Kamis, 20 September 2012

[forumpembaca-kompas] Trs: [hakekathidupku_nolnol] Bls: [hakekathidupku] Re: Dear Pak Putra - Kerjasama Dengan Sesama Manusia Dengan Berbagai Ragam & Latar Belakangnya

 



 

Pak Elisa, mohon anda jawab, sebagai pertanggungjawaban pernyataan anda bahwa kita tidak boleh mempersalahkan agama orang lain. Apakah itu berarti penginjilan diberhentikan? Kalau tidak salah undang-undangnya dari pemerintah kita ada, yaitu larangan menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama. Dan peraturan itu terpaksa harus saya langgar dengan segala konsekwensinya. Jadi, saya: Rudyanto, adalah PELANGGAR HUKUM. Apakah itu yang hendak anda katakan?

Apakah umat Islam tidak boleh mendakwahkan agamanya dan umat Kristen tidak boleh memberitakan Injilnya, sehingga kloplah dengan ayat Al Qur'an: "Agamamu agamamu, agamaku agamaku."

Atau penginjilan perlu dibalut dengan seminar kesehatan, misalnya? HARAP ANDA JAWAB SEPERTI APA YANG ANDA INGINKAN SUPAYA SAYA TAHU SIAPA SEBENARNYA ANDA. DARI SANA BARU SAYA BISA MENENTUKAN SIKAP SAYA TERHADAP ANDA; PERLU DIDENGARKAN ATAU HARUS SAYA ABAIKAN. 

Mudah-mudahan pak Elisa cukup bertanggungjawab dengan semua ucapannya.


Cat avatar Avatars



xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

 

Computer mania Avatars




>>Surat-menyurat :   hakekathidupku@yahoo.co.id,  newhakekatku@yahoo.co.id, 

                                   Hakekatku_00@yahoo.co.id,   hakekatku_05@yahoo.co.id, 

                                    hakekathidup_h5@yahoo.co.id,

                                    hakekathidupku_nolnol@yahoo.co.id, 

 

>> MilisGroup:   hakekatku_00@yahoogroups.com,  

                             http://groups.yahoo.com/group/hakekatku_00/

 

                             newhakekatku@yahoogroups.com,

                             http://groups.yahoo.com/group/newhakekatku/

 

>>B l o g  :    http://bloghakekatku.blogspot.com



--- Pada Rab, 19/9/12, Elisa Sagala <elisasagala@ymail.com> menulis:

Dari: Elisa Sagala <elisasagala@ymail.com>
Judul: [hakekathidupku] Re: Dear Pak Putra - Kerjasama Dengan Sesama Manusia Dengan Berbagai Ragam & Latar Belakangnya
Kepada: "sangfajar_a8@yahoogroups.com" <sangfajar_a8@yahoogroups.com>, "Hakekatku_00@yahoogroups.com" <Hakekatku_00@yahoogroups.com>
Cc: "hakekatku_05@yahoogroups.com" <hakekatku_05@yahoogroups.com>, "hakekathidup_h5@yahoogroups.com" <hakekathidup_h5@yahoogroups.com>, "hakekathidupku_nolnol@yahoogroups.com" <hakekathidupku_nolnol@yahoogroups.com>, "hakekathidupku@yahoogroups.com" <hakekathidupku@yahoogroups.com>, "newhakekatku@yahoogroups.com" <newhakekatku@yahoogroups.com>, "hakekatku_muda@yahoogroups.com" <hakekatku_muda@yahoogroups.com>, "kabarmukutunggu@yahoogroups.com" <kabarmukutunggu@yahoogroups.com>, "hakekatkusayap@yahoogroups.com" <hakekatkusayap@yahoogroups.com>, "beritadinanti@yahoogroups.com" <beritadinanti@yahoogroups.com>, "remifamifare@yahoogroups.com" <remifamifare@yahoogroups.com>, "mumetkon@yahoogroups.com" <mumetkon@yahoogroups.com>, "saulpaulus_belima@yahoogroups.com" <saulpaulus_belima@yahoogroups.com>, "beritamoedinantie@yahoogroups.com" <beritamoedinantie@yahoogroups.com>, "minggumei@yahoogroups.com" <minggumei@yahoogroups.com>, "diskusipemilu@yahoogroups.com" <diskusipemilu@yahoogroups.com>, "kepalaemas@yahoogroups.com" <kepalaemas@yahoogroups.com>, "telupitumahadewa@yahoogroups.com" <telupitumahadewa@yahoogroups.com>, "pelitahatiku@yahoogroups.com" <pelitahatiku@yahoogroups.com>, "beritadinanti_bd@yahoogroups.com" <beritadinanti_bd@yahoogroups.com>, "mahadewaenem@yahoogroups.com" <mahadewaenem@yahoogroups.com>, "terangdunia_hkk@yahoogroups.com" <terangdunia_hkk@yahoogroups.com>, "hakekathidupku_nolsatu@yahoogroups.com" <hakekathidupku_nolsatu@yahoogroups.com>, "beritahidup_gg@yahoogroups.com" <beritahidup_gg@yahoogroups.com>, "menyingkaptabir@yahoogroups.com" <menyingkaptabir@yahoogroups.com>, "aneagel@yahoo.com" <aneagel@yahoo.com>, "info@food4spirit.com" <info@food4spirit.com>, "samanam@indosat.net.id" <samanam@indosat.net.id>, "wiwinda_pw@yahoo.com" <wiwinda_pw@yahoo.com>, "yanpratam@yahoo.com" <yanpratam@yahoo.com>, "yovita.wijaya@gmail.com" <yovita.wijaya@gmail.com>, "xfebeszonscreetx@gmail.com" <xfebeszonscreetx@gmail.com>, "bisnis@yahoogroups.com" <bisnis@yahoogroups.com>
Tanggal: Rabu, 19 September, 2012, 10:43 PM

 

Dear Pak Putra,

Salam kenal ya Pak.

Terima kasih atas postingan ini, bagus.
Setuju dengan banyak hal dari apa yang sudah Bapak sampaikan.
Agama bukan untuk diperdebatkan.
Agama itu untuk dihidupkan, menjadi karakter atau sifat.
Agama itu seharusnya menuntun atau mengajar manusia menggali hakekat hidupnya, yaitu selaras dengan Sang Penciptanya.

Pak Putra, ada sedikit yang menggelitik bagi saya saat membaca kalimat "Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah." dan tentunya sebaliknya. Menurut saya, inilah sikap atau penilaian yang membuat bangsa ini terpecah belah (hasil akhir sikap itu). Dengan penilaian ini (menilai orang lain salah atau mempersalahkan) akan berkembang sikap menghakimi dan selanjutnya menghukum. Dan sering tanpa komunikasi yang baik karena emosi dan amarah sudah bergejolak.

Saran saya bagi yang mau...
Mari kita buang sikap mempersalahkan atau menilai orang lain salah. Itu adalah sikap Setan sejak awal dosa ada. Dia mempersalahkan sifat dan kepemimpinan TUHAN. Jangalah kita ikuti beliau... Kita serahkan salah dan benar itu yang berwajib, toh sudah ada aturannya.

Sebenarnya hidup ini sederhana, sangat sederhana.
Ilustrasi :
Dalam suatu kesempatan, Amir memukul kepala Amar hingga memar. Pastinya Amar akan kesakitan. Bila Amar seorang manusia sejati, dia tidak akan membalas tapi hanya akan berkata kira-kira seperti ini :

Amir, apa yang kamu lakukan itu menyakitkan bagi saya, lihat nih berbekas...benjol, mungkin berhari-hari baru hilang. Namun saya berterima kasih ya karena dengan sikapmu tadi saya bisa mengerti arti mengasihi sesama.

Kalau Amar segera membalas mengetok kepala Amir, dipastikan akan terjadi perkelahian seru. Namun karena sikap Amar sangat positif, saya yakin Amir tidak akan mengulangi hal yang sama. Dia akan geleng-geleng kepala dan bertanya mengapa ada manusia sebaik Amar di zaman ini. Dia akan belajar bagaimana bisa bersikap seluhur Amar.

Jadilah personafikasi kasih ALLAH dimanapun kita berada.

Selamat pagi...
 
Elisa Sagala
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!





From: putra wardana <pwardana2000@yahoo.com>
To: berita_nusantara@yahoogroups.com; buku-islam@yahoogroups.com; cikeas@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, September 19, 2012 11:29 PM
Subject: [beritahidup_gg] Kerjasama Dengan Sesama Manusia Dengan Berbagai Ragam & Latar Belakangnya

Kerjasama Dengan Sesama Manusia Dengan Berbagai Ragam & Latar Belakangnya
(Emha Ainun Nadjib: Toko Dalam Toko Kelontong)


Dalam forum Maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul
melingkar,sering saya bertanya kepada forum:

"Apakah anda punya
tetangga?". Dijawab serentak "Tentu punya"
"Punya istri enggak tetangga Anda?" "Ya, punya doooong"
"Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?"

"Secara khusus, tak pernah melihat "
"Jari-jari kakinya lima atau tujuh? "

"Tidak pernah memperhatikan"
"Body-nya sexy enggak?" Hadirin tertawa lepas.

Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka: "Sexy atau tidak bukan
urusan kita, kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah
kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja". Keyakinan
keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah
diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih
unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa
istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan
didalam hati. Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah.

Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau
meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga,
bagi orang Islam, agama lain itu salah. Justru berdasar itulah maka ia
menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja
didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan
seminar atau pertengkaran. Biarlah setiap orang memilih istri
sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk
menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa
istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak
dan tidak pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi
agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada
keyakinannya.

Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos,
silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar
istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju
misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko
tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama
bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt
bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.

Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga Berbagai parpol, golongan,
aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha
perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi
masing-masing. Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung
membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi
bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya
Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Jangankan kerja sama dengan sesama
manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama
nyingkal
dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dengan hati. Itulah Maiyah.
Wasallam.

(Emha Ainun Nadjib)

Sumber:
http://pangeran-kalijaga.blogspot.com/2011/03/emha-ainun-toko-dalam-toko-kelontong.html

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar