Senin, 17 September 2012

«PPDi» Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat dengan Kehidupan

 

 
 
Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat dengan Kehidupan
Agus Sana'a | Senin, 17 September 2012 - 14:07:10 WIB

(dok/antara)
Profesi sebagai nelayan tidak lagi menjanjikan kelangsungan hidup keluarga.

Di masa lampau, masyarakat Indonesia sangat meyakini pepatah usang "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, masih lebih baik". Kini pepatah usang itu tampaknya tak lagi berlaku bagi sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra), terutama yang bermukim di wilayah kepulauan yang tandus dan gersang.

Masyarakat di pulau-pulau kecil di wilayah Kabupaten Buton, Muna atau Wakatobi, belakangan ini sudah lebih banyak merantau ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Papua, Maluku, Tanjungpinang, bahkan ke luar negeri, Malaysia. Warga memilih meninggalkan kampung halaman karena alam yang selama ini menjadi tempat bernaung, tak lagi bersahabat dengan kehidupan warga.

"Pendapatan menjadi nelayan tangkap ikan yang selama ini sebagai penopang hidup keluarga, saat ini tak bisa lagi diandalkan. Sekali melaut, sudah beruntung bisa mencukupi kebutuhan hari itu juga," tutur La Ndiali (49), nelayan asal Desa Uwe Maasi, Pulau Kadatua, Kabupaten Buton saat hendak berangkat ke Malaysia, menumpang KM Bukit Siguntang.

Di negara tetangga itu, Ndiali bersama 10 rekannya tdak peduli akan menjadi buruh kasar di sejumlah proyek pembangunan gedung-gedung pencakar langit. Ini karena satu hari kerja mereka mendapatkan upah antara 30-50 ringgit Malaysia.

"Kalau mendapatkan toke (majikan-red) yang baik, kami bisa mendapatkan upah kerja sampai 50 ringgit per hari. Jika tidak, hanya diupah di bawah 50 ringgit, paling rendah 30 ringgit," kata Ndiali yang sudah ketiga kalinya ke Malaysia.

Keterangan serupa diungkapkan La Ode Sunartion (25), warga Desa Banabungi, Pulau Kadatua, yang Jumat (24/8) lalu juga berangkat ke Malaysia menumpang kapal yang sama dengan Ndiali.

Menurutnya, hidup sebagai nelayan tangkap ikan di Pulau Kadatua sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk menghidupi keluarga. Hasil tangkapan ikan nelayan di Pulau Kadatua setiap harinya hanya mampu mencukupi kebutuhan hidup untuk hari itu juga.

Akibatnya, warga Pulau Kadatua yang saat ini berjumlah sekitar 8.000 jiwa berbondong-bondong merantau ke berbagai daerah di Indonesia seperti Maluku Utara, Maluku Tenggara, Papua, Tanjungpinang, termasuk ke luar negeri, Malaysia.

Nasib yang dialami nelayan Pulau Kadatua tidak berbeda jauh dengan para petani jeruk manis di Pulau Siompu, tetangga Pulau Kadatua. Menurut La Ode Harsin, warga Desa Biwinapada, sejak beberapa tahun terakhir, tanaman jeruk manis yang pernah membanjiri pasar-pasar buah di berbagai kota di Indonesia, bukan hanya tidak produktif lagi, tapi untuk tumbuh pun sudah susah.

"Kadang-kadang baru mau berbuah, tanaman jeruk langsung meranggas lalu mati. Jadi, tidak bisa menghasilkan apa-apa lagi," kata Harsin yang juga siap berangkat ke Malaysia. Karena itu, kata Harsin, separuh dari sekitar 15.000 penduduk Pulau Siompu sudah hidup di perantauan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di luar negeri, Malaysia.

Mengadu Nasib

Meski di Malaysia mereka tidak menghadapi hidup yang mudah, niat untuk bekerja di negara itu sangat kuat. Tidak sedikit di antara mereka yang mengadu nasib di negeri jiran itu harus kembali ke kampung dengan tangan hampa karena tertangkap polisi Malaysia saat bekerja menjadi buruh kasar di gedung-gedung bertingkat di negara itu.

"Paspor yang kami pegang ini hanya berguna untuk masuk ke negara Malaysia. Setelah berada di Malaysia, kami harus main kucing-kucingan dengan polisi Malaysia karena keberadaan kami dianggap ilegal," kata La Ndiali.

Lebih konyol lagi, ujar Ndiali, ketika warga Sultra yang berangkat sendiri tersebut mengalami kecelakaan kerja jatuh dari bangunan tempat bekerja yang menyebabkan kematian, tidak mendapatkan perlindungan apa pun.

Jenazah yang mengalami kecelakaan pun tak dapat dipulangkan ke kampung halaman, karena tidak ada teman yang bisa mengurus pemulangan jenazah. "Ada di antara TKI asal Sultra yang masuk sendiri-sendiri ke Malaysia mengalami kecelakaan kerja, lalu meninggal dan dikubur di Malaysia," katanya.

Para TKI sebetulnya banyak yang tidak ingin ke Malaysia, jika alam tempat mereka bernaung masih memberikan harapan untuk keberlanjutan hidup keluarga. Namun, nelayan tangkap ikan Pulau Kadatua dan petani jeruk manis di Pulau Siompu, Buton serta petani jambu mete di Kabupaten Muna, tidak lagi mendapatkan kemampuan hidup bertahan di kampung halamannya.

__._,_.___
Recent Activity:
------------------------------------------------------------------
                       TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
------------------------------------------------------------------
Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
-untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@yahoogroup.com

**************************************************************
-Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
               : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
**************************************************************
FOR THE LATEST NEWS link to us: http://PPDi.cjb.net/
                          http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages

ALL ADVERTISERS THAT HAVE NOTHING TO DO WITH condemning indon WILL BE BANNED WITHOUT WARNING!!!
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar