Rabu, 05 September 2012

[inti-net] Ambon Stroke

 

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=39365

SELASA, 04 September 2012 | 117 Hits

Ambon Stroke
Oleh :A. Bandjar, Dosen FMIPA, Unpatti

Kota Ambon sebentar lagi akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke 437. Banyak sudah keberhasilan yang telah dicapai kota yang berjulukan Manise ini.

Paling tidak ada beberapa keberhasilan yang menonjol ,diantaranya pertama; Pemkot Ambon berhasil mendapatkan penghargaan Kalpataru, sebagai salah satu kota bersih di Indonesia. Penghargaan ini merupakan kado bagi semua warga kota yang telah berhasil menjaga kebersihan. Ambon terlihat dari hari ke hari tampak semakin bersih dan apik, suatu keberhasilan yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan.

Keberhasilan ini tentunya tak lepas dari kerja keras "Pasukan kuning" ( petugas sampah) yang berkerja setiap hari dari pagi sampai petang tampa mengenal lelah dan peran Pemkot dengan programnya "jumpa Berlian"; program yang strategis untuk mengajak warga kota berpartisipasi membersihkan kota. Kedua; Ambon berhasil menduduki peringkat 6 secara Nasional dari 400-an Kabupaten/Kota di Indonesia dalam Index Pembangunan Manusia (IPM). Suatu prestasi yang membanggakan dari Pemkot dalam urusan kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Di bidang kesehatan indicator IPM menggambarkan angka harapan hidup, dibidang pendidikan menggambarkan lamanya sekolah dan angka melek huruf warga serta di bidang ekonomi menggambarkan kemampuan daya beli masyarakat. Keberhasilan ini perlu diapresiasi karena suatu pencapaian yang luar biasa ditengah berbagai problem yang muncul pasca konflik social yang melanda Maluku. Ketiga; Keberhasilan dalam pelaksanaan MTQ Nasional.

Kegiatan keagamaan ini berhasil dan pelaksanaannya di puji berbagai pihak karena kegiatan ini di "support" oleh semua komponen masyarakat. Keberhasilan yang mencerminkan kerjasama orang basudara yang memang tertanam kuat dalam kesehariannya. Namun dibalik keberhasilan, masih banyak problem kota Ambon yang belum terselesaikan bahkan mungkin akan semakin kompleks dikemudian hari bilamana tidak sesegera mungkin ditangani. Salah satunya adalah masalah kemacetan.

Ambon Menuju Stroke
Sebagai warga kota, kita semua tentunya sepakat bahwa dari hari ke hari,kota Ambon terasa semakin sesak. Jumlah penduduk yang terus meningkat ditambah dengan meningkatnya jumlah kendaraan pribadi menyebabkan jalan –jalan terasa sangat sesak di saat jam-jam kerja.

Ironisnya bertambahnya kendaraan pribadi (motor dan mobil) tidak diikuti dengan perluasan jalan.Tak heran kemacetan terjadi dimana-mana.Karena jalan ibarat urat nadi darah. Sama halnya seperti manusia, jika aliran darah tersumbat, orang akan mengalami stroke.

Karena itu, Ambon juga dapat diibaratkan sedang menuju ke sakit stroke. Anehnya kebijakan Pemkot bukannya mengobati penyakit stroke yang sedang diderita malah sebaliknya penyumbatan hampir terjadi di semua bagian urat nadi sehingga kemacetan hampir terjadi merata di semua jalan di dalam kota. Pengembangan Kota terasa tidak dilakukan secara komprehensif, namun hanya berhenti pada tataran konsep komoditas. Karena itu tak heran, pembangunan kota Ambon terkesan diprioritaskan hanya pada bangunan-bangunan komersial, seperti Mal-Mal, Hotel, Ruko dan mungkin sebentar lagi Rumah Sakit bertaraf Internasional.

Bangunan-bangunan komersil tersebut tentunya dibuat menarik, akibatnya banyak warga kota akan tertarik kesana dan selanjutnya kemacetan menjadi pemandangan keseharian kita di sekitar lokasi tersebut. Dalam perancangan kota, pengembang semestinya mempunyai kewajiban untuk membangun berbagai fasilitas termasuk jalan dan tempat parkir. Namun di Ambon, Pengembang sering hanya memanfaatkan sarana yang sudah ada yang telah dibangun oleh Pemerintah termasuk jalan. Banyak ruas jalan disekitar lokasi kemudian digunakan sebagai tempat parkir kendaraan, selanjutnya antrian panjang kemacetan terlihat menuju dan keluar lokasi bangunan komersil.

Kemacetan panjang tidak hanya akan menyulitkan warga kota untuk beraktivitas, namun selanjutnya gas buang dari kendaraan bermotor dapat menurunkan kualitas kesehatan warga kota. Akibatnya banyak warga kota yang memilih tinggal di daerah pinggiran. Namun karena perencanaan yang lemah, dan system transportasi public yang tidak memadai menyebabkan banyak warga kota memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi menuju ke kantor, sekolah dan lainnya. Akibatnya jumlah kendaraan terus bertambah, menambah panjang antrian akibat kemacetan di jalan. Gencarnya pembangunan gedung-gedung komersil di kota Ambon dengan berbagai alasan seperti ;investasi, meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) dan penyerapan tenaga kerja menyebabkan pemkot lupa untuk mengurusi dan menyiapkan ruang-ruang komunal untuk masyarakat umum berinteraksi satu dengan lainnya. Dampak selanjutnya dari gempuran pasar bebas tersebut ditambah kurangnya keberpihakan pemkot mengakibatkan tergusurnya pedagang-pedagang tradisional satu demi satu. Siapa lagi yang kemudian dapat membantu mereka ?

Pekerjaan Rumah

Usia kota Ambon bukanlah usia yang muda. Besarnya tingkat pertumbuhan penduduk ditambah dengan sempitnya lahan untuk pemukiman dan pembangunan jalan memerlukan suatu perencanaan kota yang baik. Karenanya perluasan jalan menjadi pembatas untuk memperlancar kemacetan. Kemacetan di Kota Ambon harus diurai dan menjadi tugas besar pemkot ke depan. Kemacetan ini ibarat penyakit stroke, menurunkan produktivitas warga kota, menurunkan kualitas hidup masyarakat akibat gas buang kendaraan dan secara ekonomis menyebabkan pemborosan bahan bakar. Ambon ke depan semestinya bebas dari kemacetan, dan hal itu hanya bisa jika : pertama; Pemkot, mampu untuk meredam dan mengurangi tingkat pertumbuhan transportasi pribadi.

Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pajak kepemilikan kendaraan bermotor dan meningkatkan pungutan parkir sambil terus memperbaiki system angkutan umum massal.

System perpakiran perlu terus diperbaiki ; baik tempat maupun waktu parkir. Lokasi-lokasi komersil perlu diwajibkan memiliki tempat parkir sendiri untuk mencegah penggunaan badan jalan untuk parkir kendaraan . Kedua; Pemkot perlu mengatur dan berkordinasi dengan berbagai pihak untuk penyebaran waktu kerja atau jam sekolah agar pada jam sibuk ("peak hours") dapat disebar sehingga kemacetan dapat dihindari.

Ketiga; Pemkot perlu mengendalikan pusat-pusat pertumbuhan baru di kawasan pinggiran agar pengembangan kawasan pinggiran terutama untuk pemukiman perlu dilengkapi dengan sarana lain seperti tempat ibadah, tempat belanja, tempat rekreasi, sekolah dan fasilitas lainnya agar masyarakat tidak terangsang untuk bepergian ke pusat kota. Keempat; Pemkot perlu mengatur agar setiap pengembang wajib menyediakan lahan pengembang utuk fasilitas social/fasilitas umum. Akhirnya sudah saatnya Ambon memiliki konsep pembangunan kota yang mampu meredam pertumbuhan kendaraan. Jika demikian Ambon akan terhindar dari "penyakit stroke". Ambon kedepan akan menjadi sehat dan manise, Ayo mari benahi Ambon, Selamat Ulang Tahun !. (*)

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar