Sabtu, 15 September 2012

Catatan Netters Re: [M_S] Validitas QS 36:39-40 sebagai dasar WH

 

tambahan, dari Kamus Bahasa Indonesia keluaran Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional , Jakarta, 2008:


produk n 1 barang atau jasa yg dibuat dan ditambah gunanya atau nilainya dl proses produksi dan menjadi hasil akhir dr proses produksi itu; 2 benda atau yg bersifat kebendaan spt barang, bahan, atau bangunan yg merupakan hasil konstruksi; 3 hasil; hasil kerja; — kasar bahan-bahan yg masih utuh, belum dioleh sama sekali msl kayu utuh yg belum dibuat mebel; — konsumen barang dan jasa yg siap dijual atau digunakan secara langsung oleh konsumen; — wisata segala aspek wisata yg dialami oleh wisatawan selama mengadakan suatu perjalanan wisata spt atraksi, fasilitas, dsb

rasanya Al-Quran tdk sesuai atau tdk tepat diterangkan dgn kata "produk" , karena dari 3 jenis makna/pemahaman tsb, kurang tepat disandingkan dgn Al-Quran yang merupakan Kalamullah.


--- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "nugon19" <nugon19@...> wrote:
>
> saya sangat terkesan dan menikmati sekali diskusi yg ada di Milis
> Muhammadiyah Society ini. berbobot, dan mengesankan.
> sulit dicari tandingannya atau dicari padanannya dgn milis-milis yg
> lain, terutama milis yg saya mengikutinya secara aktif. salut utk
> Muhammadiyah dan milis Muhammadiyah Society.
>
> utk Mas Fami, rasanya tidak tepat menulis statement seperti berikut:
> "Alquran sbg produk budaya". Karena ijma' Ulama, Al-Quran adalah
> Kalamullah.
> namun dalam kajian tafsir, Al-Quran menyebutkan bahwa Al-Quran
> diturunkan dgn bhs kaum dari Nabi, dan diturunkan umumnya dlm konteks
> bahasa dan pemahaman yg secara garis besar mudah dipahami oleh umat
> khususnya di era turunnya wahyu.
> ini juga diperkuat sendiri oleh Al-Quran, tatkala menjawab pertanyaan
> mengapa Al-Quran tidak diturunkan seketika, melainkan diturunkan
> bertahap, beberapa ayat sekali turun...salah satu hikmah dan tujuannya
> agar lebih tertanam dalam hati, lebih mudah diingat.
> jadi wajar sekali tafsir Al-Quran dipahami dgn kondisi pd masa
> tsb.apalagi ini diperkuat oleh kajian Asbabun-Nuzul.
> hanya saja, perlu disadari, Al-Quran Kalamullah, dari Allah Sang Maha
> Mengetahui. Al-Quran diturunkan dgn Ilmu-Nya. Ilmu Sang Maha Pencipta,
> Pencipta Alam Semesta.
> Sehingga gaya bahasanya selain sesuai dgn konteks pd masa turunnya
> wahyu...juga bersifat lentur menembus batas waktu. kadang kala berbicara
> dgn gaya bahasa yg bertepatan dgn pemahaman yg sedang berkembang di era
> di mana si pendengar/pembaca Al-Quran berada.
> ini termasuk beberapa ayat sangat akrab atau mirip dgn kajian ilmiah,
> perkembangan sains. ini wajar, karena Al-Quran dari Allah, Pencipta Alam
> semesta. sehingga wajar kalau gaya bahasanya kok "click" dengan yg
> sedang menjadi fenomena, menjadi pemikiran orang yg mengkaji sains.
> ini terjadi misal pd gaya bahasa di beberapa ayat pd surat An-Nuur, yg
> mirip atau terlihat ada korelasi dgn kajian spektrum cahaya. atau
> beberapa ayat yg jadi salah satu best topik kajian Maurice Bucaille,
> yaitu masalah kandungan/janin manusia.
> atau juga bagi peneliti geologi, yg takjub membaca ayat yg menyatakan
> gunung bergerak seperti awan bergerak.
> Al-Quran bukan kitab sains, melainkan petunjuk/pedoman hidup.tetapi
> sangat wajar dlm menanamkan iman, Al-Quran memberikan hikmah melalui
> gaya bahasa yg lentur, yg bisa akrab dgn siapa pun, kapan pun, termasuk
> dgn era sekarang ini yg akrab dgn sains.
> Inilah kelebihan Al-Quran.inilah mukjizat Al-Quran.bukan Al-Quran
> sebagai kitab sains.tetapi gaya bahasa Al-Quran yg lentur, sehingga bisa
> menggelitik atau terasa akrab bagi pemerhati sains.
> jadi..setelah ngalor-ngidul, kembali ke pesan utama saya.jangan menulis
> "Alquran sbg produk budaya".melainkan cari kalimat yg lebih tepat dan
> bijak.misalnya "Al-Quran secara default, umumnya berbicara dgn gaya
> bahasa yg dipahami oleh konteks umat/kaum pd masa diturunkannya
> wahyu/ayat tsb. Sehingga wajar memakai kalimat pergantian siang-malam
> utk menerangkan fenomena bumi yang berotasi, karena manusia pd saat tsb
> belum sampai pd tahap pemikiran yg canggih sehingga bisa menyimpulkan
> bahwa siang-malam terjadi karena efek rotasi bumi".
> Demikian dari saya.mohon maaf bila kurang berkenan.Walloohu a'lam
> bis-showab.Wassalam - Nugon
> --- In Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com, "Fami Fachrudin"
> masfami@ wrote:
> >
> > Dear Pak Pranoto,
> >
> > Dalam kaitan Alquran sbg produk budaya, "pengetahuan" yang digunakan
> tentu yang sesuai dengan perkembangan budaya yang ada pada saat itu.
> >
> > Saat itu belum ada pengetahuan manusia tentang bumi yang berotasi,
> maka digunakanlah kalimat-kalimat pergantian malam-siang.
> >
> > Penggunaan "urjun al-qadim" termasuk bagian dari "pengetahuan" manusia
> saat itu berkaitan dengan budaya penanggalan yang ada, di mana "urjun
> al-qadim" menjadi penanda akan habisnya 1 siklus bulan.
> >
> > "Hilal" pun termasuk bagian dari "pengetahuan" manusia saat itu
> berkaitan dengan budaya penanggalan yang ada. Para era Babylonia
> kriteria hisab mencapai +13 untuk memastikan bahwa hilal sudah bisa
> dilihat.
> >
> > Kembali ke pertanyaan Pak Pran "apa susahnya Allah menyebut rotasi
> secara eksplisit", tentu saja jawabnya tidak susah. Tetapi, jika hal itu
> terjadi akan membuat alquran sebagai kitab pembingung bukan kitab
> penerang.
> >
> > Kenapa tidak sekalian saja Allah menjelaskan dalam alquran adanya
> galaksi-galaksi, baik jumlah maupun luasnya, yang ada di jagat raya ini
> instead of menjelaskan 1 hari di langit setara 50.000 tahun di bumi?
> >
> > Kenapa pula alquran hanya membagi jagat raya hanya dengan samaawat
> (langit) dan ardh (bumi)?
> >
> > Itu semua tidak dilakukan karena alquran sebagai produk budaya akan
> berbicara sejalan dengan pengetahuan masyarakatnya yang ada pada saat
> itu.
> >
> > :D
> >
> >
> > Sent from my Heart®
> > powered by Peace and Tranquility
> >

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar