Senin, 17 September 2012

Re: [buruh-migran] Perempuan Nepal Dilarang Kerja ke Negara Teluk

 

Sdr Prajoko
 
Banyak terimakasih.
 
Salam dan banyak hormat,
Sunny
 
Sent: Monday, September 17, 2012 12:13 PM
Subject: Re: [buruh-migran] Perempuan Nepal Dilarang Kerja ke Negara Teluk
 
 

Bisa dicoba disini:

http://bnp2tki.go.id/statistik-mainmenu-86/penempatan/6756-penempatan-per-tahun-per-negara-2006-2012.html

http://pusdatinaker.balitfo.depnakertrans.go.id/katalog/download.php?g=2&c=17

 

From: Sunny <ambon@tele2.se>
To: buruh-migran@yahoogroups.com
Sent: Monday, September 17, 2012 3:08 PM
Subject: Re: [buruh-migran] Perempuan Nepal Dilarang Kerja ke Negara Teluk
 
 
Netters yang budiman,
 
Kalau ada diantara Anda yang memiliki data statistik tentang jumlah TKI/TKW di berbagai negara dalam 5 tahun terakhir, apakah bisa saya peroleh atau diberitahukan sumber dimana bisa didapat. Atas perhatian dan bantuan Anda saya ucapkan banyak terimakasih.
 
Hormat,
Sunny
 
 
From: Yohanna Jo
Sent: Monday, September 17, 2012 8:32 AM
Subject: [buruh-migran] Perempuan Nepal Dilarang Kerja ke Negara Teluk
 
 

KLIPING BERITA
Septeber  2012
Sumber Berita
M
S
S
R
K
J
S
 
 
 
 
 
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
18
29
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
 
 
 
 
 
 
Perempuan Nepal Dilarang Kerja ke Negara Teluk
Sabtu, 15 September 2012 11:17 Rajan Parajuli
Bulan lalu, pemerintah Nepal melarang perempuan asal negara itu yang berusia di bawah 30 tahun untuk bekerja di negara-negara Teluk.

Pemerintah beralasan, ini untuk melindungi perempuan dari aksi kekerasan.
Sekitar empat juta orang Nepal bekerja di luar negeri. Bagi perempuan, bekerja sebagai pekerja rumah tangga adalah pekerjaan yang paling mudah.

Tapi apa yang seharusnya dilakukan pemerintah: melarang atau melindungi para pekerja migran?

Kita simak laporan selengkapnya yang disusun Rajan Parajuli berikut ini.

"Saya ingat suami saya hari itu. Saya tidak bisa berhenti menangis. Jika suami saya baik, saya tidak akan meninggalkan negeri ini dan lima anak saya yang mulai dewasa. Saya tidak pernah bahagia....Semua anak saya menangis di luar bandara. Saya juga menangis selama penerbangan. Saya harus melakukannya jika ingin melihat anak-anak saya bahagia dan ada jaminan bagi hari tua saya."
Kamala Chaudhari meninggalkan Kathmandu bulan Mei lalu menuju Kuwait untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga.
Dia tidak mendapatkan pelatihan atau pengetahuan tentang Kuwait, baik budaya maupun bahasanya, sebelum bekerja di sana.
Agennya menjanjikan gaji Rp 1,9 juta perbulan. Tapi di sana ia malah disiksa.

"Satu pagi saya dengar ada ribut-ribut di luar dapur. Lalu saya keluar. Ada beberapa orang pria di luar. Saya tidak memandang wajah mereka karena begitu aturannya. Tapi tiba-tiba mereka menyiramkan cairan ke tubuh saya. Saya langsung tidak bisa bernafas dan tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Saat terbangun saya sudah ada di ranjang rumah sakit. Tubuh saya berdarah dan tergores. Ada luka besar di paha. Perut dan dada saya penuh luka dan goresan."

Kamala hanya bertahan empat bulan di Kuwait.

Kata dia, perempuan tidak boleh bekerja di negara Teluk mana pun. Kini ia tidak bisa berjalan dengan baik dan terus menerus menderita sakit kepala dan sakit di sekujur tubuhnya.
Ia bisa pulang ke rumah atas bantuan Paurakhi, sebuah LSM yang bekerja untuk hak-hak pekerja migran perempuan.

Agni Rai adalah seorang paralegal di Paurakhi. Ia bilang sebagian besar kasus ini berasal dari negara-negara Teluk.
"Kami menerima lebih dari 500 keluhan dari pekerja migran. Mulai dari kasus pemerasan sampai kekerasan seksual. Kebanyakan dari mereka dipukuli di rumah. Mereka juga tidak diberi makan dan menerima gaji. Lebih dari 90 persen kasus, pekerja migran pergi keluar negeri tanpa dokumen."

Ini bukan kali pertama Nepal memberlakukan larangan bagi pekerja perempuan untuk pergi ke negara Teluk.
Larangan pertama tahun 1998, setelah kasus Kani Sherpa yang diperkosa banyak laki-laki lantas didorong dari balkon hingga tewas saat ia bekerja di Kuwait. Sementara Pemerintah Kuwait mengatakan Kani bunuh diri.
Larangan itu dicabut dua tahun lalu dan kini hampir dua ribu orang Nepal pergi ke negara Teluk setiap hari untuk mencari pekerjaan. Sekitar 15 persen diantaranya adalah perempuan.

Direktur Departemen Pekerjaan Luar Negeri, Kashi Raj Dahal, menjelaskan kenapa pemerintah kembali melarang perempuan Nepal di bawah usia 30 tahun untuk bekerja di sana.

"Masalah utama adalah UU Ketenagakerjaan yang tidak mengatur pekerja rumah tangga di Negara Teluk. Kedutaan besar kami berulang kali melaporkan berbagai kasus kekerasan fisik dan seksual. Juga para pekerja perempuan Nepal yang tidak menerima gaji, serta aturan delapan jam kerja sehari tidak dilaksanakan di semua wilayah. Kami bertanggung jawab untuk melindungi perempuan kami."

Q. Tapi mengapa menurut Anda batasan usia akan menyelesaikan masalah ini?

"Itu karena sebagian besar perempuan yang pergi ke Negara Teluk di bawah 20 tahun. Mereka itu tidak tahu mau kemana dan pekerjaan apa yang akan mereka lakukan. Bahkan negara tetangga India, sudah menetapkan batasan umur 30 tahun bagi perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Negara Teluk."

Ini adalah pusat pelatihan bagi pekerja migran perempuan di pinggiran Kathmandu.

Ini kursus wajib bagi semua pekerja migran, yang dijalankan oleh agen tenaga kerja yang sudah mendapat izin dari pemerintah.
Shiva Chandra Manual mengajar di sini.

"Kami mengajarkan bahasa dan cara bersih-bersih, mencuci dan memasak. Saya harus mengajarkan pengetahuan soal kantor-kantor yang terkait seperti Kedutaan, Kementerian Tenaga Kerja, dan hak-hak pekerja. Saya juga mengajarkan apa yang harus dilakukan jika para majikan menyiksa mereka."

Sabina Bajgain, 22 tahun, memperhatikan pelajaran. Ia berasal dari sebuah desa kecil di Nepal Barat.

Ia tidak khawatir bekerja di negara-negara Teluk walau ada kasus-kasus penyiksaan sebelumnya.

"Pekerjaan rumahan itu mudah bagi kami karena di sini kami juga melakukannya. Saya tidak begitu yakin kalau perempuan benar-benar tidak aman di Negara-negara Arab. Jika kami disiksa, negara itu kan juga punya hukum. Kita harus melaporkannya ke lembaga terkait. Kami ke sana untuk bekerja. Hanya itu. Jika saya percaya diri, tidak ada yang bisa memaksa saya melakukan sesuatu yang tidak saya mau. Ada banyak perempuan di sana, dan hanya beberapa kasus penganiayaan. Jika saya dapat gaji yang menarik, saya tidak keberatan pergi ke Negara Arab."  

Menurut pemerintah, saat ini ada 40 ribu perempuan Nepal yang bekerja di negara-negara Teluk. Tapi para aktivis pekerja migran mengklaim angka di lapangan jauh lebih tinggi. Dan hanya sedikit yang punya izin kerja resmi.

Human Rights Watch mendesak pemerintah untuk mencabut larangan itu dan meminta pemerintah memperbaiki pelatihan bagi pekerja migran, mengawasi agen tenaga kerja dan memastikan bantuan bagi pekerja migran.

Saru Joshi Shrestha adalah spesialis program di lembaga PBB untuk kesetaraan gender. Ia mengatakan  pemerintah seharusnya melakukan lebih banyak hal untuk melindungi semua pekerja migran termasuk perempuan.

"Seharusnya ada lembaga lokal di kotamadya. Mereka harus menyebarkan informasi tentang migrasi tenaga kerja asing. Kedua negara, baik Nepal dan Negara Teluk, seharusnya memasukkan pekerjaan rumah tangga ke dalam UU ketenagakerjaan, karena saat ini  belum ada. Kita juga punya banyak pekerja tak berdokumen di sana. Mereka harus bekerja keras menangani masalah ini agar para perempuan tak berdokumen ini menjadi pekerja resmi. Kedutaan besar harus dilengkapi peralatan yang cukup serta sumber daya manusia dan ekonomi yang memadai. Mereka seharusnya punya mobil atau kendaraan lain, pengacara, dokter, dan penasihat. Ada  permintaan besar tapi pasokan benar-benar lemah."

Pemerintah Nepal bisa mengkaji ulang larangan itu jika situasi berubah di Negara Teluk.

Tapi kemana pun pekerja migran pergi, Sobha Mogar, berbagi tips bertahan hidup saat ia bekerja dua tahun di Kuwait.
"Pertama kita harus tahu kemana kita akan bekerja. Jika kita tahu bahasanya akan sangat membantu. Anda harus menjaga hubungan baik dengan majikan. Ceritakan masalah Anda pada mereka. Dan cobalah agar agen perekrutan  bisa mengunjungi Anda setiap bulan. Ini akan menciptakan tekanan pada majikan untuk memperlakukan kita dengan baik."


__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar