Sabtu, 15 September 2012

Catatan Netters Re: [M_S] Validitas QS 36:39-40 sebagai dasar WH

 

saya sangat terkesan dan menikmati sekali diskusi yg ada di Milis Muhammadiyah Society ini. berbobot, dan mengesankan.


sulit dicari tandingannya atau dicari padanannya dgn milis-milis yg lain, terutama milis yg saya mengikutinya secara aktif. salut utk Muhammadiyah dan milis Muhammadiyah Society.

utk Mas Fami, rasanya tidak tepat menulis statement seperti berikut: "Alquran sbg produk budaya". Karena ijma' Ulama, Al-Quran adalah Kalamullah.

namun dalam kajian tafsir, Al-Quran menyebutkan bahwa Al-Quran diturunkan dgn bhs kaum dari Nabi, dan diturunkan umumnya dlm konteks bahasa dan pemahaman yg secara garis besar mudah dipahami oleh umat khususnya di era turunnya wahyu.

ini juga diperkuat sendiri oleh Al-Quran, tatkala menjawab pertanyaan mengapa Al-Quran tidak diturunkan seketika, melainkan diturunkan bertahap, beberapa ayat sekali turun...salah satu hikmah dan tujuannya agar lebih tertanam dalam hati, lebih mudah diingat.

jadi wajar sekali tafsir Al-Quran dipahami dgn kondisi pd masa tsb.
apalagi ini diperkuat oleh kajian Asbabun-Nuzul.

hanya saja, perlu disadari, Al-Quran Kalamullah, dari Allah Sang Maha Mengetahui. Al-Quran diturunkan dgn Ilmu-Nya. Ilmu Sang Maha Pencipta, Pencipta Alam Semesta.

Sehingga gaya bahasanya selain sesuai dgn konteks pd masa turunnya wahyu...juga bersifat lentur menembus batas waktu. kadang kala berbicara dgn gaya bahasa yg bertepatan dgn pemahaman yg sedang berkembang di era di mana si pendengar/pembaca Al-Quran berada.

ini termasuk beberapa ayat sangat akrab atau mirip dgn kajian ilmiah, perkembangan sains. ini wajar, karena Al-Quran dari Allah, Pencipta Alam semesta. sehingga wajar kalau gaya bahasanya kok "click" dengan yg sedang menjadi fenomena, menjadi pemikiran orang yg mengkaji sains.

ini terjadi misal pd gaya bahasa di beberapa ayat pd surat An-Nuur, yg mirip atau terlihat ada korelasi dgn kajian spektrum cahaya. atau beberapa ayat yg jadi salah satu best topik kajian Maurice Bucaille, yaitu masalah kandungan/janin manusia. 

atau juga bagi peneliti geologi, yg takjub membaca ayat yg menyatakan gunung bergerak seperti awan bergerak.

Al-Quran bukan kitab sains, melainkan petunjuk/pedoman hidup.
tetapi sangat wajar dlm menanamkan iman, Al-Quran memberikan hikmah melalui gaya bahasa yg lentur, yg bisa akrab dgn siapa pun, kapan pun, termasuk dgn era sekarang ini yg akrab dgn sains.

Inilah kelebihan Al-Quran.
inilah mukjizat Al-Quran.
bukan Al-Quran sebagai kitab sains.
tetapi gaya bahasa Al-Quran yg lentur, sehingga bisa menggelitik atau terasa akrab bagi pemerhati sains.

jadi..setelah ngalor-ngidul, kembali ke pesan utama saya.
jangan menulis "Alquran sbg produk budaya".
melainkan cari kalimat yg lebih tepat dan bijak.
misalnya "Al-Quran secara default, umumnya berbicara dgn gaya bahasa yg dipahami oleh konteks umat/kaum pd masa diturunkannya wahyu/ayat tsb. Sehingga wajar memakai kalimat pergantian siang-malam utk menerangkan fenomena bumi yang berotasi, karena manusia pd saat tsb belum sampai pd tahap pemikiran yg canggih sehingga bisa menyimpulkan bahwa siang-malam terjadi karena efek rotasi bumi".

Demikian dari saya.
mohon maaf bila kurang berkenan.
Walloohu a'lam bis-showab.
Wassalam - Nugon

--- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "Fami Fachrudin" <masfami@...> wrote:
>
> Dear Pak Pranoto,
>
> Dalam kaitan Alquran sbg produk budaya, "pengetahuan" yang digunakan tentu yang sesuai dengan perkembangan budaya yang ada pada saat itu.
>
> Saat itu belum ada pengetahuan manusia tentang bumi yang berotasi, maka digunakanlah kalimat-kalimat pergantian malam-siang.
>
> Penggunaan "urjun al-qadim" termasuk bagian dari "pengetahuan" manusia saat itu berkaitan dengan budaya penanggalan yang ada, di mana "urjun al-qadim" menjadi penanda akan habisnya 1 siklus bulan.
>
> "Hilal" pun termasuk bagian dari "pengetahuan" manusia saat itu berkaitan dengan budaya penanggalan yang ada. Para era Babylonia kriteria hisab mencapai +13 untuk memastikan bahwa hilal sudah bisa dilihat.
>
> Kembali ke pertanyaan Pak Pran "apa susahnya Allah menyebut rotasi secara eksplisit", tentu saja jawabnya tidak susah. Tetapi, jika hal itu terjadi akan membuat alquran sebagai kitab pembingung bukan kitab penerang.
>
> Kenapa tidak sekalian saja Allah menjelaskan dalam alquran adanya galaksi-galaksi, baik jumlah maupun luasnya, yang ada di jagat raya ini instead of menjelaskan 1 hari di langit setara 50.000 tahun di bumi?
>
> Kenapa pula alquran hanya membagi jagat raya hanya dengan samaawat (langit) dan ardh (bumi)?
>
> Itu semua tidak dilakukan karena alquran sebagai produk budaya akan berbicara sejalan dengan pengetahuan masyarakatnya yang ada pada saat itu.
>
> :D
>
>
> Sent from my Heart®
> powered by Peace and Tranquility
>
> -----Original Message-----
> From: Pranoto Hidaya Rusmin pranotohr@...
> Sender: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> Date: Sat, 15 Sep 2012 13:55:44
> To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.comMuhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> Reply-To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> Subject: Re: Catatan Netters Re: [M_S] Validitas QS 36:39-40 sebagai dasar WH
>
> Menurut sy, memang kalau dilihat dari sisi apa dibalik itu?
> ya tdk salah.
> Misal disimpulkan bahwa memasuknya siang kedalam malam dan masukkan malam kedalam siang = me-rotasi-kan Bumi.
>
> Satu ketidaktepatan adl ayat tsb menyatakan scr eksplisit siang & malam yg selalu berganti.
> Bukan menyatakan bumi yg selalu berotasi.
>
>
> Lho kalau memang yg dituju adl rotasi bumi, apa susahnya Allah swt menyebutkannya scr eksplisit?
>
>
> Kalau dikatakan mengapa terjadi fenomena memasuknya siang kedalam malam dan masukkan malam kedalam siang ?  krn bumi berotasi, itu jawaban tepat.
>
> Tapi, kalau ditanya AL Hajj 61 mengungkapkan apa? dijawab bumi berotasi, ya jadi salah.
> Di mana di Al Hajj 61 scr eksplisit disebut bumi berotasi?
>
> Inilah nanti yg membedakan, apakah kita sdg menafsirkan ayat2 AQ dg bantuan sains, ataukah kita dg tdk sadarsedang menggantikan ayat2 AQ dg sains?
>
>
> salam
>
>
>
>
> ________________________________
> From: Fami Fachrudin masfami@...
> To: Milis Muhammadiyah Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> Sent: Saturday, 15 September 2012, 12:35
> Subject: Re: Catatan Netters Re: [M_S] Validitas QS 36:39-40 sebagai dasar WH
>
>
>  
> Saya kira apa yang ditangkap pak Khoiri tidak keliru. Pergantian siang-malam kan simply soal cahaya yang masuk ke penampang bumi. Saat ini Jakarta siang karena sedang terkena sinar matahari, di belahan bumi lainnya sedang malam karena tidak terkena sinar matahari.
>
> Kita semua tahu, sinar matahari pada waktu "t" hanya menyinari 1/2 luasan bola dunia. 1/2 yang terkena sinar itu bentangannya adalah pagi dan sore pada ujung penampang yang berbeda. Peristiwa ini terjadi sepanjang masa karena tidak ada benda langit yang menghalangi jatuhnya cahaya dari matahari ke bumi. Sesekali terhalang bulan sehingga cahaya matahari tidak sepenuhnya masuk ke bumi di siang hari.
>
> Kemungkinan pergeseran cahaya itu, secara sederhana bisa dibayangkan, hanya dimungkinkan oleh 2 sebab: 1) sumber cahaya yang bergerak mengelilingi jika diasumsikan bola dunia statis, atau 2) bola dunia yang berputar jika sumber cahaya diasumsikan statis.
>
>
> Sent from my Heart®
> powered by Peace and Tranquility
> ________________________________
>
> From: Mohamad Khoiri mkhoiri@...
> Sender: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> Date: Fri, 14 Sep 2012 21:46:50 -0700 (PDT)
> To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.comMuhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> ReplyTo: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
> Subject: Catatan Netters Re: [M_S] Validitas QS 36:39-40 sebagai dasar WH
>
> Maaf, sebagai peng-hobby astronomy, bolehkah saya meng-interpretasikan seperti ini?
>
> 1. Tentang "Kami tanggalkan siang dari malam itu" : ﴾ Yaa Siin:37 ﴿
> Bukankah pada dasarnya, ruang alam semesta ini berada dalam gelap?
>
> Kalau kita tengok langit malam hari, saat langit sedang cerah, maka terlihat total luasan titik2 cahaya bintang2 (matahari2) mungkin tidak sampai 1% bila dibandingkan dengan total luas gelapnya langit.
> Jadi 'default'nya alam semesta adalah dalam keadaan gelap.
> Kita yang tinggal di Bumi merasa rasio Siang (terang) dan Malam (gelap) adalah fifty-fifty itu karena adanya sinar Matahari yang menyorot dan akhirnya menempel Bumi, dan itu karena Bumi relatif dekat dengan Matahari.
> Jadi terangnya Bumi karena adanya cahaya Matahari yang 'ditimpakan'.
>
> Kalau cahaya Matahari tersebut 'ditanggalkan', maka kembalilah kita serta merta dalam keadaan kegelapan (yaitu keadaan asal di alam semesta).
>
> 2. Tentang "memasukkan siang kedalam malam dan masukkan malam kedalam siang" : ﴾ Al Hajj:61 ﴿, ﴾ Luqman:29 ﴿, ﴾ Faathir:13 ﴿, ﴾ Al Hadiid:6 ﴿, ﴾ Ali Imran:27 ﴿
> Kalau kita meninjaunya dari satu titik tempat, katakanlan Yogyakarta, maka peristiwa masuknya siang kedalam malam dan masuknya malam kedalam siang akan diartikan sebagai peristiwa pagi hari dan peristiwa sore hari menjelang Magrib.
>
> Dimana peristiwa tersebut terasa tidak terjadi bersamaan, dan berjarak 12 jam diantara keduanya.
> Namun sesungguhnya peristiwa tersebut selalu terjadi bersama2 setiap saat (selalu berpasangan) kalau kita melihat Bumi sebagai Makhluk tunggal.
> Saat saya mengetik email ini, siang sedang masuk kedalam malam di Eropa Timur dan malam sedang masuk kedalam siang di kepualauan Pasifik.
> Jadi memasuknya siang kedalam malam dan masukkan malam kedalam siang = me-rotasi-kan Bumi.
>
> Salam,
> Moh Khoiri
>

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar