‑murid. Bila saja mereka berkumpul bersama‑sama untuk memperingati kematian‑Nya, mereka menceritakan kembali "bagaimana" diangkat‑Nya cawan minuman, diucapkan‑Nya syukur serta diberikan‑Nya kepada mereka itu sambil berkata, Minumlah kamu sekalian dari cawan itu. Karena inilah darah‑Ku, yaitu darah perjanjian baru, yang ditumpahkan karena orang banyak jalan keampunan dosa. Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa daripada ketika ini tiada lagi Aku minum air buah anggur sehingga sampai kepada hari Aku minum dia yang baharu bersama‑sama dengan kamu di dalam kerajaan Bapa‑Ku." Dalam kesukaran mereka mendapat penghiburan dalam harapan kedatangan Tuhan. Tidak terperikan nilainya bagi mereka bila memikirkan "Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang." 1 Kor. 11:26.

Inilah perkara‑perkara yang sekali‑kali tidak boleh kita lupakan. Kasih Yesus, dengan kuasa‑Nya yang mengajak kita, harus tetap segar dalam ingatan kita. Kristus telah menetapkan upacara ini agar hal itu menyadarkan kepada kita tentang kasih Allah yang sudah dinyatakan untuk kepentingan kita. Tidak akan ada persatuan antara jiwa kita dan Allah kecuali melalui Kristus. Persatuan dan kasih antara saudara bersaudara harus disatu padukan dan dijadikan kekal oleh kasih Yesus. Dan tidak ada sesuatu yang kurang .dari kematian Kristus dapat menjadikan kasih‑Nya berhasil bagi kita. Hanyalah karena kematian‑Nya kita dapat memandang dengan kegembiraan pada kedatangan‑Nya yang kedua kalinya. Pengorbanan‑Nya menjadi pusat harapan kita. Di atas hal inilah kita harus menumpukan iman kita.

Upacara‑upacara yang menunjuk kepada kerendahan dan penderitaan Tuhan kita terlalu sering dianggap hanya sekadar rupa. Upacara‑upacara itu ditetapkan untuk suatu maksud. Perasaan kita perlu dihidupkan untuk berpegang erat pada rahasia kesalehan. Adalah kesempatan bagi semua orang untuk mengerti, jauh melebihi pengertian kita, tentang penderitaan Kristus yang mengadakan perdamaian itu. "Sebagaimana Musa telah menaikkan ular itu di padang belantara," demikian juga Anak manusia sudah dinaikkan, "supaya barang siapa yang percaya beroleh hidup yang kekal di dalam Dia." Ke salib di Golgota, yang menanggung Juruselamat yang sedang mati, kita harus memandang. Perhatian kita yang kekal menuntut kita untuk menunjukkan iman kepada Kristus.

Tuhan kita telah mengatakan, "Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.... Karena daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman." Yoh. 6:53‑55. Hal ini berlaku juga pada keadaan jasmani kita. Kepada kematian Kristus kita berhutang untuk hidup di dunia ini sekali pun. Roti yang kita makan dibayar dengan tubuh‑Nya yang sudah dipecah‑pecahkan. Air yang kita minum dibeli dengan darah‑Nya yang sudah ditumpahkan. Tidak pernah seorang pun, orang saleh atau orang berdosa, makan makanannya sehari‑hari, kecuali ia diberi makan oleh tubuh dan darah Kristus. Salib di Golgota tertera pada setiap ketul roti. Salib itu tertera pada setiap mata air. Segala perkara ini telah diajarkan oleh Kristus dalam menentukan lambang pengorbanan‑Nya yang besar itu. Terang yang bersinar dari upacara Perjamuan Suci di ruangan atas menyucikan persediaan untuk kehidupan kita sehari‑hari. Makanan keluarga menjadi bagaikan meja Tuhan, dan setiap hidangan bagaikan suatu sakramen.

Dan lebih benar pula perkataan Kristus itu berkenaan dengan sifat rohani kita. Ia menyatakan "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal." Adalah oleh menerima hidup bagi kita yang dicurahkan di salib di Golgota, kita dapat hidup suci. Dan hidup ini kita terima oleh menerima perkataan‑Nya, oleh melakukan perkara‑perkara yang telah diperintahkan‑Nya. Dengan demikian kita menjadi satu dengan Dia. "Barangsiapa makan daging-Ku," kata‑Nya, "dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku." Yoh. 6:54, 56, 57. Kepada Perjamuan Suci ayat‑ayat ini dikenakan dalam pengertian khusus. Bila iman merenungkan pengorbanan Tuhan kita yang besar itu, jiwa menyerap kehidupan rohani Kristus. Jiwa itu akan menerima kekuatan  rohani dari setiap Perjamuan Suci. Upacara itu membentuk suatu hubungan hidup yang olehnya orang percaya disatukan dengan Kristus dan dengan demikian disatukan dengan Bapa. Dalam pengertian khusus hal itu membentuk suatu hubungan antara Allah dan manusia yang tidak berdiri sendiri.

Bila kita menerima roti dan anggur yang melambangkan tubuh Kristus yang sudah dipecah‑pecahkan dan darah yang sudah ditumpahkan, maka dalam angan‑angan kita menggabungkan diri dalam peristiwa Perjamuan Kudus di ruangan atas. Kita tampaknya sedang melalui taman yang disucikan oleh sengsara‑Nya yang menanggung dosa dunia. Kita menyaksikan pergumulan yang olehnya perdamaian kita dengan Allah diperoleh. Kristus dinyatakan tersalib di antara kita.

Sambil memandang kepada Penebus yang sudah disalibkan, kita lebih mengerti besarnya dan maknanya pengorbanan yang diadakan oleh Yang Maha Mulia di surga. Rencana keselamatan dimuliakan di hadapan kita, dan pikiran tentang Golgota menggugah hidup dan emosi yang suci dalam hati kita. Puji‑pujian kepada Allah dan Anak‑Domba akan ada dalam hati kita dan pada bibir kita; karena kesombongan dan pemujaan diri sendiri tidak dapat tumbuh subur dalam jiwa yang senantiasa mengenangkan peristiwa di Golgota.

Ia yang memandang kasih Juruselamat yang tiada taranya akan diangkat derajatnya dalam pikiran, disucikan dalam hati, diubahkan dalam tabiat. Ia akan pergi keluar menjadi suatu terang bagi dunia, memantulkan sedapat‑dapatnya kasih yang gaib ini: Lebih banyak kita merenungkan salib Kristus, lebih sempurna pula kita akan menerima bahasa rasul ketika ia mengatakan, "tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." Gal. 6:14.

 

 

 

 




Cat avatar Avatars


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Computer mania Avatars





>>Surat-menyurat :   hakekathidupku@yahoo.co.id,  newhakekatku@yahoo.co.id, 

                                   Hakekatku_00@yahoo.co.id,   hakekatku_05@yahoo.co.id, 

                                    hakekathidup_h5@yahoo.co.id,

                                    hakekathidupku_nolnol@yahoo.co.id, 

 

>> MilisGroup:   hakekatku_00@yahoogroups.com,  

                             http://groups.yahoo.com/group/hakekatku_00/

 

                             newhakekatku@yahoogroups.com,

                             http://groups.yahoo.com/group/newhakekatku/

 

>>B l o g  :    http://bloghakekatku.blogspot.com

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar