Sabtu, 08 September 2012

«PPDi» Aksi Teror dan Kekerasan, Mengapa Sering Terjadi?

 

 
 
Oleh : Drs. H. Done Ali Usman, M.AP.
 
Dua peristiwa yang mengejutkan secara nasional di bulan Syawal, dimana umat Islam tengah merayakan kemenangan dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan, Hari Raya Aidil Fitri.
Peristiwa pertama, aksi terorisme di Kota Solo, yang tewas merupakan kelompok baru dan kini masih dalam penyelidikan oleh pasukan Detasemen Khusus 88. Terduga teroris di Solo itu ada keterkaitannya dengan jaringan teroris yang ada di Filipina.

Saat penyergapan, sempat terjadi pergulatan antara polisi dengan para teroris yang mengakibatkan dua terduga teroris tewas, satu orang tewas dan seorang anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror tewas tertembak. Peristiwa terjadi di Jalan Veteran samping tempat perbelanjaan Lotte Mart.

Barang bukti yang disita, satu pucuk pistol spietro bareta buatan Italia, di sisi sebelah bertuliskan PNP (Property Philipines National Police), tiga buah magazine, 43 peluru kaliber Sembilan milimeter merk Luger dan Sembilan holopoint CBC, kata Irjen Anang.

Sejak pertengahan hingga akhir Agustus 2012, terjadi tiga kali serangan bersenjata oleh orang tak dikenal dengan sasaran Pos Polisi di lokasi yang berbeda di Kota Solo.

Kedua, kasus penyerangan kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura. Kali ini merupakan kali kedua dalam dua tahun terakhir ini.

Aksi serupa juga terjadi pada tanggal 29-30 Desember 2011. Ketika itu rumah pimpinan Islam Syiah, Ustadz Tajul Muluk, lalu Musholla dan madrasah kelompok Islam minoritas ini diserang oleh kelompok massa anti-Syiah.

Kasus penyerangan yang dilakukan oleh kelompok massa tak dikenal terhadap kelompok Sampang, Madura yang kedua pada Minggu (26/8) itu menyebabkan satu orang tewas dan enam orang lainnya luka-luka.

Kerusuhan berawal saat 20 anak dari pemukiman Syiah di Desa Karang Gayam Madura yang bersekolah di Bangil Pasuruan, hendak kembali ke pesantren mereka di Pasuruan usai merayakan Idul Fitri di tempat tinggal mereka. Murid-murid itu dihadang oleh kelompok massa yang menggunakan 30 sepeda motor. Siswa Syiah yang sudah naik angkutan umum disuruh turun, sedangkan yang mengendarai kendaraan dipaksa pulang kerumah mereka masing-masing. Kelompok Syiah yang kemudian melawan aksi itu justru membuat massa makin beringas sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Kemudian amuk 1200-an warga kota Binjai terhadap ketidakadilan hukum yang membara sepanjang dini hari (2/9) berbuntut ketakutan massal kalangan pengusaha disana. Puluhan Polisi dibantu Brimobdasu masih melakukan siaga setelah peristiwa amuk massa dan penyerangan RSUD Djoelham Binjai. Sementara, suasana Kota Binjai hingga Minggu (2/9) siang masih mencekam.

Sebagaimana diketahui, penyerangan ini terjadi dari imbas ditembaknya tersangka perampok, seorang warga Binjai bernama Junedi oleh anggota Polres Binjai. Peristiwa itu mengundang reaksi massa. Mereka membakar sepeda motor dan menjarah. Kedatangan ratusan orang ini keberatan adanya penahanan dan meminta tersangka perampokan yang sedang dirawat di rumah sakit dilepas oleh Polisi. Namun pihak Polres Binjai menolak. Akibatnya saat tersangka dikeluarkan dari RS Djoelham, ratusan warga langsung menghadang mobil yang membawa tersangka dan memukuli mobil Polisi itu.

Sejak aksi teror Bom Bali, aksi teror dan kekerasan Bom Bali, aksi teror dan kekerasan tampaknya tak menunjukkan surut kasus, sehingga cukup memeras pikiran para petinggi keamanan negeri ini.

Mengapa aksi teror dari kekerasan di negeri ini tak pernah surut? Untuk itu perlu kajian yang mendalam mengapa teror dan kekerasan begitu sering terjadi. Diperlukan mencari "akar masalah" atau "Roots cause analysis" dari setiap peristiwa/kejadian di negeri ini. Apakah disebabkan kekecewaan, rasa tidak puas, atau hal-hal lain karena menjalankan doktrin-doktrin tertentu dari suatu organisasi nasional atau internasional.

Merebaknya teror yang puncaknya terjadi di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001. Dan kali ini korbannya tidak tanggung-tanggung yaitu AS yang memposisikan dirinya pertama, sebagai "Polisi dunia", kedua, satu-satunya kekuatan global, dan ketiga indispensable state. Dari kasus tersebut diatas ada dua hal yang dapat kita pelajari, yaitu pertama, dari sisi AS kondisi obyektif memperlihatkan bahwa AS yang memiliki teknologi keamanan termodern, lengkap dengan berbagai piranti hukum plus berbagai kebijakan keamanan nasional ternyata rentan terhadap serangan teroris. Yang kedua, dari sisi pihak teroris, memperlihatkan bahwa mereka mempunyai motivasi yang sangat kuat, memiliki perencanaan yang sangat baik, dan pengorganisasian yang sangat rapi.

Bagaimana dengan Indonesia? Kenyataannya memperlihatkan bahwa beberapa kota besar mulai dari Jakarta, dilanda aksi teror dalam bentuk peledakan (bombings) dan ancaman peledakan yang lagi marak. Sasarannya tidak membedakan apakah gedung pertokoan, atau sekolah, atau gereja. Bahkan rumah sakit nampaknya tidak tidak luput dari ancaman aksi teror, dan adanya pemberitahuan media massa internasional tentang keterlibatan warga negara Indonesia dalam jaringan terorisme internasional (Al-Qaida). Reaksi yang muncul terhadap kasus-kasus tersebut terkesan bervariasi, mulai mengutuk sampai pada kurang peduli.

Ada sikap peduli dari kalangan pejabat dan elit politik, tetapi tampilan simpati, baik secara politis maupun psikologis atau apapun bentuknya tidak akan mampu meredam aksi teror. Padahal untuk ramalan ke depan, belum ada pihak secara tegas berani memberikan jaminan bahwa aksi teror akan mereda dan pupus dari bumi Indonesia. Dan berbagai kasus yang sudah terjadi, barangkali perlu diukur seberapa jauh kepedulian berbagai kalangan mulai dari Birokrat, Politisi, Akademisi, sampai pada masyarakat luas untuk memerangi kais teror.

Banyak pihak menyimpulkan bahwa upaya untuk memerangi aksi teror adalah pekerjaan pasukan antri teror seperti Densus 88, Gegana atau unit-unit khusus lainnya yang memang disiapkan untukmenghadapi aksi teror. Pendapat tersebut ada benarnya tetapi hanya dari satu sudut, yaitu operasional di lapangan.

Memahami Aksi Teror

Untuk memahami teror, ada baiknya menyimak landasan teroritik yang diperkenalkan oleh Mao Zedong. Katanya "membangun unit teror harus diumpamakan air dan ikan, semakin luas airnya akan semakin bebas ikannya berenang". Bertolak dari falsafah tersebut maka upaya memerangi kegiatan teror adalah dengan membalik falsafah tersebut, yaitu "untuk memudahkan menangkap ikan itu, maka airnya harus diperkecil". Belajar dari falsafah tersebut, dengan mudah dapat dimengerti bahwa tugas unit-unit anti teror adalah menangkap ikan, tetapi mudah pula untuk dimengerti bahwa unit-unit tersebut tidak akan mampu mengeringkan airnya.

Yang dimaksud dengan ikan, yaitu sel-sel teroris, sedangkan air adalah masyarakat bangsa di dalam suatu negara dengan segala keberadaannya. Apalagi airnya dipetakan kepada potret Indonesia maka gambarannya adalah masyarakat bangsa yang berjumlah 230 juta orang, tersebar pada 17.508 pulau dan berada pada perairan seluas 5 juta km persegi. Dalam potret yang lebih rinci akan memperlihatkan mosaik demografi yang terdiri dari 300 sub-etnik (mungkin sekali lebih dari itu) mendiami hanya seribuan pulau, dan lokasinya berada di jalan silang dunia.

Mungkin ada pihak yang mempertanyakan apa perlunya kita mempelajari teror, jawabannya adalah sangat diperlukan. Alasannya adalah Indonesia di dunia internasional dikategorikan sebagai soft target karena beberapa kenyataan. Pertama, lemahnya perangkat hukum untuk memerangi terorisme. Kedua, kualitas dan kuantitas semua pihak yang terkait di dalam upaya combating teror act belum memadai, ketiga potensi terjadi kasus teror sangat tinggi.

Untuk memahami dan mengerti tentang teror secara harfiah dapat dikutip dari kamus Webster yang mengatakan bahwa teror adalah suatu keadaan yang amat ketakutan, kecemasan yang tinggi. Dengan demikian, secara sederhana dapat dikatakan bahwa aksi teror adalah untuk menciptakan keadaan yang amat takut, terbentuknya atmosfir kecemasan yang tinggi. Dalam keadaan demikian maka perilaku seseorang yang mengalami ketakutan atau kecemasan yang tinggi dapat dimanipulasi untuk kepentingan tertentu. Dari pendekatan pemahaman tersebut maka teror dapat dikatakan sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan.

Secara garis besar, tujuan dari aksi teror dapat dibagi dalam empat kategori besar, yaitu :

1.Irrational teror, yaitu aksi teror yang dilakukan oleh orang atau kelompok yang tujuannya kurang masuk akal.

2. Criminal teror, yang dilakukan oleh orang atau keompok yang tujuannya untuk kepentingan kelompoknya.

Mafia Organization, kelompok atau sekte agama tertentu dapat dimasukan dalam kategori ini.

3. Political teror adalah kegiatan teror yang dilakukan oleh kelompok atau jaringan yang bertujuan politik. Kelompok inilah yang sering terjadi, terlebih-lebih pada saat Pilpres da Pilkada.

4. State teror, adalah aksi teror yang dilakukan oleh penguasa suatu negara terhadap rakyatnya untuk membentuk perilaku dari segenap lapisan masyarakat.

Waspadai Teror Menjelang Pilgubsu

Sumatera Utara sudah populer dengan provinsi yang sangat kondusif walaupun didalam aneka ragam adat, suku, dan agama. Oleh sebab itu kondusifitas ini perlu dijaga dan diwaspadai oleh aparat keamanan maupun masyarakat Sumatera Utara, terlebih lagi menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2013, dan pilihan Raya secara nasional 2014. Karena dampak dari Pilkada itu pasti ada dalam bentuk kecewa dan rasa tidak puas, rasa tidak adil dan sebagainya. Bibit-bibit aksi kekerasan itu memang belakangan ini sering terjadi (kasus Binjai), geng motor, demo-demo sebagai protes ketidakpuasan dan sebagainya.

Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dalam kunjungannya ke Indonesia memperingatkan kepada Indonesia bahaya terorisme yang marak di berbagai belahan dunia. Dia juga menegaskan tidak boleh ada diskriminasi di tengah masyarakat sebuah negara.

Clinton mengatakan bahwa Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan atas bahaya terorisme. Menurutnya, Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia menjadi sasaran empuk penyerangan terorisme. Banyak negara juga menjadi sasaran. Bahkan ada tujuan politik didalamnya, di negara demokrasi yang besar seperti Indonesia, peluang itu ada.

Dia mengatakan, tidak boleh ada diskriminasi pada kelompok-kelompok minoritas, agama, sekte dan etnis. "Kami menyerukan kebebasan dan toleransi untuk semua", kata Clinton.

Indonesia bertekad akan terus bekerjasama dengan AS dalam upaya pemberantasan terorisme. Hal ini sesuai dengan komitmen kedua negara untuk saling mendukung baik dalam melakukan penyelidikan maupun penindakan.***

Penulis adalah Staf pengajar UMA/UISU Medan.

__._,_.___
Recent Activity:
------------------------------------------------------------------
                       TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
------------------------------------------------------------------
Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
-untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@yahoogroup.com

**************************************************************
-Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
               : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
**************************************************************
FOR THE LATEST NEWS link to us: http://PPDi.cjb.net/
                          http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages

ALL ADVERTISERS THAT HAVE NOTHING TO DO WITH condemning indon WILL BE BANNED WITHOUT WARNING!!!
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar