Jumat, 07 September 2012

Re: Bls: [M_S] Re: Bls: Analisis Diskusi dg Prof Thomas Djamaludin, 1 September 19.00 Uhamka

 

Selamat datang Pak Thomas, terima kasih sudah bersedia berdialog dalam milis ini.


Saya akan memulai statemen antum yg dikutip oleh Bung Pranoto (italic):  
"QS 36:37 lebih terkait dengan gerak rotasi bumi, yang juga disinggung di QS 36:40. Jadi, tidak ada sama sekali nuansa gerak semu dalam ayat QS 36:40 tersebut yang mengarah pada pemaknaan WH.". 

  1. Menurut saya statemen ini justru aneh (apa enggak salah kutip? tolong Bung Pran juga double check), karena justru gerak rotasi Bumi pada porosnya itulah yang menghasilkan gerakan semu Matahari, Bulan, bintang, planet, bahkan satelit (buatan) tampak mengelilingi Bumi.
  2. Dalam milis yang lalu (antum belum bergabung), saya sudah katakan bahwa Ya Sin 38-40 menjelaskan dua2 fenomena astronomis sekaligus. 
    • Pertama menjelaskan pergerakan Matahari (makro) dalam mengorbit galaxy seperti yang antum jelaskan dalam diskusi di Uhamka.
    • Namun, Ya Sin 38-40 juga menjelaskan fenomena mikro pergerakan semu Matahari yang mengelilingi Bumi akibat rotasi Bumi pada porosnya (yang saya anggap aneh di kutipan Bung Pranoto diatas). Mengapa? Karena pada fenomena astronomis terbentuknya al-urjun pada 36:39 adalah akibat dari fenomena mikro ini. Enggak mungkin ini terkait dengan gerakan makro Matahari. Insya Allah yang dirujuk Allah adalah justru gerakan mikronya.
    • Pada 36:40 nya pun, menurut saya ini adalah penjelasan fenomena mikro untuk pendefinisian akhir manzilah dari orbit Bulan, dimana dikatakan Matahari tidak akan mengejar Bulan. Artinya, jika suatu saat Matahari telah dapat melampau Bulan, maka itulah awal manzilah baru Bulan yang menandai awal bulan qomariyah. Bahwa di ayat ini juga menjelaskan fenomena gerakan makro Matahari memang betul. Artinya, meskipun tampak Matahari "menabrak"  Bulan (istilahnya Bung Pran), dua benda ini berada pada dimensi (space dan size) yang berbeda.
  3. Dalam geodetic astronomy (saya kira juga dalam astronomi secara umum), sudah sangat umum untuk melakukan perhitungan posisi benda2 langit (termasuk satelit buatan) dilakukan dg memproyeksikan benda langit tsb ke sebuah celestial sphere raksasa dengan diameter tak terhingga. Jadi semua benda langit itu dianggap menempel (dan bergerak) pada bola langit ini. Dengan melakukan ini, perhitungan dapat dilakukan dengan akurasi tertinggi. Analoginya adalah spt seorang artis yang menggambar biasanya dalam skala 2-3 kali lebih besar daripada gambar aslinya yang nanti ketika dicetak, sehingga setiap detil dapat digambar lebih akurat. Itulah penjelasan 36:40 di atas. Jadi meskpun tampak Matahari mendahului Bulan dalam bola angit di atas, sebetulnya mereka berada dalam spaciaL domain yang berbeda. Inilah yang saya sampaikan dalam diskusi di Uhamka: jika antum tidak menggunakan prinsip bola langit raksasa ini, gimana penganut imkan-rukyat mengukur sudut elongasi Matahari-Bulan?
Namun, yang lebih penting adalah: Ya-Sin 38-40 bukanlah satu2 nya dasar bagi Muhammdaiyah dalam mengadopsi wujudul hilal sebagai kriteria menentukan awal bulan qomariyah (catatan: silahkan Ki Ageng, Pak Syamsul, Pak Agus koreksi saya CMIIW). Muhammadiyah juga mengimani hadis "summu lirukyatihi" dan hadis2 sejenis tentang hilal. Hanya, Muhammadiyah (dan khususnya saya pribadi) tidak menganggap bahwa "rukyah" di sini harus dimaknai dengan melihat hilal secara fisik dengan mata (apalagi dg naked eyes), karena itu adalah kriteria bagi kaum yang ummiy yang belum memiliki cara lain untuk memastikan kehadiran hilal. Makanya, kami menganut hisab murni dengan kriteria wujudul hilal.

Untuk sementara itu dulu. 
Wassalam,
Tono Saksono


2012/9/7 pranoto hidaya rusmin <pranotohr@yahoo.com.sg>
 

Benar....yang sering muncul justru yang berlatar belakang sains, padahal komentar awal dari Pak Thomas justru terkait tafsir Yasin 37-40, yang menjadi inspirasi munculnya WH. Semoga Pak Yusron berkenan ikut mengkritisi, Pak Wahyudi, Pak Mu'iz, Pak Mujib, Pak Rois, Pak Nugon.....
Akan sangat berarti kalau Prof. Syamsul juga ada beserta kita, tentu akan dapat memberikan penjelasan yang jauh lebih baik terkait tafsir Yasin 37-40.

Sy cuplik kembali komentar Pak Thomas berikut ini:

"QS 36:37 lebih terkait dengan gerak rotasi bumi, yang juga disinggung di QS 36:40. Jadi, tidak ada sama sekali nuansa gerak semu dalam ayat QS 36:40 tersebut yang mengarah pada pemaknaan WH.".

Kalau saya tidak salah tangkap, gerak semu di sini mrp gerak semu harian mthr. munculnya gerak semu mthr disebabkan pengamat berada di bumi. Nah, berarti salah satu ciri yg perlu diperhatikan pd ayat2 di atas, Yasin 37-40, adl letak pengamat mthr atau bulan yg muncul dari pemahaman ayat tsb. misal, Yasin 39 yang mengungkapkan bentuk muka bulan seperti tandan tua atau urjuunil qadim, mrp bentuk muka bulan dalam perspektif manusia di bumi, bukan dari ruang angkasa. Krn Yasin 39 sangat terkait dg Yasin 40, bgmn kita dapat menyimpulkan perspektif dalam Yasin 39 tsb tidak muncul dalam Yasin 40 ? sehingga, dapat disimpulkan Yasin 40 sama sekali tdk ada kaitannya dg gerak semu matahari.


itu yg terpikir sementara.......
mohon koreksinya




From: N.A. Widyanahar <widyanahar@gmail.com>
To: "Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com" <Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com>
Sent: Friday, 7 September 2012, 10:33

Subject: Re: Bls: [M_S] Re: Bls: Analisis Diskusi dg Prof Thomas Djamaludin, 1 September 19.00 Uhamka

 
Dg persetujuan tsb, dg add lebih memudahkan prosesnya.

Kami ucapkan ahlan wa sahlan, selamat datang utk Prof DR Thomas Djamaludin. Mengingat milis ini mengandung banyak topik, mungkin nanti Pak Thomas bisa mengkonfirmasi setting email yg diinginkan.


Selanjutnya ialah dg menentukan siapa moderator/notulen untuk sesi khusus diskusi kalender ini? Dg tingkat availability dan konsentrasi, sptnya pak Pranoto cocok untuk diskusi ini. Juga lebih netral. :) :). Atau apakah ada saran dari member lainnya? Pls feel free untuk mengajukan diri.

Karena diskusi ini pasti menyangkut aspek lughah/kebahasaan.
Kami juga menyarankan kontribusi dari ahli linguistik dalam diskusi ini. Apakah ada teman2 yang berasal dari kompetensi S1 atau S2 Bahasa/Sastra Arab, syukur2 studi lanjutnya di bidang Tafsir. Mohon info dan referensi MS Netters terlebih dahulu.

(Untuk mengingatkan lagi, moderator ms sbg administrator milis, menyiapkan keleluasaan bagi netters untuk menginisiasi dan membentuk diskusi dg topik khusus yg menjadi concern bersama, tentunya dg adhoc moderator dr netters sendiri. Monggo..)


Bersama kita sudah ada DR Ki Ageng Fatah Wibisono, Prof DR Tono Saksono, DR Agus Purwanto. Sebetulnya kita memerlukan Prof Syamsul... mohon bantuannya.

Kalau sudah ditentukan moderatornya, ditetapkan aturannya, nanti silakan buka thread baru.

N.A. Widyanahar
information system helps you



From: Thomas Djamaluddin <t_djamal@yahoo.com>


Assalamu'alaikum wr. wb.,

Sumber masalah adalah pembenaran WH berdasarkan QS 36:40 itu tidak tepat.
Silakan baca http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/.

Berikut ini penejalasan tambahan saya di FB:
QS 36:40 yang dijadilkan landasan WH tidak bisa dimaknai sebagai gerak semu, karena pada akhir ayat "wakullu fii falakiyyasbahun" (dan masing beredar di orbitnya) menegaskan tidak mungkinnya matahari mendapati/mengejar bulan bukan karena gerak semu, tetapi karena gerak dirinya (proper motion) yang berbeda, yang sudah dijelaskan di QS 36:38-40. Kita semua tahu, dalam memahami ayat-ayat Al-Quran tidak boleh dipenggal-penggal, harus dilihat konteksnya secara utuh.

WH adalah penyederhanaan dari IR untuk memudahkan perhitungan yang (pada masa pra-komputer) sangat rumit. Dalil Qs 36:40 hanyalah pembenaran yang dikemukakan oleh Pak Saaduddin Jambek sekitar awal 1970-an, termasuk kosep garis tanggal WH, dalam bukunya "Hisab Awal Bulan". Mahasiswa S3 bimbingan saya (sekarang sudah doktor) juga tidak menemukan dalil QS 36:40 dalam berbagai kitab yang dimaknai sebagai WH.

Semoga kita sepakat bahwa tafsir QS 36:40 dalam kitab "al-Tahhir wa al-Tanwir" pun tidak menyebutkan pemaknaan WH. Kalau kita timbang, antara pemaknaan "gerak semu" dan "gerak hakiki/gerak sejati/gerak diri/proper motion", jelas lebih berat ke arah pemaknaan gerak diri, setidaknya salah satu makna yang jelas dari "yasbahun" adalah "beredar" ada pula yang memaknai seperti "berenang/bergerak mengapung". Karena ayat ini terkait dengan ayat kauniyah (fenomena alam), alat bantu sains (dalam hal ini astronomi) tentu sangat membantu pemahaman maknanya. Secara astronomi, ayat-ayat itu (khususnya QS 36:38-40) secara gamblang menjelaskan gerak diri matahari dan bulan serta ketampakannya. QS 36:37 lebih terkait dengan gerak rotasi bumi, yang juga disinggung di QS 36:40. Jadi, tidak ada sama sekali nuansa gerak semu dalam ayat QS 36:40 tersebut yang mengarah pada pemaknaan WH.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

T. Djamal
 







--
htt://cis-saksono.blogspot.com

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar