Minggu, 02 September 2012

«PPDi» Re: «PPDi» Young Girl and Boy Found Beheaded in Afghanistan (Google translation)

 



Kali ini kitalupakan saja sepak terejang Soekarno yang telah menyulap Piagam Jakarta kepada Pancasila yang tidak Islami. Kali ini saya salut kepada kejelian Dina Y. Sulaeman dalam mendeteksi ketimpangan sepakterjang presiden Mesir dan Ban Kimun. Rakyat Mesir berkali-kali menyerukan agar diputuskan hubungan dengan Saudi Arabia dan Israel tetapi begitu Mursi terpilih, langsung berencana melakukan kunjungan perdana ke Saudi Arabia. Kunjungan Mursi ke Saudi arabia merupakan pengkhianatan Mursi terhadap Rakyat Mesir. Rakyat Mesir sadar bahwa sepakterjang Kerajaan assaud tidak berbeda dengan Israel. Keberhasilan Mesir tergantung kepada kemampuan mereka untuk memutuskan hubungan dengan "Arab Abu Lahab". Bukankah yang menzalimi Suria sekarang dipimpin oleh Trio, Saudi Arabia, Qatar dan Turkey?. Sedangkan negara yang benar-benar independent sekarang ini juga 3, yakni Republik Islam Iran Libanon dan Suriah plus negara-negara Amerika Laten..

 Selanjutnya Bankimon tidak berbeda sepakterjangnya dengan kaum hypocrite laiunnya termasuk penguasa Turkey dan Mursi. Semoga RII mampu mengatasi segala sepak terjang yang hypocrite tersebut dalam tubuh anggota GNB tersebut (jsl)

Dua Suara Miring dari KTT GNB Tehran
Minggu, 2012 September 02 11:16
338 Views
Font Size
Print
SHARE


Tweet it
Digg it
Google



Oleh: Dina Y. Sulaeman*



Usai sudah Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok (KTT GNB) ke-16 di Tehran. Meskipun selama 30 tahun terakhir AS telah mengucurkan sangat banyak energi dan dana untuk menjadikan Iran sebagai pariah dalam pergaulan internasional, kehadiran top official dari 120 negara di Tehran membuktikan kegagalan upaya itu. Menjelang KTT, berbagai upaya propaganda dilancarkan untuk mencegah kehadiran tokoh-tokoh dunia ke Tehran. PM Israel, Netanyahu menyebut KTT GNB sebagai 'memalukan dan noda bagi kemanusiaan" dan AS terang-terangan menyatakan ketidaksetujuan kedatangan Sekjen Ban Ki Moon ke Tehran.

Upaya AS ini seolah pengulangan sejarah Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Saat itu, seperti dicatat oleh mantan Sekjen Deplu Ruslan Abdulgani dalam bukunya 'Bandung Connection', media AS mempropagandakan bahwa Indonesia tidak akan mampu menyelenggarakan konferensi akbar itu. Bahkan, salah satu media AS mengutip kalimat kasar mengejek Indonesia, "Para pengemis itu tidak akan bisa belajar." Cak Ruslan mengatakan dirinya dan PM Ali Sastroamijojo merasa sedih membaca berita itu tapi hal itu justru mendorong mereka bekerja lebih giat lagi untuk menyukseskan KAA.

Benar saja, hingga kini, suara KAA masih terus menggema. KAA-lah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Non Blok pada tahun 1960. Dalam KAA Bandung, ide-ide independensi dan perjuangan melawan neokolonialisme didiseminasi. Pidato Bung Karno yang histroris itu, masih terasa relevan hingga kini. Beliau mengatakan, "Saya harap Anda tidak memikirkan kolonialismedalam bentuk klasik sebagaimana yang diketahui baik oleh kami bangsa Indonesia, maupun oleh saudara-saudara kami dari berbagai bagian Asia dan Afrika. Kolonialisme juga memiliki penampilan yang modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan juga kontrol fisik yang dilakukan sekelompok kecil orang asing dalam sebuah bangsa. Kolonialisme adalah musuh yang sangat pintar dan ambisius, dan dia muncul dalam berbagai kedok. Kolonialisme tidak menyerahkan (bangsa) jarahannya dengan begitu saja. Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kolonialisme itu menampilkan dirinya, dia tetaplah sesuatu yang jahat, dan dia harus dimusnahkan dari muka bumi ini."

Di Teheran, nama Bung Karno kembali dikenang. Dalam pidatonya di depan peserta KTT, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei, menyebut-nyebut nama Bung Karno. Ayatullah Khamenei mengatakan, "Sebagaimana dikatakan oleh Ahmad Sukarno, salah satu pendiri gerakan Non Blok, dalam konferensi legendaris di Bandung tahun 1955, landasan berdirinya gerakan non blok bukanlah penyatuan geografi atau ras atau agama, melainkan persatuan kebutuhan. Pada waktu itu, negara-negara yang bergabung dalam GNB membutuhkan kerjasama yang bisa membebaskan mereka dari kekuatan arogan dunia, dan kebutuhan tersebut masih dirasakan hingga hari ini seiring dengan semakin meluasnya cengkeraman kekuatan imperialisme."

Ya, tak perlu banyak dibahas, kita semua sudah merasakan bahwa imperialisme model baru, atau neokolonialisme, masih mencengkeram bangsa-bangsa di dunia. Sebagaimana diungkapkan John Pilger dalam film dokumenternya 'New Ruler of The World', saat ini ada sekelompok kecil orang yang sedemikian berkuasa di muka bumi, sehingga kekayaan mereka bahkan lebih banyak dari kekayaan seluruh manusia di benua Afrika. Mereka hanya memiliki 200 perusahaan, namun menguasai ¼ perekonomian dunia. Bahkan sebagian perusahaan itu lebih kaya dari satu negara. Misalnya, General Motors lebih kaya daripada Denmark, Ford lebih kaya dibanding Afrika Selatan.

Bagaimana cara mereka mendapatkan uang sebanyak itu? Tak lain, melalui perbudakan era modern. Mereka membangun pabrik-pabrik di negara berkembang (antara lain Indonesia) dengan upah yang sangat rendah, nyaris seperti budak, lalu menjual produknya dengan harga sangat tinggi. Contohnya, kata Pilger, sepotong celana merek GAP dijual Rp.112.000 di London, sementara buruh di Indonesia yang membuat celana itu hanya mendapat upah Rp500 per-potong. Tak heran bila si produsen meraup untung 38 M dollar, dan CEO-nya mendapat gaji 5,5 juta dollar per tahun.

Seperti kata Bung Karno, para kolonial itu tidak akan mau melepas begitu saja negara-negara jajahan mereka. Setelah era kolonialisme usai, mereka membuat sistem penjajahan baru melalui sistem liberalisasi pasar dan hutang kepada IMF atau Bank Dunia.

Pada tahun 1970, di Havana Kuba, idealisme GNB dirumuskan dengan lebih tajam, yaitu, "untuk menjamin kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara nonblok dalam perjuangan mereka menentang imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme, apartheid, zionisme, rasisme dan segala bentuk agresi militer, pendudukan, dominasi, interferensi atau hegemoni dan menentang segala bentuk blok politik."

Namun sayang, ada dua peristiwa memalukan yang terjadi dalam KTT GNB Tehran, yang justru semakin membuktikan kebenaran tesis Bung Karno: penjajahan itu masih ada, tapi dalam bentuk baru.

Pertama adalah pidato dari Presiden Mesir, Muhammad Mursi. Awalnya, kehadirannya seolah menunjukkan independensi di hadapan Barat. Tapi, ternyata Mursi masih tetap berdiri dalam barisan yang sama dengan Barat: mendukung penggulingan rezim di Syria. Mursi menyerukan para anggota GNB untuk bersatu mendukung 'perjuangan' rakyat Syria. Secara terang-terangan, Mursi menyebut pemerintah Syria sebagai 'rezim opresif' dan menyatakan bahwa pihaknya mendukung kehendak rakyat Syria untuk mencapai kebebasan dan kesetaraan.

Pidato Mursi ini jelas bertentangan dengan etika diplomasi dan melanggar konvensi GNB yang menolak interferensi atas urusan internal negara lain. Kalaupun Mesir memiliki pendapat tertentu terkait Syria, etikanya, disampaikan pada sidang-sidang perumusan deklarasi; dan nantinya akan dilakukan deklarasi bersama GNB terkait Syria. Tak heran bila delegasi Syria dalam KTT tersebut langsung melakukan aksi walkout. Mursi secara sepihak memosisikan diri sebagai hakim dalam konflik internal negara lain dan memutuskan siapa yang salah dan benar di antara dua kubu: pro Asad atau pro-Barat. Katakanlah benar, bahwa Mursi seorang pemimpin negara muslim yang sedang ingin membela perjuangan rakyat tertindas. Lalu, mengapa dia tidak bersuara membela penindasan atas rakyat Bahrain yang juga ingin mencapai kebebasan dan kesetaraan? Ah, mungkin, Mursi sungkan mengkritik rezim monarkhi Bahrain, yang jelas-jelas didukung Arab Saudi. Arab Saudi-lah yang mengirim tentara bantuan ke Bahrain, untuk membantu membasmi gerakan perlawanan rakyat Bahrain terhadap rezim monarkhi.

Apapun juga alasannya, yang jelas, Mursi sudah bersuara miring di KTT GNB dan telah menjadi corong Barat untuk menekan Syria. Mursi lebih memilih terus memanaskan isu konflik sektarian dan menari dengan tabuhan genderang Barat; alih-alih bergandengan bersama negara-negara GNB untuk membebaskan Dunia Ketiga dari penjajahan neo-kolonial.

Suara miring kedua, sayang sekali, datang dari orang yang semula dipuji-puji karena berani melawan tekanan Barat: Ban Ki Moon (Sekjen PBB). Meskipun ditekan AS dan Israel, Ban tetap hadir di Teheran, seolah berusaha membuktikan bahwa PBB adalah lembaga independen. Tapi rupanya, Ban punya agenda tersendiri dalam kehadirannya di Teheran, yaitu menyampaikan pesan Israel.

Dalam pidatonya, Ban mengkritik pihak yang 'menyerukan pembubaran Israel' dan 'mengingkari Holocaust'. Meskipun tidak terang-terangan menyebut Iran, tapi semua bisa menangkap, bahwa yang dimaksud Ban jelas Iran. Baiklah, bila Ban sebagai Sekjen PBB merasa perlu bersikap netral dengan membela Israel. Tetapi, mengapa dia tidak memberikan pembelaan kepada bangsa Palestina yang selama 63 tahun terakhir dijajah oleh Israel? Melalui Resolusi 181 tahun 1947, PBB memerintahkan agar tanah Palestina dibagi dua dengan Israel. Orang-orang Yahudi didatangkan dari benua AS, Eropa, dan Afrika untuk menjadi penduduk negara jadi-jadian itu. Selain bertentangan dengan konsep berdirinya sebuah negara, bukti-bukti sudah sedemikian nyata bahwa telah terjadi kejahatan melawan kemanusiaan di Palestina. Kota dan desa milik bangsa Palestina dibubarkan, penduduknya diusir, hanya dengan alasan wilayah itu sudah dihadiahkan PBB kepada Israel. Mana suara Ban Ki Moon untuk Palestina?

Ban juga tak lupa menyebut Syria dan terang-terangan pro-oposisi. Dia menyebut konflik di Syria 'gara-gara' aksi damai yang dihadapi dengan kekerasan oleh pemerintah. Tapi, dia 'lupa' menyebut-nyebut Bahrain? Bukankah rakyat Bahrain juga mengalami hal yang sama seperti dituduhkan Ban atas Syria: aksi damai yang dihadapi dengan kekerasan?

Anehnya, Ban seperti buta, tak melihat buki-bukti bahwa AS, Eropa, dan Turki, dan negara-negara Teluk sudah terang-terangan melanggar hukum internasional dengan mendanai dan mempersenjatai kelompok oposisi Syria. Bahkan, tingkat penjualan senjata AS tahun 2011 sudah meningkat tiga kali lipat dibanding setahun sebelumnya, dan separohnya dijual ke negara-negara monarkhi di Teluk yang terang-terangan menyuplai senjata kepada pihak oposisi Syria. Lalu, mana suara Ban?

Ah, sudahlah. Topeng sudah terbuka. Ban memang bersedia hadir di KTT GNB, yang jelas-jelas dibentuk dengan spirit melawan neokolonialisme dan neoimperialisme. Namun dia dengan tebal muka menampilkan dirinya sebagai juru bicara dari kekuatan neokolonial itu.

Meskipun dua suara miring itu sempat menodai KTT GNB Tehran, suara murni spirit GNB tetap lebih menggema. Hal ini terbukti dari Deklarasi KTT GNB ke-16 yang konsisten dengan spirit GNB, antara lain: menyerukan perlucutan sejata nuklir di dunia, mendukung perjuangan rakyat Palestina, mengecam Barat terkait terorisme, rasialisme, dan diskriminasi, menolak intervensi militer asing di Syria, dan mendukung pemberdayaan energi nuklir untuk tujuan damai. Yang terpenting tentu saja: menyuarakan reformasi Dewan Keamanan PBB, lembaga yang selama ini memberikan stempel pengesahan perang terhadap negara-negara yang tak disukai AS dan sebaliknya, bersikap abai terhadap kejahatan yang dilakukan Barat dan Israel. (IRIB Indonesia)

*magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran dan research associate Global Future Institute

Tags:
Related News
Gerakan Mematahkan Monopoli Kekuatan Arogan

Read More >>

__._,_.___
Recent Activity:
------------------------------------------------------------------
                       TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
------------------------------------------------------------------
Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
-untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@yahoogroup.com

**************************************************************
-Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
               : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
**************************************************************
FOR THE LATEST NEWS link to us: http://PPDi.cjb.net/
                          http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages

ALL ADVERTISERS THAT HAVE NOTHING TO DO WITH condemning indon WILL BE BANNED WITHOUT WARNING!!!
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar