Sabtu, 18 Agustus 2012

[PPI-UTHM] Re: [M_S] Validasi atas pernyataan pseudoscience WH dari Prof. Thomas Djamaluddin

 

AssWW,

Analisis "Makkah Calendar" (apakah terkait dengan Umm al-Qura?, saya tidak tahu) ini sangat menarik, terutama unt saya pribadi. Seperti yg saya jelaskan sebelumnya pada beberapa screencast saya (silahkan googling: "Saksono Academy" atau "Saksono Online Learning Camp") ternyata melihat hilal memang tidak harus di saat maghrib, tapi boleh (atau bahkan harus) juga menjelang subuh di teritori politik lainpun jadi. Ini untuk memastikan bahwa kita telah harus masuk bulan Islam baru. Jangan sampai tidak berpuasa padahal seharusnya telah masuk Ramadan, atau jangan sampai berpuasa di hari yang diharamkan.

"Makkah Calendar" ini memberi terminologi ini sebagai "extended visibility" yang artinya menelusuri terus ke arah barat (meskipun itu masuk dalam teritori asing), yang saat maghribnya bertepatan dengan saat sebelum subuh di Mekah. Silahkan lihat di http://www.makkahcalendar.org/en/eid-al-fitr-2012-is-on-19-August-2012.php

Kota2 yang disarankan unt kondisi Indonesia juga mirip dengan yang saya usulkan dalam screencast di atas, yaitu di kota2 di Amerika Latin. Yang terpenting adalah, dengan mengkonfirmasi melalui pengamatan di kota2 di Amerika Latin ini, reliability rukyah kita menjadi lebih baik. Jika apa yg seperti dilakukan oleh Dept Agama RI sekarang, dengan hanya menyebar perukyat di wilayah Indonesia saja, maka kita telah terperangkap pada terminologi statistik "zero variance" yang sangat berbahaya. Karena reliability rukyah kita sangat rendah (bahkan hampir tak bernilai secara statistik).

Namun tetap saja berlaku ketentuan, jika kita harus melihat hilal, maka selamanya Islam tidak akan pernah memiliki Kalender Islam. Karena, awal harinya telah lewat (maghrib), sementara kita dapat kepastiannya menjelang subuh. Itu memang penting unt ibadah, tapi unt kegiatan muamalah tetap memiliki cacat. Bisnis Islam akan tetap menggunakan Kalender Masehi unt bisnis operasi mereka.

Wassalam,
Tono Saksono




Nah, jika hilal terlihat di titik2 ini

2012/8/17 Amir Udin <ustadz_millennia@yahoo.com>
 

Salam

Amin ya Rabbal-alamin ...

Salam
Amir


From: Agus Purwanto <purwanto_phys@yahoo.com>
To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
Sent: Thursday, August 16, 2012 12:35 PM

Subject: Re: [M_S] Validasi atas pernyataan pseudoscience WH dari Prof. Thomas Djamaluddin

 
perlu waktu dan kesabaran untuk sosialisasi Wujudul Hilal
insya Allah, suatu waktu nanti pak Thomas akan ikut berWujudul Hilal

salam

Agus Purwanto
LaFTiFA ITS
http://purwanto-laftifa.blogspot.com
http://ayatayatsemesta.wordpress.com

--- On Wed, 8/15/12, Tono Saksono <tsaksono@gmail.com> wrote:

From: Tono Saksono <tsaksono@gmail.com>
Subject: Re: [M_S] Validasi atas pernyataan pseudoscience WH dari Prof. Thomas Djamaluddin
To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
Date: Wednesday, August 15, 2012, 4:56 PM

 
Bung Pran,

Saya cuma heran kenapa kita masih menjadikan TDj menjadi referensi. Menurut saya, sudahlah TDj ini jangan dijadikan referensi lagi karena dia telah melakukan beberapa blunder sebagai seorang ilmuwan. Meskipun tidak saya catat kronologinya (urutan statemen yg dibuat yang mana yang duluan), di antara blunder2 tsb adalah:

  1. Dia katakan Ya-Sin 39-40 itu enggak bisa dijadikan acuan karena mana mungkin Matahari dan Bulan berkejar2 an wong keduanya berada dalam orbit yang berbeda. Maksudnya jarak Bumi-Matahari yg 15 juta km, dan Bumi-Bulan yg cuma 350 ribu km. Ini statemen blunder, karena dalam astronomi sudah biasa perhitungan jarak sudut antara benda langit itu dilakukan dg memproyeksikan benda langit tsb pada sebuah bola langit maya dg jari2 infinity. Bukti berikutnya bahwa ini blunder, dia kok menyatakan salah satu syarat imkan-rukyat adalah sudut elongasi antara Matahari-Bulan yang 3 atau 4 derajat. Kalau bukan prinsip bola langit raksasa ini yang dianut, bagaimana dia mengukur sudut elongasi ini? Kok sederhana 3 derajat? Jadi intinya, kalau orang lain yang menginterpretasikan dianggap salah, karena cuma dia yang boleh merefer pada bola langit ini.
  2. Dia mengatakan wujudul hilal itu usang dan sudah ditinggalkan, pseudo science, dll. Kenyataannya, Fiqh Council of North America (FCNA), ISNA, Umm al-Qura University, Badan Riset Islam Eropa (Yusuf Qaradawi), dan banyak lagi organisasi lain menggunakan kriteria wujudul hilal. FCNA bahkan mengadopsi kriteria wujudul hilal itu setelah 13 tahun melakukan riset experimental rukyat dari tahun 1994 sd 2006 (dg menyebar 2000 sukarelawan rukyat setiap bulan). Artinya, orang itu menurut TDj adalah sontoloyo semua? Mengapa organisasi ini tidak menggunakan imkan-rukyat saja? Tentu saja karena imkan-rukay enggak ada dasar syar'i nya. Selain itu, mereka merasa mampu berfikir untuk tidak selalu melakukan isti'mal karena isti'mal itu emergency exit unt orang ummiy. Kenyataanya, justru pengguna imkan-rukyat semakin habis sekarang.
  3. Dia mengeluarkan statemen. Wujudul hilal itu geosentris. Ini semakin menunjukkan bahwa mungkin dia enggak mengerti prinsip2 geodetic astronomy. Dalam geodetic astronomy, perhitungan posisi benda langit itu selalu melibatkan 3 sistem koordinat: Sistem koordinat equatorial (sistem koordinat ascentio recta dan sistem koordinat ekliptika), dan sistem koordinat horizon. Itulah sebabnya perhitunganna dilakukan dalam segitiga bola (spherical triangle). Hasil hitungan akhir posisi benda langit (dalam hal ini Matahari dan Bulan) kemudian diberi koreksi2 sesuai dengan kondisi lokal: dip, refraksi, semi-diameter, parallax, dll. Artinya posisi akhir  Bulan  dan Matahari sudah dihitung terhadap bidang referensi ufuk (shifted topocentric). Mengapa tiba2 dia menyatakan kalau tinggi hilal <2 derajat jadi geosentris? Artinya kalau >2 derajat tetap toposentris? Ini logika kalang kabut. Bagaimana dia tiba2 mengabaikan semua proses transformasi itu menjadi koordinat toposentris? Kok kalo <2 derajat jadi balik lagi geosentris tanpa melalui backward transformation lagi? Bener2 kalang kabut.
  4. Satu2 nya statemen dia yang mungkin betul adalah. Selain dia, kita semua ini adalah ahli astronomi karbitan. Ini memang betul karena dia lah yang selalu memasang "Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika" di semua forum.
Dalam sebuah kuliah subuh (sekali lagi ngaji saya cuma dalam level beginian), ustadz saya mengatakan. Seorang ulama itu harus jauh dari kekuasaan dan jangan terlalu sering sowan ke penguasa, supaya suaranya selalu independen dan selalu memiliki kekuatan moral untuk menasehati umara yang menyimpang dari ajaran kebenaran. Kita belum berada pada level ulama tentu saja, karena kita cuma peneliti, dosen, dll. Tapi nasihat itu memang betul dan berlaku untuk kita2 ini juga. Sebaiknya kita memang menjaga jarak dari umara agar suara kita tetap independen menyuarakan kebenaran ilmiah. Di kampus pun, saya tetap menjaga jarak unt tidak terlalu dekat dg penguasa kampus. Kalo dipanggil rektor, dekan, ya datang untuk menerima tugas. Tapi di luar itu, kita tetap harus memiliki kekuatan moral sebagai ilmuwan yang independen yang tidak dapat diinterfensi oleh kekuasaan apapun.

Sekian, wassalam
Tono Saksono



2012/8/15 pranoto hidaya rusmin <pranotohr@yahoo.com.sg>
 
Berikut ini definisi dari pseudoscience, yg sy ambil dari wikipedia, mohon kalau ada yg  punya definisi lebih tepat, silakan diungkapkan.

Pseudoscience is a claim, belief, or practice which is presented as scientific, but does not adhere to a valid scientific method, lacks supporting evidence or plausibility, cannot be reliably tested, or otherwise lacks scientific status.

Jg sy ambil dari sini, krn akan sangat terkait.

Pseudoscience is based on dogma and uncritical belief; there may be hostility in the fact of counterevidence or disagreement.

Definisi dari sains, sy ambil dari sini

science is "knowledge attained through study or practice," or "knowledge covering general truths of the operation of general laws, esp. as obtained and tested through scientific method [and] concerned with the physical world."

Mohon diperhatikan kalau kita diskusi soal sains, itu terkait dg dunia fisik. Shg, perlu sangat hati2 ketika kita berada dlm ranah agama dan sains dlm diskusi seperti ini. harus dpt mendefinisikan dg jelas, mana definisi2 dari ranah agama, dan mana yg lahir dari ranah sains.

berlanjut........





From: pranoto hidaya rusmin <pranotohr@yahoo.com.sg>
To: "Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com" <Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com>; Thomas Djamaluddin <t_djamal@yahoo.com>
Sent: Wednesday, 15 August 2012, 20:27
Subject: [M_S] Validasi atas pernyataan pseudoscience WH dari Prof. Thomas Djamaluddin

 
Menyambung dari email sebelumnya.
Terima kasih atas apresiasinya.

khusus buat Pak Nugon, kalau dpt memberikan pernyataan2 yg masuk ke dlm materi akan jauh lebih baik, kita semua bakal belajar. sy belum tentu benar kok.
Namun, kalau diajak debat kusir... sy kira kok kurang produktif ya (sy menilai yg diungkap Pak Nugon itu baru pemahaman sepihak sj, krn berupa pemahaman atas pemahaman orang lain, yg Pak Nugon sendiri tidak tahu benar salahnya).

Oleh krn itu, kita coba diskusi dari tulisannya Prof. Thomas berikut ini
(Pak Thomas sy ajak diskusi bersama di milis ini, semoga berkenan memberikan komentarnya scr aktif sbg upaya mempertahankan argumentasinya).


Mari kita cermati dulu hal2 penting yg dinyatakan oleh Pak Thomas, agar kita tdk salah dlm memahami segala yg diungkapkannya.

Juga, kita perlu memahami definisi kebenaran.
Ada baiknya kita memahami dulu kriteria kebenaran berikut ini
1. sebuah pernyataan/pemahaman/pemikiran/informasi disebut benar, kalau tidak ada kontradiksi dlm pernyataan itu sendiri. jika terkait dg pernyataan yg telah diungkap terlebih dahulu, yg sdh dinyatakan benar, maka pernyataan yg berikutnya mesti tidak kontradiksi dg kebenaran sebelumnya. ini yg disebut sbg uji koherensi.
kebenaran akan diperoleh kalau semuanya koheren atau tidak ada kontradiksi.

2. yg kedua, krn pembahasan ini bakal terkait dg sains, berarti terkait dg fakta2 yg ada di alam, yg dpt kita amati bersama, kebenaran kedua perlu dihubungkan dg fakta yg ada. Ini yg disebut kriteria kebenaran sbg kriteris korespondensi. sebuah pernyataan/pemahaman/pemikiran/informasi disebut benar, kalau sesuai dg kenyataan/realitasnya. misal kalau dikatakan mthr mengelilingi bumi (tanpa menyebut siklus semu), ini dikatakan pernyataan yg salah krn kenyataannya bumilah yg mengelilingi mthr.

Mari kita buktikan satu demi satu scr sistematis untuk melatih melakukan validasi atas pernyataan/pemahaman/pemikiran seseorang, dlm kasus ini adl pernyataan Pak Thomas.

Mohon kalau ada yg tidak setuju dg kriteria kebenaran di atas, silakan dikoreksi agar kita dpt punya definisi yg sama soal kebenaran.

Semoga Allah memberikan petunjuk kpd kita semua.


berlanjut..........




--
htt://cis-saksono.blogspot.com





--
htt://cis-saksono.blogspot.com

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar