Rabu, 22 Agustus 2012

[M_S] Cerita tentang Palestina, Al-Aqsa, dan Israel dgn gaya yang berbeda.

 

Salam,
FYI
Moh Khoiri


Kerinduan dengan Luka di Kaki

Kamis, 23 Agustus 2012
Makkah-Aqsa-Baghdad (2)
''Dari Indonesia,'' jawab saya.
''Muslim?'' tanya tentara Israel bersenjata itu.
''Yes,'' jawab saya.
Kami pun bisa dengan mudah melewati gerbang tua dengan tembok yang tebal
dan kukuh itu. Gerbang yang dijaga tentara Israel bersenjata. Itulah gerbang
masuk ke kawasan yang luasnya sekitar 10 lapangan sepak bola. Yang di
dalamnya terdapat taman dan pepohonan.
Di tengah taman itu terdapat masjid besar berkubah kuning. Itulah Masjid Kubah
Batu. Tidak jauh dari situ, terlihat satu masjid besar lagi: itulah Masjid Al Aqsa.
Tembok yang mengelilingi kawasan itu terlihat tinggi, tebal, dan terkesan sangat
kuno. Dari luar, tembok tersebut tidak terlihat karena tertutup perkampungan
yang padat, yang sampai menempel ke tembok.
Dari arah Kota Jerusalem, untuk mencapai gerbang itu, harus jalan kaki melewati
gang-gang kecil yang sambung-menyambung. Juga naik turun dan berliku-liku.
Itulah perkampungan yang hampir 100 persen penduduknya merupakan warga
Palestina. Tukang cukur, penjual makanan dan mainan anak-anak, serta toko
kelontong terlihat di sepanjang gang itu.
Melewati gang-gang menuju gerbang Baitul Maqdis, saya teringat bagaimana
masuk ke Masjid Ampel Surabaya yang harus melewati kampung Arab yang
padat. Ya mirip itulah.
Bagi penduduk kampung itu, tidak ada larangan apa pun untuk melewati gerbang
tersebut. Mereka memiliki KTP berwarna biru. Mereka bisa salat di Baitul Maqdis
(baik di Masjid Kubah Batu maupun di Masjid Al Aqsa) kapan saja.
Tapi, bagi warga di luar kampung tua tersebut, ada peraturan khusus: yang
berumur kurang dari 40 tahun tidak boleh masuk. Otomatis juga dilarang salat di
sana. Untuk mengontrol mereka, warna KTP-nya dibedakan: hijau. Itu
merupakan dalih Israel untuk mencegah berkumpulnya pejuang Palestina dari
berbagai penjuru di Masjid Al Aqsa.
Ada tujuh gerbang masuk ke kawasan Baitul Maqdis tersebut. Semua terhubung
dengan gang-gang kecil perkampungan padat Palestina. Semua dijaga tentara
Israel bersenjata. Kalau saja lebih terurus, kawasan di dalam tembok tua tersebut
akan sangat indah. Taman-tamannya yang luas dipisahkan jalan-jalan kecil yang
terbuat dari batu. Hanya, kurang rapi dan kurang bersih.
Hari itu, hari ke-28 bulan puasa, saya tiba di sana langsung dari perbatasan
Israel-Jordania. Saya tidak mampir hotel dengan maksud mengejar salat Duhur
berjamaah. Tapi telat.
Tapi, ada hikmahnya. Saya bisa salat Duhur bersama keluarga di Masjid Kubah
Batu. Laki-laki memang hanya diizinkan memasuki Masjid Kubah Batu di antara
waktu duhur dan asar. Masjid Kubah Batu itu istimewa karena ada bukit batu di
tengah-tengahnya. Bukit batu tersebut dikelilingi tembok setinggi 3 meter,
sehingga jamaah di sana seperti berjajar melingkarinya.
Dari atas bukit batu itulah Nabi Muhammad SAW ''naik'' ke Sidratul Muntaha,
menghadap Allah SWT. Yakni, untuk menerima perintah kewajiban menjalankan
salat lima kali sehari. Peristiwa itu terjadi pada malam tanggal 27 Rajab, yang
kemudian tiap tahun diperingati sebagai Isra Mikraj.
Waktu peristiwa Isra Mikraj itu terjadi, tentu belum ada bangunan apa pun di situ.
Masjid Kubah Batu tersebut baru dibangun belakangan. Di bawah bukit batu
tersebut terdapat pula gua yang besarnya cukup untuk bersembunyi 10 orang.
Konon, Nabi Ibrahim yang menggalinya.
Kini masjid Kubah Batu hanya untuk perempuan. Imamnya ikut imam Masjid Al
Aqsa dengan pengeras suara yang dialirkan ke masjid itu. Jarak Masjid Kubah
Batu dengan Masjid Al Aqsa memang hanya sekitar 300 meter. Al Aqsa lebih di
bawah.
Tiga Risiko
Seusai salat Duhur di Masjid Kubah Batu, kami jalan-jalan melihat sisi luar
tembok kuno yang mengelilingi kawasan tersebut. Ada satu kawasan di luar
tembok yang bisa dibebaskan dari perumahan Palestina. Itulah bagian luar
tembok yang kemudian dijadikan tempat ibadah orang Yahudi. Mereka antre
menuju tembok itu, menangis dan meratap di situ.
Sore itu kami salat Asar di Masjid Al Aqsa. Waktu magrib kami ke masjid itu lagi.
Disambung salat Isya dan Tarawih. Tarawih di sana sama dengan di Makkah,
yakni 20 rakaat. Bacaan suratnya pun sangat panjang. Tapi lebih cepat. Bedanya,
di setiap habis dua rakaat diselingi salawat Nabi.
Jamaah Tarawih malam itu sekitar 1.500 orang. Hanya, setiap selesai dua rakaat,
ada saja yang meninggalkan masjid. Selesai rakaat ke-10, tinggal separo masjid
terisi.
Di Al Aqsa, mayoritas jamaah mengenakan celana biasa (banyak bercelana jins
atau celana anak muda setengah kaki). Hanya beberapa orang yang mengenakan
penutup kepala. Menjelang subuh, saya ke Masjid Al Aqsa lagi. Genaplah saya
salat lima waktu di Al Aqsa.
Menjelang matahari terbit, saya duduk-duduk di pelataran masjid. Demikian juga
puluhan anak muda. Udaranya sejuk. Pepohonan besar terasa seperti
mengeluarkan oksigen lebih banyak.
Saat duduk-duduk itulah saya tahu, ternyata cukup banyak anak muda yang ber-
KTP hijau. Kok bisa masuk ke sini? ''Loncat pagar kawat berduri,'' ujar pemuda 27
tahun tersebut.
''Saya melewati lubang yang saya buat di bawah pagar,'' ujar pemuda di
sebelahnya.
''Kalau saya memanfaatkan jarak kawat yang agak renggang yang cukup untuk
badan saya,'' kata seorang pemuda yang ternyata dokter.
Mereka itu adalah pemuda-pemuda Palestina yang sangat merindukan salat di
Masjid Al Aqsa. ''Sejak adanya larangan anak muda datang ke sini, baru sekali ini
saya ke Masjid Al Aqsa,'' ungkapnya.
Al Aqsa tentu sangat istimewa. Itulah infrastruktur pertama yang pernah
dibangun di muka bumi. Yakni, 40 tahun setelah pembangunan Kakbah yang
pertama. Al Aqsa maupun Kakbah sama-sama sudah mengalami berkali-kali
pembangunan kembali. Setelah rusak oleh gempa maupun banjir. Dua-duanya
dipercaya dibangun malaikat sebelum Nabi Adam turun ke bumi.
Keistimewaan Al Aqsa itulah yang membuat para pemuda Palestina tersebut
mengambil risiko yang berat untuk bisa salat malam tanggal 27 Ramadan di
dalamnya. Al Aqsa adalah tempat suci mereka dan ibu kota negara mereka.
Sejak Israel membangun perumahan Yahudi di tanah Palestina, perkampungan
orang Palestina dipagari kawat berduri. Itu dilakukan untuk memisahkan mereka
dari kampung Yahudi.
UUD Israel memang menyebutkan: orang Yahudi dari mana pun yang mau
datang ke tanah Palestina disediakan rumah, mobil, dan keperluan hidupnya.
Sejak itu, perkampungan Yahudi terus dibangun di tanah Palestina. Orang-orang
Palestina sendiri untuk bisa keluar dari kampungnya harus lewat pos penjagaan
ketat. Atau meloncati pagar.
Untuk datang ke Masjid Al Aqsa, misalnya, mereka menempuh tiga risiko.
Pertama, bagaimana bisa keluar kampung dengan meloncat pagar. Kedua,
bagaimana bisa berjalan kaki jauh, naik turun bukit, untuk mencapai Al Aqsa.
Bisa saja di tengah jalan mereka ditangkap. Ketiga, bagaimana dengan KTP hijau
mereka bisa melewati penjagaan tentara bersenjata di gerbang masuk Baitul
Maqdis.
Israel menduduki tanah Palestina sejak 1947/1948. Waktu itu, kawasan tersebut
menjadi jajahan Inggris. Ketika orang Yahudi dimusuhi di mana-mana (terutama
di Jerman dan Rusia), pemerintah Inggris memutuskan untuk memberikan
negara kepada orang Yahudi. Pilihannya dua. Dua-duanya di wilayah jajahan
Inggris: Uganda atau Palestina.
Semula Inggris menentukan Uganda di Afrika. Tapi, Yahudi menolak. Mereka
memilih tanah Palestina. Yahudi percaya Jerusalem adalah tanah leluhur mereka.
Sejak itulah tidak pernah ada ketenteraman di Timur Tengah.
Pemuda yang loncat pagar itu lantas menyingsingkan celananya. ''Lihat ini,''
katanya. Terlihat luka-luka baru masih menyisakan darah yang mulai mengering.
Bekas goresan pagar kawat berduri itu terlihat memanjang sampai dekat
lututnya. (*)

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar