Minggu, 02 September 2012

«PPDi» 7 Tahun MoU Damai Helsinki Hasrat Merdeka Tetap Membara

 

7 Tahun MoU Damai Helsinki

Hasrat Merdeka Tetap Membara

Lahir sebagai generasi Aceh ketiga, berpendidikan tinggi di luar negeri dan memiliki kemampuan intelektual serta teknologi. Mereka menjalin komunikasi dengan mantan kombatan GAM yang kecewa.  Hasrat untuk Merdeka ternyata masih ada.

Muhammad Saleh

TUBUHNYA tinggi kurus. Penampilannya juga sederhana. Usianya sudah kepala lima (50 tahun—red). Jika tak kenal, jangan ajak bicara. Dia cenderung tertutup dan enggan untuk bertanya.  Sebaliknya, jika bisa merebut hatinya, dia akan ungkapkan semua. Apa yang dia lakukan dan kerjakan saat Aceh masih dilanda konflik. Termasuk menghabisi semua yang dianggap musuh.  Prajurit TNI, Polri, sesama rakyat dan tokoh Aceh serta etnis Jawa.

"Andai orang yang telah kami bunuh dulu bisa hidup dan bangkit kembali, mungkin mereka akan mengejar dan membunuh kami kembali. Saya benar-benar menyesal. Jika saya tahu, akhir dari perjuangan Paduka Yang Mulia Wali Neugara Atjeh Merdeka Tgk Hasan Tiro, digunakan hanya untuk meraih kursi gubernur, bupati, walikota dan DPR Aceh, saya tak mau bergabung dalam GAM," kata pria ini polos, sambil mengusap air mata.  Tanpa diminta, dia pun menyebutkan satu persatu nama-nama yang syahid. Mulai dari rakyat biasa yang dituduh cuak (mata-mata—red) hingga Prof. Dr. Dayan Dawood (Rektor Unsyiah, Banda Aceh), Dr. Safwan Idris (Rektor IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh) dan Mayjen TNI (Purn) Teuku Djohan (mantan Wagub Aceh). "Itu saja yang masih saya ingat, sisanya saya lupa," ungkap dia.

Seterusnya, dia bercerita tentang sisi lain dari perjuangan yang telah dia lakoni sejak bergabung dengan GAM tahun 1990-2004.  Mulai dari berhadap-hadapan dengan prajurit TNI dan Polri di lapangan hingga kesepakatan untuk tidak saling menyerang atau baku tembak. "Ya, kalau nasib lagi baik malah kami beli senjata dan peluru dari oknum TNI dan Polri.  Mereka juga butuh uang," kenang dia, sambil tersenyum.

Secara tak senggaja, pria ini bertemu saya, awal Agustus lalu di Banda Aceh. Sebut saja namanya RAJU (samaran—red). Pendidikannya hanya tamat sekolah dasar (SD). Karena alasan keselamatan, kami sepakat untuk tidak menuliskan secara jelas identitasnya.  "Bukan saya takut, tapi dari pada mati konyol, lebih baik nama saya Anda sembunyikan," pinta ayah dua anak ini.  Selanjutnya, kami pun sering bertegur sapa dan bercerita. Tentu tak jauh dari kenangan indah dan pahit getir masa lalu, saat Aceh masih dilanda konflik bersenjata hingga datang MoU Damai Helsinki, antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 15 Agustus 2005 silam di Helsinki, Finlandia.

Dan, Rabu, 15 Agustus 2012 lalu, saya mengajak dia untuk bertemu kembali sambil ngopi. Tujuannya, hanya ingin meminta pendapatnya seputar peringatan 7 Tahun MoU Damai. "Kini, saya tak lagi berharap banyak. Saya dan kawan-kawan telah memilih jalan sendiri, mencari kehidupan untuk anak dan istri. Tapi satu hal, kami jangan diganggu.  Mempertahankan diri itu wajib," tegasnya dengan wajah serius.

Nah, dari RAJU saya pun dapat memahami dan mengetahui posisi pimpinan dan mantan kombatan GAM saat ini. Walau tak lengkap dan utuh, setidaknya bisa sebagai pintu masuk selanjutnya.  Termasuk, kiprah dan gerakan anggota Majelis Pemerintah (MP) GAM di Aceh. Salah-salah GAerakan "sempalan" dari Aceh Merdeka (AM) yang dibentuk Hasan Tiro tahun 1976.  Situasi ini jauh berbeda dengan tahun pertama dan kedua, paska penandatanganan MoU Damai RI-GAM. Hampir tak dapat diperoleh dan akses berbagai cerita serta sisi lain dari sepak terjang para pimpinan maupun mantan anggota GAM. "Ada, memang benar.  Beberapa kawan seperjuangan yang dulu saya kenal, kini mengaku sebagai anggota MP GAM. Dia tidak puas dengan hasil yang ada sekarang," ungkap RAJU.

Masih kata RAJU. "Semua sudah mabuk kekuasaan. Hanya gara-gara kursi Gubernur, Bupati dan Walikota, kami saling membunuh.  Saat di hutan, sama-sama tahan lapar dan dalam ancaman mati. Tapi sekarang, lupa diri. Yang menerima manfaat justeru orangorang yang bergabung kemudian.  Mereka pinter menjilat dan cari muka," katanya sambil menyedot dalam sebatang rokok kretek.

RAJU berkisah tentang duka saat perjuangan di Buket Cot Keueung, Aceh Besar. Batinnya sempat terpukul sepekan, karena sohib dekatnya syahid dalam perjuangan.  Suaranya tiba-tiba tinggi, ketika dia bercerita tentang sukses story yang telah dia dan kawan-kawannya lakukan "Saat itu, kami berhasil menembak mati beberapa prajurit TNI dalam kontak tembak 24 jam,"kenang RAJU.  Begitupun, satu hal yang tak dapat dia dan kawan-kawannya terima. "Dulu, ketika kami mati dianggap syahid dan resiko perjuangan.  Kini, sedikit saja berbeda pandangan politik, langsung dicap sebagai pengkhianat. Ini benar-benar tidak adil," sebut RAJU yang mengaku ikut memenangkan pasangan Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, saat Pemilukada 2006 silam dan Partai Aceh (PA) untuk kursi DPR Aceh dan DPRK Aceh Besar pada Pemilu Legislatif 2009 lalu.

"Sejujur saja, saat itu saya ikut menekan orang kampung untuk memilih PA," ungkap dia.  Memang, paska damai dan Pemilukada 2006 silam, RAJU lebih merapatkan diri dalam barisan Irwandi Yusuf. Ini dia lakukan, karena perintah Panglima GAM (komando—red). Hasilnya, RAJU memperoleh beberapa pekerjaan. Dari hasil itulah, dia bisa menghidupkan dapur untuk anak dan istri serta kawan-kawan.  Pernah sekali waktu, dana Rp 1 miliar lebih dari hasil keuntungan proyek dia bagikan. Saat itu, menjelang Hari Raya Idul Fitri 1431 H atau 2010 lalu. "Uang itu saya ambil cash di bank dan saya masukkan dalam karung beras serta saya bagikan kepada kawan-kawan," kenang dia.


***


SEPERTI Idul Fitri tahun lalu, lebaran kedua dan ketiga tahun ini pun saya dan keluarga memilih mudik ke Lhokseumawe dan Aceh Timur. Selain bersilaturrahmi dengan keluarga, juga bertemu dengan rekan-rekan lainnya.  Hari itu, Selasa, 21 Agustus 2012, sekira pukul 11.00 WIB, saat sedang bertamu di Bagok, Kabupaten Aceh Timur, telepon seluler saya berdering. "Halo, mohon maaf lahir dan batin. Lebaran ini kita tak bisa bertemu.  Kondisi saya dan kawan-kawan sedang tidak kondusif, paska Pilkada lalu," kata seorang anak muda di ujung telpon, sambil bertanya dimana posisi saya saat itu.  Sebut saja RAMAN (samaran—red). Dia merupakan mantan kombatan GAM Wilayah Aceh Utara atau akrab disebut Pase. 

RAMAN adalah salah seorang teman saya di SMA dulu, di Lhokseumawe. Ayahnya merengang nyawa, setelah ditembak oknum TNI tahun 1986 silam dengan tuduhan terlibat dan ikut membantu GAM.  Nah, entah karena dendam atau kesadaran sendiri, setamat SMA, warga Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara ini, memilih bergabung dalam GAM. Dia sempat diburu TNI dan Polri dan akhirnya kabur ke Malaysia dan kembali tahun 2000. Saat melakukan tugas jurnalistik ketika itu, saya sering meminta jasa RAMAN untuk menerobos ke sejumlah Markas GAM. Termasuk berbagai informasi operasi serta kontak senjata yang terjadi.

Dari mulut RAMAN pula, saya kembali mendapat cerita basah seputar situasi dan kondisi di tubuh (internal) PA serta mantan kombatan GAM. "Saat ini saya dan 30 kawan-kawan pendukung Tgk Liyah Pase (Ilyas A. Hamid, mantan Bupati Aceh Utara—red) berada di salah satu tempat di pedalaman Sawang.  Untuk sementara, kami tidak bisa bermain di kota, karena telah dicap sebagai pengkhianat," ungkap RAMAN.

Saat Pemilukada, 9 April 2012 lalu, RAMAN memang pendukung setia Tgk Liyah Pase. Untuk posisi gubernur, dia mengaku pendukung ring satu Irwandi Yusuf.  Dia punya alasan tertentu kenapa menjatuhkan pilihan kepada Tgk Liyah dan Irwandi Yusuf. "Saya bukan pengkhianat. Yang saya dan kawan-kawan lakukan, semata-mata karena setia kepada perjuangan dan panglima.  Dulu pun saya mendukung Tgk Agam (sebutan untuk Irwandi—red) dan Tgk Liyah karena perintah komando dari Mualem (Panglima GAM Muzakir Manaf, kini Wagub Aceh) dan Tgk Sofyan Daud," ungkap RAMAN.  Bukankah, Mualem juga maju sebagai Wagub Aceh? tanya saya. Dengan lantang RAMAN mengatakan. "Karena itulah, kami tak mendukungnya. Anda bisa bayangkan, apa jadinya perjuangan selama 30 tahun lebih yang di proklamirkan Paduka Yang Mulia Hasan Tiro, jika panglima tertinggi maju jadi pejabat.  Jika ada masalah, kepada siapa lagi kami mengadu," kata RAMAN lantang.

Kecuali itu, yang membuat batin RAMAN berontak adalah, begitu mudah gelar pengkhianat perjuangan diberikan kepada dia dan kawan-kawannya saat ini. "Saat kampanye di Landing, Lhoksukon, Aceh Utara Anda dengar sendiri penjelasan dari Tgk Sofyan Daud, Tgk Liyah dan Tgk Agam. Apa peran mereka dalam perjuangan dan siapa mereka-mereka itu (Malek Mahmud, Zaini Abdullah dan Mualem—red). Jadi, tidak usah saya jelaskan lagi," ungkap RAMAN.  Satu hal yang membuat jantung saya berdetak kencang adalah saat muncul pengakuan RAMAN tentang MP GAM.

"Sejak setahun lalu, saya terus melakukan kontak dengan Arif Fadillah (aktivis MP GAM—red) di Sweden dan Amerika serta beberapa pemimpin lainnya. Dari dialah, kami paham, duduk persoalan perjuangan yang sebenarnya.  Tak semua tuduhan dan propaganda murahan yang selama ini diarahkan kepada MP GAM dan Tgk Husaini Hasan benar," ulas RAMAN.

Menurut RAMAN, saat ini ada seratusan anggota dan aktivis MP GAM asal negeri jiran Malaysia, Sweden, Denmark dan Australia, berada di Aceh. "Kami sudah beberapa kali bertemu dan mengadakan rapat. Tapi, Anda tak perlu tahu dimana. Kami akan lanjutkan perjuangan Paduka Yang Mulia Tgk Hasan Tiro untuk Aceh Merdeka. Dan kami akan tueng bila (membalas—red) kematian Tgk Don Fahri dan Hanafiah Norwe serta Tgk Cagee," kata RAMAN dengan suara tinggi dan langsung mematikan telepon seluler. Hingga, Jumat pekan lalu, nomor seluler RAMAN, tak bisa lagi dihubungi. "Ka beuh, saleum (sudah ya, salam—red)," kata RAMAN.


***


DARI hulu hingga hilir. Dari Aceh hingga luar negeri, semangat perlawanan atau keinginan untuk mengusung Aceh Merdeka, ternyata belum juga padam di benak sebagian mantan kombatan GAM serta warga Aceh yang kini bermukim di luar negeri. Sebaliknya, tetap saja membara. Namanya Arif Fadillah. Di dunia maya (blog), dia menyatakan diri sebagai Ketua Presidium Gerakan Kemerdekaan Aceh atau Acheh Sumatra National Liberation Front (ASLNF). Sosok anak muda ini aktif mengelola dan menyuarakan lanjutan perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di luar negeri, khususnya Eropa.  Mereka menamakan dirinya Majelis Pemerintah (MP) Gerakan Aceh Merdeka, dipimpin dr. Husaini Hasan, sohib dekat almarhum Hasan Tiro dan dr. Zaini Abdullah (mantan Menteri Luar Negeri Aceh Merdeka—red).  Selain sekampung, Pidie. Husaini Hasan dan Zaini Abdullah merupakan satu almamater, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU). Mereka pecah, karena beda tafsir dalam menarik simpati dari Hasan Tiro. Puncaknya, dalam proses damai, 15 Agustus 2005 di Helsinki.  

Husaini Hasan Cs mengaku tak dilibatkan jika tak elok disebut telikung. Hasilnya, gerbong Zaini Abdullah bersama Malek Mahmud Cs, menerima tawaran damai Pemerintah Indonesia. Sementara, gerbong Husaini Hasan Cs, menolaknya dan mendirikan MP GAM.  Bersama Arif, Husaini Hasan, ada sederet nama lain seperti, Tengku Amir Ishak SH, Asnawi Ali, Yusuf Daud, Diya Yusuf, Mustafa Ali, Herry Iskandar, Muhammad Ali, M. Nur Daud, Hanafiah Sjech, Awee Hasan, Mazlan Yakob, Sahli bin Mubin, Tayeb Yet, Fasola, Abdul Manaf, Ali Rahmad, Ahmad Amin, Junaidi Ahmad dan lain-lain.

Arif Fadillah, Asnawi Ali dan Yusuf Daud (Yusda), cukup berperan mengeluarkan pernyataan pers atas nama ASNLF. Arif, Asnawi dan Yusuf Daud, sepertinya seiring dan sejalan. "Memang betul, pada pertemuan, Mei 2012 lalu, Yusda dan Asnawi Ali menghadiri pertemuan dan pelatihan HAM serta demokrasi di Jenewa, Swiss.  Termasuk pertemuan serupa di Belanda," ungkap sumber media ini, Jumat pekan lalu.  Sumber tadi menjelaskan, Arif Fadillah sempat tercatat sebagai salah seorang dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Medio tahun 1998 atau 1999, kabarnya dia mendapat beasiswa atau tugas belajar dari BPPT, Kemenristek RI ke Jerman. 

Nah, saat di Jerman, Arif ikut membantu dan bergabung dengan sejumlah pimpinan GAM di Eropa, terutama saat pertemuan dan pembahasan MoU Damai di Helsinki.  Merasa tak sepakat dengan butir-butir MoU, Arif bersama Fadlon Tripa dan Yusuf Daud saat itu, menyatakan menarik diri dan berikrar akan melanjutkan perjuangan Hasan Tiro yaitu Aceh Merdeka. Maka, tahun 2009 lalu, disepakati kembali melanjutkan perjuangan Aceh Merdeka dengan tetap menambalkan nama: Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) dan Arif Fadillah ditunjuk sebagai Ketua Presidium. "Tapi Fadlon sempat pulang ke Aceh karena diajak Irwandi, sementara Yusuf Daud dan Arif tidak kembali ke Aceh," ungkap sumber ini. 

Entah karena alasan itu pula, saya sempat menerima beberapa kali surat elektronik (email) dari Asnawi Ali. Isinya, cerita tentang berbagai kegiatan ASLNF.  Termasuk siaran pers Asnawi Ali dan Yusuf Daud (Yusda) yang terbang dari Swedia menuju Jenewa, 12 Mei 2012 lalu.  Mereka hadir di sana, untuk memenuhi undangan salah satu LSM international yang bekerja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan fokus mengatasi ketidakadilan dan permasalahan hak asasi manusia di belahan dunia. LSM Internasional itu berkantor pusat di Jenewa dan terpaut ratusan meter dari kantor PBB urusan masalah HAM di Swiss. "Kami sudah mengirim siaran pers, tapi kenapa MODUS ACEH tidak mempublikasinya," tanya Asnawi Ali melalui email.

Kabarnya, hampir semua aktivis HAM di setiap negara, khususnya negara anggota PBB wajib menyampaikan upaya pelaksanaan kemajuan dan perlindungan HAM di negaranya masing-masing sebagai Tinjaun Periodik Universal -UPR (Universal Periodic Review). "Acara empat tahunan sekali itu merupakan mekanisme terbaru Dewan HAM yang memberi kesempatan kepada negara anggota PBB untuk menyampaikan berbagai upaya dan pelaksanaan pemajuan dan perlindungan HAM di negaranya," jelas Yusuf Daud.

Sebelumnya, Minggu (20/5), Harian Media Indonesia memberitakan, satu LSM Human Right Working Group (HRWG) menilai Indonesia memang tidak mampu menyelesaikan permasalahan HAM. "Kami berharap bahwa sidang UPR (Universal Periodic Review) bisa memberikan rekomendasi lengkap," kata Choirul Aman yang juga salah satu anggota delegasi LSM Indonesia untuk menghadiri sidang yang diadakan 23 Mei, di Jenewa, Swiss.  

Tak hanya itu, Rabu pagi, 8 Agustus 2012 lalu, sejumlah aktivis HAM dan demokrasi dari berbagai dunia, juga menghadiri "International Human Rights Training" yang berlangsung di Gedung Clingendael Netherlands Institute.  Sebagai diplomat resmi, Duta Besar Bolivia untuk Belanda didaulat berpidato, selanjutnya Direktur Clingendael Netherlands Institute, Ketua Unpresented Nations and Peoples Organization (UNPO), Ketua Netherlands Centre for Indigenous Peoples (NCIV) dan Walikota Den Haag.  Nama UNPO sudah akrab bagi mereka dipengasingan. Pelatihan Speakout! 2012 ini adalah even tahunan yang keempat kalinya. Tahun ini giliran UNPO memfokuskan pelatihan HAM kepada generasi muda. Beberapa diantaranya pemudi Zimbabwe representatif dari UNPO Brussel, aktivis untuk Tibet, The Young Assyrians in Australia, Anne Frank House Netherland, Nuria Andreu Spain, Hmong Federation People Assembly, Khmer Krom Cambodia, Political Advisor for Internatonal Affairs Republic of Kosovo, Swedish Achehnese Association, Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF), serta beberapa mahasiswa asal Jerman dan Belanda kandidat master jurusan hubungan Internasional.

Rupanya, Yusda dan Asnawi Ali memanfaatkan pertemuan itu dengan membuka telepon gratis melalui sambungan internet Skype. Tujuannya, bukan hanya untuk didengar, tapi dapat juga melihat langsung melalui kamera tentang pelatihan HAM SpeakOut! 2012, di Den Haag, Belanda.  Diakui Aswani Ali, pertemuan di Kota Den Haag mempunyai arti besar bagi aktivis ASNLF.  Setelah sebelumnya sempat "lolos" dan berhasil memasuki Gedung PBB urusan HAM di Jenewa dalam sidang UPR (Universal Periodic Review) akhir Mei lalu 2012.  Sebulan kemudian memenuhi undangan untuk berdialog dengan salah satu LSM dan lembaga kemanusiaan Internasional di kota dan negara yang sama.  "Menyadari akan kelangsungan perjuangan yang panjang, regenerasi untuk mencetak aktivis baru bagi ASNLF sedang dipersiapkan," tulis Asnawi.

Lantas, apa kata Malek Mahmud? "Semua terserah mereka. Kalau masih ada yang mau merdeka silahkan. Kami tidak melarang". Sepertinya, hasrat untuk merdeka masih membara di belahan negara Eropa? Entahlah, hanya waktu dan sejarah yang bisa menjawabnya.***

Sumber:
Tabloid Modus, edisi 27 Agustus - 2 September 2012.
http://modusaceh.com/index.html





__._,_.___
Recent Activity:
------------------------------------------------------------------
                       TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
------------------------------------------------------------------
Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
-untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@yahoogroup.com

**************************************************************
-Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
               : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
**************************************************************
FOR THE LATEST NEWS link to us: http://PPDi.cjb.net/
                          http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages

ALL ADVERTISERS THAT HAVE NOTHING TO DO WITH condemning indon WILL BE BANNED WITHOUT WARNING!!!
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar