Rabu, 12 September 2012

[M_S] Re: "Ta'rif syar'i / Definisi astronomis Hilal"

 

Terima kasih Prof. Tono atas penjelasannya mengenai hilal dalam pemahaman Prof. Tono.

Tampaknya benar pemahaman saya bhw Prof. Tono masih memaknai hilal sebagai "bulan sabit" atau "crescent".

Referensi Prof. Tono tentang foto hilal yang "sangat muda" oleh Elsessar dan Legault menegaskan bahwa Prof. Tono masih mengartikan hilal sebagai "bulan yang tampak dari bumi sebagai bulan sabit".

Kalau memang demikian, mengapa yang di-highlight atau yang ditekankan Prof. Tono hanya "umur bulan" saja? Bukankah di samping umur bulan masih ada parameter lain yang menjadi syarat "terwujudnya hilal" seperti jarak elongasi bulan dan matahari?

Misalnya, dalam kasus gerhana matahari. Sefaham saya, saat ijtima' atau konjungsi adalah saat di mana titik pusat matahari dan titik pusat rembulan berada dalam titik yang sejajar dalam bujur ekliptika. Ketika tidak terjadi gerhana, bulan dan matahari mengalami konjungsi tetapi keduanya tidak berimpit; terpisah dengan jarak tertentu yang bervariasi. Jika jaraknya cukup jauh, katakanlah diatas 6 atau 7 derajat, maka pada saat konjungsi pun bisa jadi citra hilal sudah bisa teramati. Akan tetapi kalau terjadi gerhana matahari, sefaham saya mustahil terbentuk hilal sesaat setelah konjungsi, sebab waktu itu bulan dan matahari masih berimpit dan belum "terpisah".

Nah, parameter "minimum elongation" ini harus pula dimasukkan di dalam syarat perlu (necessary condition) "wujudnya hilal" (dalam terminologi Prof. Tono; bukan dalam terminologi WH-nya Muhammadiyah).

Begitukah ?

Salam,
Rois

--- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, Tono Saksono <tsaksono@...> wrote:
>
> Waalaykum salam Bung Rois and others,
>
>
>
> Terus terang, saya menghindari kalau ditanya definisi sesuatu termasuk
> definisi hilal, karena takut kalau saya tidak lengkap menyusun definisi tsb
> dan kemudian menjadi backfire.
>
>
>
> Sederhananya, menurut saya, hilal=crescent (Inggris).
>
>
>
> Secara teknologis, Martin Elsasser (Jerman,
> http://www.mondatlas.de/other/martinel/sicheln2008/mai/mosi20080505.html)
> dan Thierry Legault (Perancis,
> http://legault.perso.sfr.fr/new_moon_2010april14.html) telah membuktikan
> bahwa hanya sekitar 45 menit setelah konjungsi, hilal itu sudah terbentuk
> (wujud). Dg teknologi yg semakin canggih, saya yakin 45 menit inipun
> semakin mengecil karena imaging technology (optik dan optoelectronic,
> hardware filtering, dll) dan image processing technique (software
> filtering, image enhancement) juga terus berkembang semakin canggih, maka
> mungkin dalam 3-4 tahun ke depan, bahkan 20 menit setelah konjungsi juga
> hilal telah dapat terdeteksi kehadirannya.
>
>
>
> Namun agar kehadiran hilal ini memenuhi syarat menjadi tanda yang syah
> untuk awal bulan qomariyah, maka dua syarat harus dipenuhi yang ditafsirkan
> dari Ya-Sin: 38-40, yaitu:
>
>
>
> 1. Konjungsi terjadi sebelum maghrib
> 2. Setelah konjungsi, Matahari tenggelam lebih dulu daripada Bulan
> tenggelam.
>
> Dua peristiwa 1 Ramadan dan 1 Syawal 1433H lalu sebetulnya dapat menjadi
> contoh yang sangat jelas unt pendefinisian awal bulan qomariyah. Tapi, saya
> menganalisisnya untuk 1 Syawal 1433H, baru kemudian 1 Ramadan 1433H.
>
>
>
>
>
> *1 Syawal 1433H*
>
>
>
> Pada 17 Agustus 2012, konjungsi (geosentris) terjadi pada jam 23:11 waktu
> lokal Jakarta. Jadi sebetulnya , secara teknologis, pada jam 23:56 (waktu
> Jakarta) hilal sudah terbentuk (wujud) dan dapat diditeksi (Elsasser dan
> Legault). Jadi pada pagi hari sekitar jam 6:18 (Jakarta), hilal sebetulnya
> telah cukup besar (0.3%) berada di wilayah Timur horizon Jakarta. Ini
> berarti, sekitar 2 jam sebelumnya pada sebelum subuh 18 Agustus 2012 lalu,
> hilal sebetulnya sudah cukup besar juga. Namun, 2 syarat syahnya awal bulan
> qomariyah yang ditafsirkan dari Ya Sin: 38-40 di atas dua2 nya tidak
> terpenuhi.
>
>
>
> - Konjungsi terjadi setelah maghrib 17 Agustus 2012.
> - Matahari tenggelam mendahului Bulan juga tidak terpenuhi
>
>
> Pada maghrib 17 Agustus 2012 lalu, Bulan telah terbenam (jam 17:35) sekitar
> 20 menit lebih awal dari Matahari terbenam (jam 17:55). Ini berarti,
> Matahari belum mampu mengejar Bulan seperti yang dipersyaratkan Ya Sin: 40.
> Syarat Matahari tenggelam mendahului Bulan tenggelam baru akan terpenuhi
> pada maghrib 18 Agustus 2012 keesokan harinya, karena pada tanggal tersebut
> Matahari tenggelam pada jam 17:55, dan Bulan baru tenggelam pada jam 18:26.
> Time-lag sebesar 31 menit ini ekivalen dengan tinggi hilal sebesar 7.6
> derajat. Itulah sebabnya, pada 1 Syawal 1433 H lalu, tidak terdapat
> perbedaan antara pendukung WH dan IR.
>
>
>
>
>
> *1 Ramadan 1433H*
>
>
>
> Pada tanggal 19 Juli 2012, konjungsi terjadi pada jam 11:24 (Jakarta),
> sehingga dengan referensi pencapaian teknologis Elsasser dan Legault, maka
> sebetulnya hilal telah terbentuk (wujud) pada jam 12:09 (waktu Jakarta).
> Selanjutnya, pada 19 Juli 2012 itu, Matahari tenggelam jam 17:54 (waktu
> Jakarta) sedangkan Bulan tenggelam pada jam 18:02 (Jakarta).
>
>
>
> Dengan demikian, dua persyaratan menurut Ya Sin: 38-40 di atas sebetulnya
> telah terpenuhi. Yang jadi persoalan, Departemen Agama RI menganggap bahwa
> dengan time-lag yang hanya 8 menit (ekivalen dengan ketinggian hilal yang
> hanya 1.9 derajat), hilal dianggap tidak mungkin dapat dilihat. Maka, umat
> Islam kemudian diminta untuk menganggap hari itu masih 30 Sya'ban. Ini
> problem besarnya. Bagi kami penganut wujudul hilal, ini tidak dapat
> diterima. Karena hilal telah wujud bahkan sejak jam 12:09 (Jakarta) pada 19
> Juli tersebut. Bisa dibayangkan bahwa pada menjelang subuh 20 Juli 2012,
> hilal telah jauh lebih besar (meskipun tetap tidak kelihatan).
>
>
>
> Jadi untuk kami, kalau memang pemerintah tidak mau mengakui 20 Juli lalu
> sebagai 1 Ramadan 1433H, hendaklah juga jangan memaksa kami untuk menerima
> hari itu masih 30 Sya'ban. Kalau pemerintah (termasuk Pak Thomas) tidak mau
> berpuasa pada 20 Juli lalu karena belum mampu melihat hilal, ya silahkan
> saja karena itu urusan meraka. Namun, kalau kami dihimbau, didesak atau
> dipaksa sekalipun dengan mengatasnamakan sebagai otoritas, kami tetap
> berpuasa pada 20 Juli lalu karena hilal telah wujud bahkan sejak jam 12:09
> pada 19 Julinya. Kan Pak Thomas dan pemerintah pasti tidak akan mau
> bertanggung jawab ketika kami ditanya di yaumul hisab? Kami sendiri yang
> harus dapat menjawab ini dihadapan Allah nanti.
>
>
>
> Semoga bermanfaat dan wassalam,
> Tono Saksono
>
>
> 2012/9/12 Rois <royfathoni@...>
>
> > **
> >
> >
> > Assalaamu'alaikum, wr, wb.
> >
> > Terima kasih Pak Mu'iz telah membuka "trit" baru berjudul tsb di subject.
> >
> > Kejelasan definisi hilal ini penting, sebab bahkan Dr. Agus Purwanto pun
> > tidak tahu mengapa yang dihitung di dalam WH adalah tinggi piringan atas
> > rembulan. Karenanya beliau meminta/menyarankan penjelasan lebih lanjut dari
> > Muhammadiyah mengenai "matahari tenggelam lebih dulu dari rembulan" ini.
> >
> > http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/46168
> >
> > Seperti yang sudah disampaikan Prof. Thomas, secara astronomis hilal itu
> > adalah terkait dengan PENAMPAKAN dalam artian bulan tampak dari bumi
> > berwujud sabit. Demikian pula beberapa kali yang saya tangkap dari Prof.
> > Tono dalam simulasinya, masih berpegang pada PENAMPAKAN ini; dan bukan
> > POSISI REMBULAN-nya. (CMIIW, Prof. Tono. Sekalian mohon penjelasan menurut
> > Prof. Tono hilal itu secara sains/astronomis definisinya apa )
> >
> > Nah, saya sendiri masih belum yakin dengan pemahaman saya yang saya
> > sampaikan beberapa hari yang lalu mengenai WH bhw tidak lagi memaknai hilal
> > sebagai "bulan sabit", melainkan dimaknai sebagai "posisi rembulan" dengan
> > 3 syarat yang dirumuskan dalam WH tsb.
> >
> > http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/46282
> >
> > Oleh karena itu, saya mohon ada penjelasan lebih lanjut dari para panelis
> > khususnya Ustadz Fattah mengenai ta'rif hilal dalam WH ini. Benarkah
> > pemahaman saya bhw WH tidak lagi memaknai hilal sebagai bulan sabit ?
> >
> > Salam,
> > Rois (teknik kimia UMS)
> >
> >
> > --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "Abdul Mu'iz" <muizof@>
> > wrote:
> > >
> > > Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.
> > >
> > > Kita buka threat "Ta'rif syar'i / Definisi astronomis Hilal"
> > >
> > > Kami persilakan panelis untuk menyampaikan ta'rif astronomi hilal dari
> > aspek syar'i tafaddlol.
> > >
> > > Untuk sekedar mengingatkan bahwa meskipun para panelis sudah diumumkan
> > oleh moderator (pak Wid), kami tidak menutup ruang siapa saja untuk ikut
> > berpartisipasi, memberikan komentar, menyampaikan perspektif lain untuk
> > memperkaya. Namun jangan lupa menutup dengan menyebut back ground
> > pendidikan sekedar menunjukkan identitas kepakaran ybt.
> > >
> > > Semoga diskusi ini bermanfaat, selamat menyimak, wa bil khusus kami
> > persilakan panels Bapak yusron, tafaddlol.
> > >
> > > Wassalam
> > > Abdul Mu'iz (co moderator)
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> >
>
>
>
> --
> htt://cis-saksono.blogspot.com
>

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar