Kamis, 16 Agustus 2012

Re: Bls: Bls: [M_S] Apa Maksud Wajib utk punya Kalender guna acuan ibadah dan muamalah?

 

Mungkin para ustadz dan moderator menyediakan kajian khusus Manhaj fiqh Muhammadiyah..
Sy kira bisa ada kelas khusus yg difasilitasi oleh salah satu/dua ulama Majelis Tarjih PP Muh, Ust Wawan GAW mungkin bisa...

Selamat minkmati hari2 akhir Ramadhan tahun ini.
Salam
Alim

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: cahyo seftyono <cahyo_seftyono@yahoo.com>
Sender: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
Date: Thu, 16 Aug 2012 16:39:38 +0800 (SGT)
To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com<Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com>
ReplyTo: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
Subject: Re: Bls: Bls: [M_S] Apa Maksud Wajib utk punya Kalender guna acuan ibadah dan muamalah?

 

walaupun ngaku Muhammadiyah dengan mengikuti pemahaman asy ariyah. kalo diliah komen-komennya justru Koh Nugon ini cenderung salafi. tapi salafi yang mana dulu.. hahaha

#salaman
cahyo


From: nugon19 <nugon19@yahoo.com>
To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
Sent: Thursday, August 16, 2012 3:11 PM
Subject: Re: Bls: Bls: [M_S] Apa Maksud Wajib utk punya Kalender guna acuan ibadah dan muamalah?

 
saya ulang lagi taushiyah nya:
> saran saya, Pak Pranoto coba ikut pengajian ushul fiqih.
> dan Qiyas tdk sesempit yg Bapak bayangkan.
Bapak salah paham =)
jadi salah penilaian =)
jadi salah kesimpulan =)

Qiyas itu utk hal yg tdk ada di Al-Quran dan Hadits, pd hal baru....tentunya banyak juga yg terjadi setelah era salafus-sholih.

Qiyas dimudahkan diterjemahkan dgn analogi.
tapi tdk sesimple itu.
saya pun cuma tahu kulitnya.
ulama yg faqih, mujtahid, sangat mahir dlm berqiyas.

link ini sih sedikit ngebantu mengetahui kulit dari qiyas.
http://muhammadzulifan.multiply.com/journal/item/30?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

kalau mau faham mendalam, ya harus ngaji intensif dgn ulama yg kompeten dlm masalah ini.

lagian deduksi induksi pun walau banyak kita lakukan....hasilnya belum selalu tepat.
banyak constraint-nya.
sila di googling saja.
misal di 
http://www.slideshare.net/gueste97040/metode-induksi-dan-permasalahannya
http://id.wikipedia.org/wiki/Logika

Pak Pranoto, banyak hal yg sudah disampaikan baik oleh saya mau pun rekan lainnya.
namun akan bermanfaat apabila direnungkan dgn mata hati, pikiran terbuka.

dan melepaskan diri dari kungkungan obsesi pribadi.
Bapak terlalu terobsesi dgn sains....
terlihat dari terobsesinya dgn kajian hisab rukyat, dan beberapa kali menyatakan jargon: AlQuran , Hadits, Ijma' , Sains.
ini besar pertanggungjawabannya.

masih akan lebih mending Bapak menyatakan induksi dan deduksi bisa dijadikan salah satu metode turunan dlm ber-instinbath, masuk dlm ushul fiqih.
karena bila demikian yg Bapak sampaikan....saya tdk akan berkomentar, selain kurang kompeten, kurang ilmu dlm hal ini, dan pada prakteknya ulama kita ada yg menerapkan teknik yg mirip (Mas Ustadz Wahyudi menerangkan tatkala menyinggung Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyah).

kalau Bapak menyatakan tdk seluruh sains merupakan kebenaran....
maka sains berarti bersifat nisbi. 
maka tdk tepat jadi landasan dlm Ushul Fiqih.
sains itu berkembang, berubah, tdk bersifat mutlak.
dan sains itu hasil kajian hukum alam.

sedang ketentuan hukum syariat tdk dipengaruhi oleh hukum alam.
ini dipelajari dlm ilmu aqidah, ilmu kalam.
ketentuan suatu hukum syariat, dlm kajian, tergantung dari dalil, dari illat.
namun proses verifikasi illat, sangat terbantu dgn hasil kajian hukum alam (sains), terutama yg memang banyak bersinggungan dgn faktor alam. Seperti kasus masalah waktu dlm ibadah (makanya muncul topik hisab), kiblat, Najis, dsb.


saya juga menyampaikan nasehat agar Bapak berhati-hati dlm menulis kalimat...
yg bisa jadi membuat kita tergelincir, dari kacamata aqidah.
besar harapan saya utk Bapak terima dan renungkan.
bukan utk dibahas, apalagi diperdebatkan.
kalau saya benar, kan bermanfaat utk kita semua.
kalau saya salah, tentunya dampak kesalahan itu lebih kpd saya, saya yg menanggungnya.
apa susahnya utk direnungkan? mudah kan?
ndak rugi kok menjalankannya.

ketika saya  baru jadi mualaf, diajarkan bahwa menuntut ilmu itu penting.
dan ada urutan skala prioritas.
yg terpenting adalah yg fardhu ain, yaitu aqidah, fiqih utk ibadah mahdoh...lalu urut ke hal yg dibawahnya, yg fardhu kifayah, sampai terakhir yg sunnah dan mubah.
apa yg saya pelajari sekarang, Insya Allah, berdasarkan petunjuk tsb.
bukan hal yg tdk penting, di luar hal yg bukan-bukan.

dan saya banyak menasehati Bapak, itu berdasarkan ilmu fiqih dan ushul fiqih yg saya pelajari...ilmu yg seluruh ulama menyatakan penting.

dan saya tekankan, sains itu penting, tapi harus ditempatkan sesuai kedudukannya.
ulama faham pentingnya sains, tahu pesannya dari Al-Quran dan Hadits.
terlebih di era keemasan, ulama kita faqih agama, mahir sains, tinggi rasa seni, mendalam kepekaan pengamatan sosialnya.

apalagi ada jaminan dlm hadits bahwa umat tdk akan bersepakat dlm kesesatan.
dan dalam fiqih hadits, yg dimaksud adalah ulama.
masak iya ulama bisa sepakat lalai atau meremehkan sains???
kan tdk.
ulama tahu pentingnya sains, tapi ditempatkan sesuai proporsinya.

ini mungkin potret umat kita yg tdk segemilang di masa lalu.
ada kubu yg ekstrim meninggalkan ayat Kauniyah.
ada kubu yg ekstrim terlalu meninggikan ayat Kauniyah.
yg seharusnya adalah menjadi umatan wasatho...
Ayat Qouliyah adalah berada pd posisi tertinggi, menjadi sumber hukum syariat.
namun juga gigih dlm mengkaji ayat Kauniyah, krn merupakan perintah dari ayat Qouliyah, serta demi menggali hikmah yg makin memperkuat keimanan kpd ayat Qouliyah.

akhirul kalam...
Apabila ada perselisihan, kembalikan kpd Allah dan Rasul-Nya.
Taatilah Allah dan Rasul-Nya, serta ulil amri.
Walloohu a'lam bis-showab.

Wassalam - Nugon

--- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@...> wrote:
>
> Memang kita punya perbedaan sangat mendasar, itu wajar.
>
> Salah satunya adl penggunaan akal, di mana bagi sy ini justru yg mendasar.
> tanpa akal, tdk mungkin ada pemahaman. tanpa pemahaman seluruh amal kita  jadi kurang bernilai.
>
> Salah satu problemnya adl penggunaan metode qiyas, yg memang seharusnya menggunakan induksi deduksi, tapi sy melihat kencenderungan ditarik ke arah analogi. seluruh problem kita mau ditarik ke jaman Nabi dan salafus sholeh, ada analoginya tdk?
>
> Kalau tidak ada di jaman Nabi ya jgn diada-adakan, apalg tidak pernah dilakukan salafus sholeh.pemahaman mesti sama dg pemahaman ulama2 sebelumnya, tanpa mau melakukan validasi kembali.
>
> ini mrp bukti metode analogi yg digunakan.
>
> Sangat berbeda kalau kita menggunakan deduksi induksi. kita perlu mencapai nilai2 dasar yg generik untuk memutuskan suatu perkara, yg masih dlm lingkup hukum yg generik tadi. kapanpun jaman berubah, problem2 baru muncul, tidak perlu khawatir tidak ada contohnya, krn dpt diturunkan dari prinsip2 yg fundamental. 
>
> Ayat2 AQ juga mengarahkan kita untuk mencermati alam, kmd menurunkan metodologi dlm mengambil pemahaman2 dari prinsip2 alam. dg metodologi tsb kita dpt buktikan kebenaran dari prinsip2 alam, yg juga diungkap dlm AQ. Artinya, AQ sendiri mendorong ke arah tsb dan kebenaran yg diperoleh dari sains jg mesti diakui sbg kebenaran dari Tuhan, dg proses yg dilakukan oleh manusia dg indera-akal-qalbunya.
>
> Ketika para ulama tidak memperhatikan kebenaran dari sisi sains, di sinilah akan jadi problem mendasar. agama akan terlepas dari kehidupan manusia, tdk mampu lg menjadi dasar untuk menyelesaikan problem manusia. Menurut sy pemahaman2 Pak Nugon akan mengarah ke arah sini, kalau menafikan kebenaran dari sains, lalu disingkirkan dari syar'i.
>
>
> Sbg catatan, sy tdk menyatakan seluruh sains menyatakan kebenaran. kita mesti melakukan proses validasi yg cukup atas informasi yg ada, shg yakin atas kebenarannya. begitu juga terkait filsafat, metafisika, dan ilmu lainnya.
>
> Soal posisi AQ dan alam semesta, baiknya kita tdk perlu diskusikan, krn Pak Nugon masuk dlm ranah "iman". kalau sy minta bukti, tdk akan mampu Pak Nugon buktikan.
> kalau kita sama2 masuk alam metafisika, dan tahu ruh dari AQ dan alam semesta ini, baru kita dpt diskusikan bersama. sy coba menghindari diskusi yg tdk mungkin dpt dibuktikan pd saat ini.
>
>
> Soal ayat2 AQ, sy kira Pak Nugon cari mefassir lah untuk diskusi.
> dulu Pak Nugon sdh mengungkapkan QS 2:185 sbg dasar RH, sdh sy jelaskan kesalahannya. Dg pemahaman tsb justru mendorong agar yg tdk melihat hilal awal bulan, tidak perlu puasa ramadhan.
>
> Dan hebatnya, itu tdk membuat pemahaman Pak Nugon berubah.
> Jadi, sy kira Pak Nugon lebih baik belajar dulu bgmn mendengar dan menyimpulkan kebenaran sebuah informasi. tidak usah terlalu banyak belajar yg bukan2, yg tidak penting lg. itu sj sdh cukup, insyaAllah bermanfaat banyak.
>
> Semoga itu dipahami ya.
>
> Salam
> Pranoto
>
>
>
>
>
>
> ________________________________
> From: nugon19 nugon19@...
> To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> Sent: Thursday, 16 August 2012, 10:05
> Subject: Re: Bls: Bls: [M_S] Apa Maksud Wajib utk punya Kalender guna acuan ibadah dan muamalah?
>
>
>  
> waduh , dah kasih E-Card lebaran....masak harus balik bahas beginian he he he
>
> saran saya, Pak Pranoto coba ikut pengajian ushul fiqih.
> dan Qiyas tdk sesempit yg Bapak bayangkan.
> coba juga via japri konsultasi, misal dgn Mas Ustadz Wahyudi, soal qiyas ini.
> beliau dulu pernah menjelaskan di milis ini, soal qiyas, induksi deduksi...coba saya tdk sempat search lagi di milis ini.
>


__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar