Senin, 13 Agustus 2012

[Media_Nusantara] Pedagang Merasa Ditipu PT Jatim Grha Utama (PT JGU) pengelola Puspa Agro

 


Pedagang Merasa Ditipu PT Jatim Grha Utama (PT JGU) pengelola Puspa Agro


SIDOARJO – Janji PT Jatim Grha Utama (PT JGU) mengembangkan dan membuat ramai Pasar Puspa Agro tak terbukti. Sejak operasional tiga tahun lalu, pasar yang menyedot APBD Jatim hingga Rp 500 miliar tetap sepi. Para pedagang merasa tertipu oleh janji-janji pengelola Pasar Puspa Agro. Sebab, mereka terus merugi karena pasar yang berlokasi di Jemundo, Sidoarjo ini sepi pembeli. Sayangnya, tanggung jawab Erlangga Satriagung selaku direktur utama PT JGU, belum juga kelihatan. Padahal, sudah ditunggu-tunggu oleh pedagang.

Pantauan Surabaya Pagi hingga Senin (13/8) kemarin, Pasar Puspa Agro tetap sepi pembeli. Lapak-lapak juga banyak yang kosong. Dari ribuan stan yang ada, cuma sebagian saja yang ditempati pedagang. Itu pun mereka banyak yang mengeluh karena sepi pembeli. Mereka bahkan berencana akan meninggalkan Puspa Agro bila rencana penarikan retribusi diberlakukan dalam waktu dekat ini.

Winarni (63), pedagang valen di blok K nomer 1 mengungkapkan, dirinya mulai berdagang sejak tahun 2010 silam. Saat itu ia mempunyai 5 lapak atau stan di Puspa Agro. Namun karena keadaan sepi akhirnya 4 lapak ditutup dan diambil alih oleh pengelola Puspa Agro.

"Terpaksa mas saya menutup 4 lapak, karena dalam sehari hanya bisa mendapatkan uang hasil jualan antara Rp 50 hingga Rp 100 saja. Itu belum di potong biaya oprasional', ungkapnya.

Saat ini, lanjut Winarni, dirinya tinggal mempunyai 1 lapak di Blok K 1. Dan ia terpaksa membuka usahanya, karena diancam pengelola Puspa Agro. "Bila tidak sampai buka akan ditutup oleh pengelola Puspa Agro", ujarnya.

Disinggung mengenai akan diberlakuknya retribusi sekitar Rp 15 ribu perhari bagi pedagang yang berjualan, Winarni dengan tegas memilih kabur dan menutup stannya. Alasan dia, retribusi sebesar itu dianggap terlalu tinggi, mengingat pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya oprasionalnya.

"Semua pedagang juga merasakan hal yang sama. Rata rata mereka juga akan meninggalkan pasar Puspa Agro bila retribusi benar-benar diberlakukan setelah lebaran nanti", papar dia. Menurutnya, retribusi itu untuk menutupi pembiayaan operasional pasar, seperti air, listrik dan kebersihan.

Winarni merupakan satu dari beberapa pedagang yang menjadi korban janji-janji muluk pengelola Pasar Puspa Agro. Dalam website milik Pasar Puspa Agro, yakni www.puspagarojatim.com, pengelola pasar Puspa Agro benar-benar obral janji. Dari sini fasilitas, pengelola Pasar Puspa Agro menjanjikan fasilitas yang lengkap. Di antaranya, tersedianya kawasan pergudangan, cold storage dan chiller, gedung pertemuan petani/serba guna, balai lelang, apartemen sederhana, jembatan timbang, perkantoran, restoran dan pujasera, area parkir yang sangat luas dengan kapasitas 1.500 truk, 500 pick up, dan 2.000 rengkek, juga disiapkan komposter yang akan mengolah sampah dari pasar menjadi barang yang lebih bernilai.

"Puspa Agro juga dilengkapi subterminal yang menghubungkan pasar induk ini ke daerah sekitarnya dan daerah lainnya di Jatim. Selain itu, Puspa Agro juga dilengkapi balai kesehatan, masjid yang megah, Pusdiklat untuk petani, area agrowisata yang meliputi kios bunga dan tanaman hias, outbound and camping area, serta lapangan futsal. Agro water park juga akan melengkapi keberadaan Puspa Agro. Di area ini juga disiapkan kawasan khusus wisata agro seluas 12 hektar," sebut pengelola Puspa Agro di websitenya.

Selain itu, pengelola Puspa Agro juga menjanjikan prospek bisnis yang cerah jika berjualan di Puspa Agro. "Pasar Induk Modern Puspa Agro memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai sentra perdagangan agro (agobis), tidak saja di skala lokal dan regional, tetapi berpotensi kuat menjadi barometer perdagangan di kawasan Indonesia Timur. Bahkan, Puspa Agro akan menjadi sarana efektif untuk menembus pasar internasional (ekspor) atau global market. Diperkirakan, potensi transaksi di Puspa Agro mencapai Rp 10 triliun hingga Rp 12 trilun per tahun," janji pengelola Puspa Agro.

Namun, faktanya apa? PT JGU (pengelola Puspa Agro) yang dipimpin Ir. Erlangga Satriagung belum merealisaikan janji-janjinya itu. "Saya tempo hari tak mau jualan jauh-jauh dari Pamekasan. Karena bujuk rayu saja saya sampai di sini (Puspa Agro," ucap Siti Halimah, yang buka stan aneka makanan di Puspa Agro.

Menurut pengakuannya, dia dagang di Puspo Agro dengan harapan dagangannya bisa laku keras. Tapi setelah dijalani dua tahun, tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan, merugi jika dihitung dengan tenaga dan modal. Sementara pengelolanya janji-jani melulu. "Saya sangat kecewa," cetus wanita asal Madura ini.

Pemkab Sidoarjo Kecewa

Tak hanya pedagang yang kecewakan PT JGU, Pemkab Sidoarjo juga merasa tak diuntungkan dengan operasionalnya Puspa Agro di Jemundo. Meski pasar ini di wilayah Sidoarjo, Pemkab tidak mendapatkan profit sharing (bagi hasil) dari pengelolaan Puspa Agro. Malahan Pemkab Sidoarjo hanya menerima ampasnya. Sebab, sampah yang menggunung dibuang di TPA Jabon.

Ini diungkapkan juru bicara Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Sidoarjo, A.Rochim. Kata dia, untuk soal bagi hasil pihaknya tidak tahu. Semuanya dikelola Pemprov Jatim, termasuk kebersihan dan PJU (penerangan jalan umum). "Kita tidak ikut campur tentang pengelolahan kebersihan di pasar Puspa Agro, tetapi untuk sampah pihak pengelola membuang sampah organiknya di TPA Jabon", aku Rochim dikonfirmasi terpisah, Senin(13/8).

Hal senada diungkapkan Sekretaris Dinas Pasar Sidoarjo, Teguh Sarwono. Menurutnya untuk aturan bagi hasil pasar, dirinya mengaku tidak tahu menahu. Ia hanya tahu semua pengelolaan Puspa Agro di tangan Pemprov Jatim. Sedangkan Pemkab Sidoarjo tidak diikutkan.

Sementara itu, M.Agil Efendi, SE dari Komisi B DPRD Sidoarjo, merasa heran dengan tidak adanya perjanjian bagi hasil Puspa Agro dengan Pemkab Sidoarjo. Padahal secara letak wilayah, pasar tersebut berada di Sidoarjo yang seharusnya ada kontribusi untuk Pemkab. "Saya secara langsung belum mendengar adanya bagi hasil, tetapi seharusnya ada kontribusi PAD, karena letaknya berada di Sidoarjo", tutur Agil Efendi.

Dalam waktu dekat, lanjutAgil Efendi, komisi B akan memanggil Bupati Sidoarjo dan meminta agar Pemkab melakukan pertemuan dengan Pemprov Jatim untuk membahas bagi hasil Pasar Puspa Agro. n tim


__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar