Selasa, 04 September 2012

[babadbali] Kisah ular yang katanya tak bisa mati

 

Om Swastyastu
Perlu kiranya membuka postingan lama, kisah ular yang tak bisa mati
kecuali luka atau dibunuh
Om shanty 3 om

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Hindu&id=88605

"Mitologi Alang-Alang Sebagai Rumput Suci"
Oleh: I Made Murdiasa, S.Ag

Om Swasti astu

Alang-alang sebagai rumput dianggap suci yang banyak dipergunakan dalam
pelaksanaan upacara yaitu sebagai sarana atau alat misalkan saja dalam
upacara pawintenan, alang-alang dipergunakan untuk membuat
karawista/sirawista, pada setiap proses persembahyangan alang-alang juga
digunakan untuk ngetisang/menyipratkan tirtha yang disebut dengan
sesirat. Hal ini terkait dengan cerita Sang Garuda dalam Adi Parwa yaitu
dikisahkan Bhagawan Kasyapa mempunyai dua orang istri yaitu Sang Kadru
dan Sang Winata. Bhagawan Kasyapa menawarkan kepada kedua istrinya,
berapa jumlah anak yang diinginkannya. Sang Kadru meminta 100 anak
sedangkan Sang Winata minta 2 anak. Bhagawan Kasyapa kemudian memberikan
100 telur kepada Sang Kadru dan 2 telur pada Sang Winata, setelah telur
Sang Kadru menetas lahirlah 100 ekor ular. Melihat Sang Kadru sudah
melahirkan anak-anaknya, Sang Winata ingin secepatnya pula punya anak
maka dengan tidak sabar dipecahlah sebutir dari telurnya, maka lahirlah
Sang Aruna
yaitu seekor burung yang belum sempurna bentuk tubuhnya karena belum
punya kaki. Suatu ketika Sang Kadru bertemu dengan Sang Winata, dan
mereka membicarakan tentang rupa bulu kuda Ucchaisrawa yang keluar pada
saat pengadukan lautan air susu oleh para dewa dan raksasa untuk
memperoleh Tirtha Amerta. Sang Kadru menebak warna hitam dan Sang Winata
menebak warna putih. Mereka masing-masing kukuh mempertahankan
pendiriannya, dan akhirnya mereka bertaruh. "siapapun yang kalah akan
menjadi budak dari yang menang" setelah itu Sang Kadru lalu pulang
dengan mengabarkan hal ikhwal taruhan itu kepada anak-anaknya.

"Wah Ibu pasti kalah, karena warna kuda itu betul-betul putih mulus"
kata ular-ular itu. "kalau demikian anakku berbuatlah sesuatu agar Ibu
tidak kalah sehingga menjadi budak Sang Winata. Besok Ibu akan datang
bersama Sang Winata ketempat kuda itu untuk menyaksikan kebenaran kuda
itu". Maka ular-ular itu pun memenuhi permintaan Ibunya, lalu semuanya
menuju ketempat kuda itu berada. Mereka semua lalu menyemburkan bisa
(wisa)-nya ketubuh si kuda, sehingga warna bulu kuda berubah dari putih
menjadi hitam semua karena pengaruh dari bisa ular itu. Esok harinya
ketika Sang Winata dan Sang Kadru datang, mereka menyaksikan warna kuda
Ucchaisrawa itu betul-betul hitam, maka kalahlah Sang Winata. Sejak saat
itu Sang Winata menjadi budak Sang Kadru, menjaga dan mengantarkan
ular-ular itu mencari makanan setiap hari dari pagi dan sore hari baru
pulang.

Sementara itu Sang Garuda pun lahir dengan tubuh yang sempurna. Setelah
beberapa lama kemudian Sang Garuda merasa heran melihat Ibunya pergi
pagi pulang sore, hingga timbul keinginan tahuan Sang Garuda dan
akhirnya ia menanyakan kepada Ibunya.

" Ibu mengapa Ibu pergi pagi pulang sore, apa pekerjaan Ibu ?" Tanya
Sang Garuda.

"Ibu jadi budak para naga, saban hari kerja Ibu adalah mengembalakan
ular-ular yang nakal, pergi kesana kemari sekehendaknya" jawab Sang
Winata.

"mengapa Ibu menjadi budaknya ?" Tanya Sang Garuda.

"karena Ibu kalah taruhan dengan Sang Kadru mengenai warna kuda
Ucchaisrawa" kata Sang Winata. "kalau demikian biarlah saya saja
menggantikan Ibu mengembalakan ular", demikian permintaan Sang Garuda
yang kemudian diluluskan oleh Ibunya.

Lamalah sudah Sang Garuda menjadi budak dari para naga, akhirnya ia
menjadi bosan. Ia pun lalu menanyakan kepada naga apakah ada cara
sebagai pengganti atau penebusannya, agar dia bisa bebas dari
perbudakan. Setelah lama berpikir para naga pun sepakat akan membebaskan
Sang Garuda dari perbudakan kalau bisa mencarikan Tirtha Amerta untuk
mereka. Konon barang siapa yang dapat minum Amerta itu akan bisa bebas
dari kematian. Dengan demikian para naga beranggapan tidak perlu lagi
ada penjaga seperti Sang Garuda, karena tidak ada yang menyebabkan
mereka bisa mati kalau sudah minum Tirtha Amerta.

Sang Garuda pergi ke Surga untuk mencari Tirtha Amerta, sehingga ia
berhadapan dengan para Dewa yang menjaga Tirtha Amerta itu. Dewata Nawa
Sanga dikalahkan semua dan para Dewa pun mohon bantuan kepada Bhatara
Wisnu. Perang antara Dewa Wisnu dengan Sang Garuda terjadi cukup lama,
akhirnya Bhatara Wisnu menanyakan mengapa Sang Garuda sampai melakukan
hal itu dan untuk apa dia mencari Amerta. Setelah Sang Garuda
menjelaskan tujuannya mencari Amerta adalah untuk membebaskan dirinya
dan Ibunya dari perbudakan para naga maka Bhatara Wisnu berkenan
memberikan Tirtha Amerta itu, dengan syarat Sang Garuda bersedia menjadi
kendaraan Dewa Wisnu. Sang Garuda menyetujui dan Tiretha Amerta pun
diserahkan oleh Dewa Wisnu dengan syarat "barang siapa yang akan
meminumnya hendaknya bersuci-suci terlebih dahulu, kalau tidak demikian
maka Tirtha Amerta tidak akan Sidhi atau bermanfaat".

Sang Garuda segera menyerahkan Tirtha Amerta itu kepada para naga dengan
segala persyaratannya. Para naga setelah menerimanya, mereka berlomba
dan saling mendahului pergi mandi dan menyucikan diri, karena takut
tidak kebagian sehingga Tirtha itu ditinggalkan begitu saja ditengah
rumput alang-alang. Mengetahui hal itu maka Bhatara Wisnu pun mengambil
kembali Tirha itu dengan segera sehingga Tirtha Amerta terciprat di daun
alang-alang tersebut, dan membawanya ke Surga. Dengan kecewa akhirnya
para naga menjilati alang-alang itu, karena daunnya yang tajam sehingga
menyebabkan lidah para naga itu terbelah.

Dari cerita ini pulalah bermula sehingga daun alang-alang dianggap suci,
karena terkena percikan Tirtha Amerta (air keabadian).

Om Santih Santih Santih Om

==========

__._,_.___
Recent Activity:
Untuk menghentikan keanggotaan, mohon kirimkan email kosong kepada:
babadbali-unsubscribe@yahoogroups.com

.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Posting Komentar