Senin, 27 Agustus 2012

Re: [M_S] ketika-pengelolaan-zakat-mendapat-gugatan

 

Wa alaikum salam wr. wb.
Terima kasih juga telah menyimak diskusi ini mas Roy. Wah dulu sudah pernah ada diskusi yang serius tho mengenai zakat ini. Kok saya sampai luput tidak menyimak ya :-). Mengenai usul sampeyan bahwa zakat dijadikan salah satu komponen dalam pajak sudah diakomodir dalam UU zakat tsb yaitu di pasal 23. Menurut pasal tsb zakat dijadikan pengurang penghasilan kena pajak. Jadi penghasilan kena pajak dikurangi zakat yang sudah dibayarkan, baru kemudian dipajaki.
Tapi mengenai usulan sampeyan yang lain bahwa yang mengelola zakat (amil zakat) adalah depkeu sendiri, wah sampeyan malah bikin para amil zakat swasta yang sudah ada sekarang jadi makin mencak-mencak :-)). UU zakat yang bersifat kompromistis saja sekarang, yaitu dengan tetap mengakomodir keberadaan amil2 zakat yang sudah ada, dengan syarat tertentu dan mendapat rekomendasi baznas saja ditolak, apalagi dengan usulan sampeyan yang tidak mengakomodir keberadaan amil swasta sama sekali :-))
Kalau menurut saya yang lebh urgen adalah pewajiban membayar zakat bagi muzaki disertai sanksi bagi yang tidak mau membayarnya, namun juga disertai insentif berupa keringanan pajak bagi para muzaki tsb. Ini akan lebih memaksimalkan perolehan zakat. Pewajiban membayar zakat itulah yang belum ada dalam UU tsb. Perlu dijudicial review nih :-)

--- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "Rois" <royfathoni@...> wrote:
>
> Assalaamu'alaikum, wr, wb.
>
> Diskusi yang menarik.
> Terima kasih kepada Cak Noval dll atas update informasi dan opininya.
>
> Saya sepakat dengan salah satu point Cak Noval mengenai enforcement zakat oleh pemerintah. Saya mengusulkan agar zakat dikelola depkeu dan dijadikan salah satu komponen dalam pajak.
>
> http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/32731
>
> Salam,
> Rois
>
> --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "Noval Akt" <noval_akt@> wrote:
> >
> > Wa alaikum salam wr. wb, koh Nugon.
> > Seingat saya kewenangan lebih dari Baznas menurut UU zakat tsb adalah wewenangnya untuk memberi rekomendasi (atau tidak merekomendasi) LAZ2 yang ingin berpartisipasi dalam pengelolaan zakat secara nasional dan juga penunjukan Baznas sebagai koordinator amil zakat di seluruh Indonesia. Selebihnya Baznas tidak punya kewenangan apa2 karena aturan2 yang lain langsung diatur oleh pemerintah menurut UU tsb. Ya silahkan saja kalau pasal2 itu mau dijudicial review ke MK.
> > Yang gak wajar kalau seluruh isi UU zakat tsb dituntut untuk dicabut. Wah ini namanya LAZ2 yang ada gak mau diatur aktivitas mereka dalam mengelola dana publik. Masak gak malu dengan lembaga2 keuangan lain yang dengan sukarela diatur dengan demikian ketat karena mereka sadar bahwa sebagian besar aset yang mereka kelola adalah bukan milik mereka sendiri melainkan milik orang banyak?
> >
> >
> > --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "nugon19" <nugon19@> wrote:
> > >
> > > As Salamu 'alaikum wr. wb.,
> > > saya sangat menikmati diskusi UU Zakat ini.banyak menambah wawasan,
> > > terlebih diskusi antara Mas Noval dan Mas Nanang.terima kasih banyak
> > > atas pencerahan intelektualnya.
> > > diskusi ini, bernuansa Muhammadiyah =)mengapa?karena tdk terjebak pd
> > > diskusi fiqih klasik belaka, melainkan membumi, sesuai dgn konteks
> > > tempat dan waktu saat ini.ciri khas berpikirnya Muhammadiyah - Tajdid yg
> > > kental nuansa Purifikasi dan Dinamisasi =)
> > > hanya saja, berdasarkan ilmu management dan konsep good governance yg
> > > saya pelajari, semestinya harus ada kejelasan pemisahan antara operator
> > > (eksekutif), dgn regulator (legislatif), dan decision maker bila ada
> > > conflict (yudikatif??).
> > > mestinya ada rincian Wewenang Tanggung Jawab yg mudah dipahami,
> > > sistematis, macam RACI Matrix.
> > > dan meniru sertifikasi ISO, sertifikasi di Dunia IT, serta BAN utk dunia
> > > pendidikan....akan lebih elok kalau pemerintah memberdayakan amil zakat
> > > yg sudah ada , dan berfungsi sebagai auditor serta akreditor.
> > > itu sekilas tanggapan dari saya....yg tentunya masih prematur.mohon maaf
> > > bila kurang berkenan.
> > > Walloohu a'lam bis-showab.Wassalam - Nugon
> > >
> > > --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "Noval Akt" <noval_akt@>
> > > wrote:
> > > >
> > > > Mas Nanang,
> > > > Memang tidak hanya zakat alat untuk menanggulangi kemiskinan. Tapi
> > > melihat penggunaannya yang sudah sangat diatur oleh syariat untuk
> > > kalangan terbatas saja, dan ini ditaati oleh UU zakat tsb, maka bisa
> > > dibayangkan betapa efektifnya zakat untuk menanggulangi kemiskinan.
> > > Kalau sumber pendapatan lain penggunaannya bisa sangat luas mulai untuk
> > > menggaji presiden, membangun jalan, membangun gedung megah anggota
> > > dewan, atau untuk membangun gereja atau pura. Tapi kalau zakat hanya
> > > terbatas didistribusikan untuk 8 asnaf itu saja.
> > > > Anda sendiri bilang kalau potensi zakat di Indonesia sebesar 94
> > > triliun sedangkan yang baru dikumpulkan baru sekitar 1 triliun. Jadi
> > > baru 1% kan yang bisa dikelola oleh amil2 zakat yang ada selama ini?
> > > Apakah para amil zakat tsb tidak pernah berpikir untuk bersatu saja,
> > > dengan ditunjang oleh kebijakan pemerintah untuk membuat aturan hukum
> > > yang bersifat memaksa para wajib zakat untuk membayar zakatnya, untuk
> > > mengelola potensi zakat di Indonesia? Bukankah hasilnya juga lumayan
> > > untuk bagian amilnya, hehehe. Bayangkan kalau 94 triliun berhasil
> > > dikumpulkan lalu diambil 12,5%-nya untuk kemudian dibagi secara
> > > proporsional di kalangan amil2 itu, bukankah jauh lebih lumayan daripada
> > > para amil itu bekerja sendiri2 malah dengan beriklan di televisi segala
> > > untuk memperebutkan 1 triliun zakat saja? Kok mau2nya memperebutkan
> > > recehan 1 triliun padahal ada potensi 90 triliun lebih yang masih bisa
> > > digali dengan cara bersatu dibawah koordinasi pemerintah yang punya
> > > power jauh lebih besar. Saya yakin sampai kapan pun kalau para amil itu
> > > gak mau diatur maka hanya akan memperebutkan uang zakat cuma 1-2 triliun
> > > saja. Jadi justeru adanya regulasi zakat yang benar malah akan
> > > menimbulkan win-win solution bagi semua, baik amil zakat lebih2 bagi
> > > mustahik. Angka mendekati 100 triliun bukanlah angka yang main-main
> > > untuk memberantas kemiskinan, baik kemiskinan mustahik maupun kemiskinan
> > > amilnya, hehehe.
> > > >
> > > >
> > > > --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, nqdr@ wrote:
> > > > >
> > > > > Sepakat ust. Noval... Memang, hingga saat ini pengelolaan zakat
> > > belum mampu bersumbangsih dalam upaya pemberantasan kemiskinan secara
> > > maksimal.
> > > > > Namun, tentu tidak fair jika membebankan persoalan kemiskinan
> > > dinegeri ini semata kepada dunia zakat.
> > > > > Zakat hanya salah satu instrument dalam penanggulangan kemiskinan,
> > > masih banyak instrument lain seperti pajak, rampasan perang, bisnis
> > > pemerintah, dll.
> > > > > Dimasa kekhalifahan usman bin abdul aziz, zakatpun hanya dijadikan
> > > sebagai instrumen kesejahteraan sosial.
> > > > >
> > > > > Konon, potensi ziswaf di indonesia setiap tahun sekitar 94 T. Namun
> > > yg berhasil dihimpun oleh lembaga zakat resmi hanya sekitar 1,sekian
> > > Trilyun. Ini artinya:
> > > > > 1. Dg dana tersebut, mampukah dijadikan sandaran utama untuk
> > > memberantas kemiskinan yg besar di Indonesia.
> > > > > 2. Memang perilaku masyarakat dlm menunaikan zakat masih bersifat
> > > tradisional, masih suka menyalurkan dana zakatnya sendiri langsung kpda
> > > sasaran.
> > > > > Namun, hal demikian tdk otomatis menjadi alasan pengelolaan zakat
> > > diambil alih oleh negara, toh peran BAZNAS yg besar selama ini tidak
> > > bisa mengatasi persoalan tersebut diatas.
> > > > > Yang belum pernah dilakukan oleh pemerintah adalah edukasi dan
> > > sosialisasi kpd masyarakat dalam menunaikan zakat secara maksimal.
> > > > >
> > > > > Pengelolaan zakat oleh ormas Islam melalui LAZ yg diakui tidak
> > > otomatis mengkotak-kotakkan umat islam.
> > > > >
> > > > > Saya masih berkeyakinan, tidak mungkin pemerintah via baznas dpt
> > > optimal mengelola zakat jika memainkan peran sebagai pemain sekaligus
> > > wasit.
> > > > >
> > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> > > > >
> > > > > -----Original Message-----
> > > > > From: "Noval Akt" noval_akt@
> > > > > Sender: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > Date: Thu, 23 Aug 2012 10:45:37
> > > > > To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > Reply-To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > Subject: Re: [M_S] ketika-pengelolaan-zakat-mendapat-gugatan
> > > > >
> > > > > Mas Nanang,
> > > > > Apakah peran civil society akan hilang kalau zakat ditangani secara
> > > terkoordinasi oleh Baznas sebagai instrumen pengumpul dan penyalur zakat
> > > yang dibentuk negara? Apakah peran civil society lebih efektif ketika
> > > mengelola zakat secara partikelir? Kalau iya lalu mengapa kemiskinan,
> > > yang menjadi musuh bebuyutan KH. Ahmad Dahlan sampai beliau mencekoki
> > > surat Al Maun kepada murid2nya sampai mereka bosan, masih merajalela di
> > > negeri ini?
> > > > > Jelas ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan zakat di negeri ini
> > > karena zakat masih belum mampu membrantas kemiskinan. Dan beberapa
> > > sesuatu yang salah tsb, yang berhasil saya tangkap adalah:
> > > > > 1. pembayaran zakat sekenanya, karena tidak ada daya paksa untuk
> > > membayar zakat.
> > > > > 2. pengelolaan sekenanya, karena tidak ada standar kompetensi khusus
> > > untuk menjadi amil zakat. Bandingkan dengan pelaku perbankan atau
> > > perpajakan yang sangat ketat standar kompetensi yang diterapkan.
> > > > > 3. pendistribusian sekenanya, karena tidak berbasis data yang
> > > komprehensif mengenai siapa2 yang memerlukan zakat dengan segera,
> > > kelompok asnaf yang mana, dll.
> > > > > 4. pengelolaan secara partikelir akan memandang umat Islam secara
> > > terkotak-kotak. Amil zakat Muhammadiyah akan menarik dan menyalurkan
> > > zakat hanya di kalangan Muhammadiyah. Begitu pula dengan amil zakat NU
> > > dll. Belum lagi amil zakat bentukan partai politik, malah lebih rawan
> > > lagi disalahgunakan untuk kepentingan politik. Maka dampak positif amil
> > > zakat bentukan negara (Baznas) akan meleburkan semua itu, akan memandang
> > > umat Islam sebagai umat yang satu yang patut ditangani secara bersama.
> > > > >
> > > > > Noval
> > > > >
> > > > > --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, nqdr@ wrote:
> > > > > >
> > > > > > Ust. Noval...
> > > > > > Menurut saya, peran pemerintah lebih ditekankan pada regulasi dan
> > > Pengawasan saja.
> > > > > > Mengingat tradisi perzakatan di indonesia letah berkembang pesat
> > > sejak negara Indonesia ini belum ada.
> > > > > >
> > > > > > Sebagai warga Muhammadiyah, kita bisa melihat sekian banyak amal
> > > sosial muhammadiyah seperti pendidikan, rumah sakit, sarana ibadah,
> > > panti sosial yg dibiayai dari zakat (baca: ziswaf), dan bahkan diera
> > > modern ini, di Muhammadiyah, zakat telah dikembangkan untuk membiayai
> > > program pertanian, lingkungan, ekonomi masyarakat dan lain sebagainya.
> > > > > >
> > > > > > Apakah, pemerintah dg segala kekuasaan yg dimiliki dapat
> > > melakukan hal demikian? Sebuah pertanyaan yg masih patut diajukan.
> > > > > >
> > > > > > Maka, menurut saya, alangkah baiknya pengelolaan zakat lebih
> > > ditujukan sebagai upaya mendorong civil society untuk melakukan
> > > transformasi sosial.
> > > > > > Dan peran pemerintah hanya sebatas wasit untuk mengatur dan
> > > mengawasi pengelolaan zakat oleh publik.
> > > > > >
> > > > > > Pemerintah dg segala instrument kekuasaanya juga dapat berperan
> > > agar umat islam dapat menunaikan zakat melalui program2 sosialisasi dan
> > > edukasi dan bahkan melalui kebijakan insentif bagi muzaki. Semisal untuk
> > > mengurangi pajak (kebijakan sekarang, zakat bisa dijadikan sebagai
> > > pengurang beban kena pajak).
> > > > > >
> > > > > > Pemerintah juga bisa membuat kebijakan melarang penyaluran zakat
> > > secara perorangan, namun harus disalurkan kepada lembaga resmi yg telah
> > > diakui oleh pemerintah. Ini kan juga kan salah satu fungsi pemerintah
> > > sebagai kekuatan pemaksa.
> > > > > >
> > > > > > Untungnya, Pemerintah melalui UU tahun 2011 ini masih mengakui
> > > eksistensi LAZ oleh ormas Islam.
> > > > > > Tapi semangat UU ini memang mengkuatirkan bagi pertumbuhan civil
> > > society.
> > > > > > Mungkin karena takut akan protes ormas, pemerintah masih mengakui
> > > LAZ berbasis ormas, namun sebatas diposisikan sebagai pembantu BAZNAS.
> > > Sungguh tragis.
> > > > > >
> > > > > > Wassalam
> > > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> > > > > >
> > > > > > -----Original Message-----
> > > > > > From: "Noval Akt" <noval_akt@>
> > > > > > Sender: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > > Date: Thu, 23 Aug 2012 07:31:02
> > > > > > To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > > Reply-To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > > Subject: Re: [M_S] ketika-pengelolaan-zakat-mendapat-gugatan
> > > > > >
> > > > > > Pak Isran,
> > > > > > Wajar kalau UU zakat ini masih mengandung kelemahan di sana-sini.
> > > Namanya juga UU baru di bidang perzakatan :-). UU perbankan dalam
> > > sejarahnya juga mengalami perkembangan dari masa ke masa. Jadi no
> > > problem dan malah harus kalau UU zakat ini terus dikritisi supaya bisa
> > > menjadi lebih baik bagi semuanya.
> > > > > > Yang saya kurang sepakat kalau ada semangat menegasikan zakat
> > > dalam sistem perundangan nasional sehingga kembali ke zaman kuno supaya
> > > zakat dikelola sekenanya, padahal Allah sendiri serius menjadikan zakat
> > > sebagai salah satu pilar Islam dan pelaksanaannya diperintahkan secara
> > > profesional (adanya amil, manajemen tersendiri secara serius dan
> > > profesional) dan untuk itu diperbolehkan mengambil bagian dari zakat
> > > untuk keperluan operasional amil/manajemen zakat supaya
> > > sustainabilitynya terjaga.
> > > > > > Adanya ide pemaksaan zakat tidak dapat diterapkan di Indonesia
> > > karena Indonesia bukan negara agama (Islam) juga terlalu jauh karena
> > > bukan-negara-Islamnya-Indonesia adalah hasil dari intrik2 politik yang
> > > kurang fair yang menimpa umat Islam Indonesia. Ingat orang terakhir
> > > mempertahankan Islamnya negara Indonesia (yang sebelumnya sudah
> > > disepakati bersama) adalah Ki Bagus Hadikusumo dan beliau dijanjikan hal
> > > itu akan terlaksana kalau keadaan sudah kondusif.
> > > > > > Jadi menurut saya Muhammadiyah harus mendorong dan mendukung penuh
> > > diundangkannya zakat tentu dengan perbaikan di sana-sini. Hitung-hitung
> > > juga melaksanakan cita-cita Ki Bagus Hadikusumo secara bertahap. Saya
> > > akan termasuk sebagai warga Muhammadiyah yang kecewa kalau Muhammadiyah
> > > justeru akan mendiscourage keberadaan UU zakat dan mengembalikan
> > > pengelolaan zakat secara partikelir yang justeru akan dijadikan alat
> > > politik atau bisnis oleh pihak2 yang akan menunggangi wajibnya ibadah
> > > zakat ini.
> > > > > >
> > > > > >
> > > > > > --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, Isran Ramli
> > > <muhisran@> wrote:
> > > > > > >
> > > > > > > Mas Noval ..nyambung yg kemarin.....
> > > > > > >
> > > > > > > Pasal 5 ayat 3: BAZNAS
> > > > > > > sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga pemerintah
> > > nonstruktural
> > > > > > > yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden
> > > melalui Menteri.
> > > > > > >
> > > > > > > Saya memahaminya: Baznas adalah lembaga pemerintah, jadi klo
> > > Baznas berfungsi sbg operator...berarti Pemerintah juga sbg Operator.
> > > > > > > Dipasal yg dikutip kemarin, dinaytakan juga bahwa Pemerintah
> > > mengawasi/Memonitoring BAZNAS.........., artinya Pemerintah juga sbg
> > > Pengawas.
> > > > > > >
> > > > > > > Hal2 ttg Juknis dari UU Zakat akan diatur dalam PP, artinya
> > > Pemerintah juga bertindak sbg Regulator....
> > > > > > >
> > > > > > > Jadi memang ketiga aspek itu....ada pada Pemerintah........yg
> > > termasuk BAZNAS di dalamnya.
> > > > > > >
> > > > > > > Ironinya...konfigurasi hubungan tupoksi BAZNAS dan LAZ
> > > (khususnya bagi LAZ yg sdh terakui oleh Pemerintah) tdk diperjelas dlm
> > > UU ini.
> > > > > > > Sehingga ada kesan LAZ hanya sub ordinasi dari BAZNAS dlm hal
> > > kerja2 di lapangan, sedangkan dalam hal...pembiayaan operasional
> > > kelembagaannya BAZNAS berumber dari 2 (APBN (disebutkan dalam pasalx,
> > > dan jatah zakat) sedangkan LAZ hanya dihidupi dari porsizakat yg
> > > dikumpulkannya.
> > > > > > >
> > > > > > > Meskipun klo diselami lbh dalam penjelsn pasal2 yg ada dlm UU
> > > baru tsb, model tupoksi UU lama masih ada meski tersirat.
> > > > > > > Ala..kulli hal...., tetap saja nuansa ketidak adilan tsb
> > > muncul.........kok sama2 bisa mengumpulkan, menyalurkan, dan mendaya
> > > gunakan zakat, tapi yg satu dibiayai dari 2 sumber yg satunya dari 1
> > > sumber. Belum lagi LAZ hars melaporkan aktivitas ke BAZNAS........
> > > > > > > Ini mungkin yg juga menjadi maslah tersendiri.
> > > > > > >
> > > > > > > Klo kita mencermati illat perubahan UU Zakat ini lbh jauh,
> > > nuansax...agar supaya Pengelolaan Zakat bisa jadi lebih Optimal lagi
> > > dibanding hanya mengandalkan UU Zakat yg lama. Bila demiian kok tdk ada
> > > unsur pemaksaan pembayaran zakat di UU ini??sebgmn Mas Noval sampaikan
> > > di email terlampir. Harusnya kan ada kalo mau orang dipaksa bayar zakat/
> > > Analoginya harus sama dan sebangun dg UU Pajak.
> > > > > > >
> > > > > > > Mengenai landasan pemungutan zakat yg "di tafsirkan hrs ada
> > > lembaga pemaksa" (dlm hal ini negara misalnya), Bagaimana bisa itu dapat
> > > diimplemetasikan di Indonesia yg bukan negara agama. Ada 2 hal yg
> > > krusial disini,
> > > > > > > Pertama...dlm hal penarikan pajak saja...negara belum mampu
> > > melakukan pemaksaan scr terang benderang dan merata serta adil, apalagi
> > > bila mau melakukan hal yg sama pada penarikan zakat yg notabene sebagian
> > > kaum muslim di Indonesia memahami penarikan zakat....itu masih mirip2
> > > konsep sadaqah dan infaq. Sehingga masih diperlukan kerja keras utk
> > > perubahan sikap dan pola pikir dari para wajib zakat.
> > > > > > > Kedua..., tidak tersentuhnya para wajib zakat dlm UU Zakat yg
> > > baru ini, yg diutak2 justru....lembaga pemungut zakatx (BAZNAS, LAZ
> > > terakui, maupun LAZ belum terakui), bahkan kelompok ketiga diancam
> > > hukuman pidana.... (Itulah mungkin slh satu sebabx mereka menggugat di
> > > MK).
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > > ________________________________
> > > > > > > From: Noval Akt <noval_akt@>
> > > > > > > To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > > > Sent: Thursday, August 23, 2012 1:53 PM
> > > > > > > Subject: Re: [M_S] ketika-pengelolaan-zakat-mendapat-gugatan
> > > > > > >
> > > > > > >
> > > > > > > Â
> > > > > > > "Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan
> > > menyucikan (jiwa) mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya,
> > > doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha
> > > Mendengar, Maha Mengetahui." (Qs. at-Taubah/9: 103).
> > > > > > >
> > > > > > > Kalau dilihat dari ayatnya, memang idealnya zakat itu dikelola
> > > oleh negara, yang berhak memaksa rakyatnya untuk melakukan atau tidak
> > > melakukan sesuatu. Di ayat tsb jelas ada unsur pemaksaan di situ
> > > (ambillah) supaya mengumpulkan zakat dari kaum Muslimin yang sudah wajib
> > > mengeluarkan zakatnya. Jadi pengeluaran zakat itu bukanlah bersifat
> > > sukarela tergantung si Muslim mau mengeluarkan atau tidak. Yang sukarela
> > > itu namanya shodaqoh. Kalau zakat, sebagai bagian dari pilar penegak
> > > Islam (Rukun Islam) adalah wajib dilaksanakan sebagaimana rukun Islam
> > > yang lain secara disiplin. Masak untuk rukun Islam yang lain kaum
> > > Muslimin disiplin melaksanakannya tapi untuk zakat secara sukarela?
> > > > > > > Maka disinilah perlunya peran negara untuk mendisiplinkan
> > > rakyatnya untuk membayar zakat. Unsur pemaksaan/pendisiplinan ini yang
> > > gak bisa dilakukan oleh ormas sehingga kalau zakat ditangani ormas malah
> > > keluar biaya2 yang mestinya gak perlu seperti biaya iklan di tivi yang
> > > tentunya tidak sedikit. Nah dalam hal pemaksaan terhadap warga inilah UU
> > > zakat itu masih mengandung kelemahan karena tidak ada satu pasal pun
> > > dalam UU tsb yang berisi memaksa warga untuk membayar zakat. Dalam
> > > ketentuan umum memang sudah didefinisikan mengenai muzaki:
> > > > > > >
> > > > > > > 5. Muzaki adalah seorang muslim atau badan usaha
> > > > > > > yang berkewajiban menunaikan zakat.
> > > > > > >
> > > > > > > Tapi di pasal2 selanjutnya tidak dijelaskan apa sanksinya jika
> > > muzaki tidak membayar zakatnya. Yang diatur adalah sanksi bagi
> > > penyelenggara zakat yang melanggar ketentuan2 yang diatur dalam UU zakat
> > > tsb.
> > > > > > >
> > > > > > > Mungkin ini bisa jadi judicial review yang lain ke MK dari UU
> > > zakat tsb, di samping judicial review yang sudah dilakukan oleh lembaga2
> > > zakat terkait dengan posisi dan eksistensi mereka dalam UU zakat tsb.
> > > > > > >
> > > > > > > --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, nqdr@ wrote:
> > > > > > > >
> > > > > > > > Saya melihat apa yg dilakukan oleh tmn2 LAZ tidak memulu pada
> > > persoalan periuk.
> > > > > > > > Coba kita baca secara lengkap UU tersebut. Dimana dg UU baru
> > > ini, LAZ yg diakui hanyalah LAZ yg berbasis ormas Islam.
> > > > > > > > Maka dg UU ini, dompet dhuafa, rumahzakatN PKPU dll yg
> > > berlegal yayasan otomatis tidak boleh peroperasi. Walau masih dikasih
> > > waktu 5 tahun tuk penyesuaian.
> > > > > > > > Kalau kita mendengarkan "jeritan hati" mereka, kita akan
> > > memaklumi. Lha bangunan yg sudah puluhan tahun dibangun dan
> > > dikembangkan, dg sekali ketukan palu semua akan runtuh. Ini lebih pada
> > > persoalan eksistensi.
> > > > > > > >
> > > > > > > > Saya lupa detail pasalnya, namun keberadaan LAZ berbasis ormas
> > > seperti LAZISMU, LAZISNU dll hanya berfungsi sebagai pembantu
> > > operasional baznas dalam penghimpunan zakat. Mereka akan bertanggung
> > > jawab pada baznas.
> > > > > > > > Disinilah peran besar BAzNas yg menjadi wasit sekaligus pemain
> > > sebagimana yg saya maksud. Menjadi regulator dan pengawas bagi LAZ.
> > > > > > > >
> > > > > > > > Nah, diskusinya sekarang adalah apakah pengelolaan zakat harus
> > > diserahkan kpd pemerintah atau memberi ruang civil society tuk
> > > berpartisipasi dlm pengelolaan zakat. UU ini, lebih mengarah kepada yg
> > > pertama, zakat dikelola oleh negara.
> > > > > > > >
> > > > > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> > > > > > > >
> > > > > > > > -----Original Message-----
> > > > > > > > From: "Noval Akt" <noval_akt@>
> > > > > > > > Sender: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > > > > Date: Wed, 22 Aug 2012 02:48:47
> > > > > > > > To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > > > > Reply-To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> > > > > > > > Subject: Re: [M_S] ketika-pengelolaan-zakat-mendapat-gugatan
> > > > > > > >
> > > > > > > > Ya sudah pastilah Baznas juga akan mengambil hak keamilannya
> > > dari zakat yang dikumpulkan. Makanya para penyelenggara zakat swasta
> > > jadi mencak2 karena khawatir jatah mereka jadi berkurang hehehe. Inilah
> > > yang dipersoalkan oleh Heru Susetyo pengacara para lembaga zakat itu
> > > kan, sebagaimana berita yang pak Isran forward itu?
> > > > > > > > Yang jelas jangan sampai kepentingan mustahik yang lebih luas
> > > dan lebih membutuhkan zakat seperti fakir miskin, anak yatim dll jadi
> > > tersandera oleh kisruh antar amil zakat sendiri terkait dengan UU zakat
> > > ini.
> > > > > > > >
> > >
> >
>

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar