Kamis, 06 September 2012

Re: [M_S] to Pak Nugon lagi

 

Ya, menurut saya, mengatakan "Si Gus Dur" saja rasanya sudah kelewatan lah.

Bagaimanapun nyelenehnya beliau, beliau adalah ex presiden yang harus dihormati.
Apalagi sudah meninggal. Kalaupun toh kita akan mendiskusikan keburukan kebijaksanaan beliau sebagai pejabat publik yang merugikan masyarakat, adab menggunjingkannya juga harus dijaga. Jangan lupa, ada jutaan orang yang menganggap beliau sebagai figur yang luar biasa dan sangat mengagumkan. Jadi hormati juga mereka ini, terlepas kita setuju atau tidak dg anggapan itu.

Kata "si" dalam bahasa Jawa mungkin tidak terlalu sensitif. Tapi dalam bahasa dan wilayah Sunda, "si" itu biasanya untuk binatang, Tak tau kalau di Sumatra dan lain2 tempat. Jadi, baiknya lebih santun lah.

Salam,
TS


2012/9/6 Dedi Afriadi <afriadi2002@yahoo.com>
 


Assalamu`alaikum
Saya rasa jawaban ini sudah menjawab semuanya sebagai bentuk refleksi dari peristiwa yg sering berlaku..
1. Saya rasa komentar saya dan perasaan bapak adalah natural-alami. Apa yg saya tulis mungkin hal yg sama dirasakan oleh jutaan manusia di luar sana. Dan mungkin hal yg sama juga dirasakan dan dialami oleh minoritas muslim Uighur di Cina di Rohingya Myanmar, Thailand, India, Amerika dll.
2. Saya tidak mempermasalahkan cina, india muslim dll krn al-Qur`an mengatakan bahwa sekiap orang yg beriman utu bersaudara.
3. Di Malaysia ada Menteri India & Cina, padahal jumlah mereka hanya sekitar 30% saja.. Masalahnya, adakah mungkin muslim minoritas (sekitar 30% bisa jadi Menteri dll) di negara non muslim seperti di atas.
4. Sy rasa tuntutan Islam jelas bahwa mengangkat orang kafir jadi pemimpin tidak boleh.
 Terima Kasih 


From: nugon19 <nugon19@yahoo.com>
To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, September 5, 2012 2:20 PM
Subject: [M_S] to Pak Dedi lagi

 
ane harus mengajari ente dgn keras, pribahasa, "lain luka, lain dibebat. lain gatal, lain digaruk".

jawaban ente di bawah itu apa hubungannya dgn kalimat ente sbb:
"Gara2 Si Gusdur Yg Menghilangkan Istilah Non Pribumi, Skrg Orang Cina Sudah Berani Menjadi Calon Wakil Gubernur.. Tak Lama Lagi Mau Nyapres Mereka Itu.."

selain itu juga kurang menjawab email ane sebelumnya , sbb:
-=-=-=-=-
Mas Dedi, kalau ane yg keturunan etnis Tionghoa ini, mau nyalonin diri jadi Pejabat s/d Presiden , ente ada masalah??? (sekarang sih bukan ngajuin diri dan kagak minat ama yg begituan...tapi dipaksa dan dikerjain warga, ditunjuk jadi pengurus RT).

lalu apa ada aturan agama yg melarang? (Alhamdulillah ane muslim)
lalu apa ada aturan UU yg melarang?
apalagi ini kan negara demokrasi!!!

ndak suka ama etnis tertentu sih ndak masalah...
tapi jangan menjadikan Gus Dur sebagai bemper utk menyatakan ketidaksukaan.

btw kalau di Malaysia, bgm ceritanya?
-=-=-=-=-

blm kasih tahu apakah di Malaysia, orang non-muslim apalagi dari etnis Tionghoa, boleh jadi gubernur, perdana menteri atau yg sejenisnya? yg menggambarkan tingkatan pengambilan keputusan, tingkatan eksekusi pemerintahan. atau boleh memegang otoritas yg tinggi dlm urusan terkait agama/umat Islam secara langsung?

kalau mentri saja, itu tdk relevan, karena lebih jabatan pembantu dan jabatan kompetensi yg spesifik.

ente jangan mengalihkan topik dan memperlebar pembicaraan.
itu tanda orang yg rendah adab dan rendah kualitas intelektualnya.
mau setinggi apa gelar akademik ente....kalau seperti ini cara ente ber-milis,
itu tanda gelar ente dipertanyakan, tdk sebanding dgn kenyataan yg ada pd adab ente bermilis, dan tdk mencerminkan tingkat intelektualitas yg sesungguhnya. 

--- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, Dedi Afriadi <afriadi2002@...> wrote:
>
> Assalamu`alaikum
> SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF ZAHIR & BATHIN UNTUK SEMUA
> 1. Saya rasa komentar saya dan perasaan bapak adalah natural-alami. Dan mungkin hal yg sama juga dirasakan dan dialami oleh minoritas muslim Uighur di Cina di Rohingya Myanmar, Thailand, India, Amerika dll.
> 2. Saya tidak mempermasalahkan cina, india muslim dll krn al-Qur`an mengatakan bahwa sekiap orang yg beriman utu bersaudara.
> 3. Di Malaysia ada Menteri India & Cina, padahal jumlah mereka hanya sekitar 30% saja.. Masalahnya, adakah mungkin muslim minoritas (sekitar 30% bisa jadi Menteri dll) di negara non muslim seperti di atas.
> 4. Sy rasa tuntutan Islam jelas bahwa mengangkat orang kafir jadi pemimpin tidak boleh.
> Terima Kasih
>





--
htt://cis-saksono.blogspot.com

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar