Minggu, 09 September 2012

[forumpembaca-kompas] Trs: [hakekathidupku_nolnol] Re: [minggumei] AMAL ATAU INSYAALLAH

 



 

Hua..ha..ha.... terimakasih atas "pembingungannya," pak. Kelihatannya saya harus berjalan menelusuri kebingungan, dari satu kebingungan ke kebingungan yang lainnya. 
Saya hanya mau menanggapi yang "insyaallah"-nya saja. 

Kalau tentang halangan yang diluar keinginan/kehendak manusia, mungkin yang disebut sebagai "takdir," seperti janjian ketemu yang terjadi kecelakaan, rasanya sudah merupakan kesepakatan manusia seluruh dunia. Baik dia Atheis atau Theis, sudah sama-sama menyadari mengenai keterbatasan manusia. Karena itu, tak mungkin ada orang yang akan menuntut kita. 

Misalkan, pak Akmal punya utang ke saya 1 milyarpun tak mungkin akan saya tagih kalau pak Akmal sudah meninggal, sekalipun saya ini orang Atheis. Mungkin hukumpun melindungi orang yang sudah meninggal, dia tak bisa dituntut pertanggunganjawab lagi. Jika benar demikian, maka mubazir-lah kita mengucapkan "insyaallah." Saya pikir nggak perlu kita ucapkan untuk sesuatu yang sudah dimengerti dan dipahami orang lain. 

Jadi, kalau pak Akmal sudah bisa memaklumi bahwa janji pertemuan kita hanya bisa dibatalkan oleh kehendak TUHAN, sementara niat yang ada pada kita adalah berusaha maksimal untuk menepati janji itu, maka buat apa harus diterangkan lagi dengan kata-kata: "Insyaallah?"

Kata-kata itu hanya tepat dikatakan oleh orang yang tidak bisa dipercayai, yaitu orang-orang yang suka plin-plan, dia perlu meyakinkan lawannya bahwa dia akan berusaha maksimal menepati janjinya, seperti: sumpah. Dengan kata-kata itu dia telah mendedikasikan dirinya sendiri untuk "belajar" konsisten dengan ucapannya sendiri. 

Tapi untuk orang-orang yang bisa kita percayai perkataannya, saya pikir nggak perlulah itu. Maksud saya jika kita berpikir setiap kata-kata itu berharga. Kecuali karena cuma kata-kata doank yang gratisan mengucapkannya, sehingga kita obralkan kata-kata itu.

Kalau konsep berpikir saya, meskipun kata-kata ini gratisan mengucapkannya, tapi saya hargai untuk mengucapkan hal-hal yang penting saja, yang berguna. Saya merasa rugi kalau bicara yang tidak perlu-perlu.

Nah, apakah bapak bisa membingungkan saya? - Hua..ha..ha.... guyon lho, pak.
Cat avatar Avatars



xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

 

Computer mania Avatars




>>Surat-menyurat :   hakekathidupku@yahoo.co.id,  newhakekatku@yahoo.co.id, 

                                   Hakekatku_00@yahoo.co.id,   hakekatku_05@yahoo.co.id, 

                                    hakekathidup_h5@yahoo.co.id,

                                    hakekathidupku_nolnol@yahoo.co.id, 

 

>> MilisGroup:   hakekatku_00@yahoogroups.com,  

                             http://groups.yahoo.com/group/hakekatku_00/

 

                             newhakekatku@yahoogroups.com,

                             http://groups.yahoo.com/group/newhakekatku/

 

>>B l o g  :    http://bloghakekatku.blogspot.com



--- Pada Ming, 9/9/12, Akmal N. Basral <anb99@yahoo.com> menulis:

Dari: Akmal N. Basral <anb99@yahoo.com>
Judul: Re: [minggumei] AMAL ATAU INSYAALLAH
Kepada: "minggumei@yahoogroups.com" <minggumei@yahoogroups.com>
Cc: "Hakekatku_00@yahoogroups.com" <Hakekatku_00@yahoogroups.com>, "hakekatku_05@yahoogroups.com" <hakekatku_05@yahoogroups.com>, "hakekathidup_h5@yahoogroups.com" <hakekathidup_h5@yahoogroups.com>, "hakekathidupku_nolnol@yahoogroups.com" <hakekathidupku_nolnol@yahoogroups.com>, "hakekathidupku@yahoogroups.com" <hakekathidupku@yahoogroups.com>, "newhakekatku@yahoogroups.com" <newhakekatku@yahoogroups.com>, "hakekatku_muda@yahoogroups.com" <hakekatku_muda@yahoogroups.com>, "kabarmukutunggu@yahoogroups.com" <kabarmukutunggu@yahoogroups.com>, "hakekatkusayap@yahoogroups.com" <hakekatkusayap@yahoogroups.com>, "beritadinanti@yahoogroups.com" <beritadinanti@yahoogroups.com>, "remifamifare@yahoogroups.com" <remifamifare@yahoogroups.com>, "mumetkon@yahoogroups.com" <mumetkon@yahoogroups.com>, "saulpaulus_belima@yahoogroups.com" <saulpaulus_belima@yahoogroups.com>, "beritamoedinantie@yahoogroups.com" <beritamoedinantie@yahoogroups.com>, "minggumei@yahoogroups.com" <minggumei@yahoogroups.com>, "diskusipemilu@yahoogroups.com" <diskusipemilu@yahoogroups.com>, "kepalaemas@yahoogroups.com" <kepalaemas@yahoogroups.com>, "telupitumahadewa@yahoogroups.com" <telupitumahadewa@yahoogroups.com>, "pelitahatiku@yahoogroups.com" <pelitahatiku@yahoogroups.com>, "beritadinanti_bd@yahoogroups.com" <beritadinanti_bd@yahoogroups.com>, "mahadewaenem@yahoogroups.com" <mahadewaenem@yahoogroups.com>, "terangdunia_hkk@yahoogroups.com" <terangdunia_hkk@yahoogroups.com>, "sangfajar_a8@yahoogroups.com" <sangfajar_a8@yahoogroups.com>, "hakekathidupku_nolsatu@yahoogroups.com" <hakekathidupku_nolsatu@yahoogroups.com>, "beritahidup_gg@yahoogroups.com" <beritahidup_gg@yahoogroups.com>, "menyingkaptabir@yahoogroups.com" <menyingkaptabir@yahoogroups.com>, "aneagel@yahoo.com" <aneagel@yahoo.com>, "info@food4spirit.com" <info@food4spirit.com>, "samanam@indosat.net.id" <samanam@indosat.net.id>, "wiwinda_pw@yahoo.com" <wiwinda_pw@yahoo.com>, "yanpratam@yahoo.com" <yanpratam@yahoo.com>, "yovita.wijaya@gmail.com" <yovita.wijaya@gmail.com>, "xfebeszonscreetx@gmail.com" <xfebeszonscreetx@gmail.com>, "bisnis@yahoogroups.com" <bisnis@yahoogroups.com>
Tanggal: Minggu, 9 September, 2012, 4:05 AM

 


Nah, begitu dong Pak Rudy, kalau bingung akui saja bingung seperti di kalimat terakhir bapak. Tetapi jangan lantas bapak berasumsi bahwa muslim juga bingung hanya karena bapak yang bingung.

Kata orang-orang bijak, "Dengan bertanya akan terlihat bodoh lima menit. Tidak bertanya, akan bodoh selamanya." Karena itu, saya salut Pak Rudy bersedia terlihat "bodoh" (pakai tanda kutip ya, Pak) selama lima menit ke depan, demi tahu perbedaan antara amal dan insya Allah.

Kita gunakan saja contoh Pak Rudy tentang nonton sepak bola, karcis dan pemilik stadion.

Misalkan lusa ada pertandingan sepak bola, lalu Pak Rudy menelpon saya mengabarkan akan memberikan saya tiket. Maka bapak melakukan amal. Lebih tepatnya amal saleh. Lalu karena saya tak punya kendaraan untuk pergi ke stadion, Pak Rudy yang punya kendaraan menawarkan lagi kepada saya, "Pak Akmal mau ikut saya?"

Tentu saya akan senang sekali dan menjawab. "Terima kasih, Pak Rudy. Bagaimana caranya? Saya ke rumah bapak atau kita ketemu di satu tempat?"

"Terserah Pak Akmal saja," jawab Pak Rudy. "Ke rumah saya boleh atau ketemu di Tempat X juga boleh. Yang penting kita ketemu jam 4 ya Pak, karena pertandingannya jam 7."

"Baik, Pak Rudy, terima kasih banyak," jawab saya dengan hati riang. "INSYA ALLAH (Jika Allah menghendaki) saya akan datang jam 4 ke rumah Pak Rudy."

Lalu atas kehendak dan izin Allah, pada jam 4 yang disepakati saya bisa ke rumah Pak Rudy sehingga kita bisa berangkat bareng ke stadion. (Tebengan ke stadion adalah bentuk lain amal yang Pak Rudy berikan kepada saya).

Itu contoh amal dan insya Allah dalam konteks yang benar, Pak Rudy. Karena bisa saja pada jam 4 itu ada halangan lain yang terjadi di luar keinginan saya, seperti (1) tiba-tiba anak/istri saya sakit, atau (2) saya kecopetan dan kehilangan surat-surat penting sehingga harus ke kantor polisi buat melaporkan kehilangan daripada nonton bola, atau (3) mendadak ada banjir bandang yang melanda kawasan rumah saya sehingga saya tak bisa ke stadion bersama Pak Rudy, betapa pun saya ingin. Atau (4) bahkan bisa saja saya meninggal dunia beberapa menit sebelum jam 4, sehingga istri saya yang sudah tahu rencana kita untuk menonton bola akan menelepon Pak Rudy mengabarkan bahwa saya sudah wafat. Pak Rudy pun akhirnya membatalkan nonton bola dan datang ke rumah saya.

Karena itulah bagi Muslim, Allah mengajarkan dalam QS 18: 23-24:

---------
Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, "Aku pasti melakukan itu besok pagi", kecuali dengan mengatakan "Insya Allah."
---------

Insya Allah bukan mudah-mudahan, Pak. Beda sama sekali. 

Insya Allah adalah kombinasi sebuah perencanaan matang (untuk datang ke rumah Pak Rudy jam 4) dengan sikap kesadaran bahwa kita sebagai makhluk tak bisa MEMASTIKAN semua rencana kita PASTI terjadi, karena ada kekuasaan yang lebih tinggi dari keinginan manusia, kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi.

Lalu bagaimana dengan si pemilik stadion? Ya, dia tak ada hubungannya dengan amal dan insya Allah yang terjadi antara Pak Rudy dan saya. Bahkan, kalau pemilik stadion itu juga seorang makhluk Tuhan yang rendah hati, dia pun tak akan mengatakan bahwa pertandingan di stadionnya PASTI berlangsung jam 7, kecuali jika Allah menghendaki.

Jangankan pemilik stadion Pak Rudy, bahkan Menpora dan Presiden sekali pun tak bisa memastikan pertandingan pasti akan berjalan sesuai rencana. Contohnya, Pak Rudy lihat saja PON di Pekanbaru sekarang. Kanopi stadion Tenis tiba-tiba rubuh dihantam angin kencang. Atau seluruh wasit futsal tiba-tiba ditarik PSSI dari Pekanbaru, sehingga seluruh jadwal pertandingan dibatalkan, dan jadi kacau balau.

Semoga dengan contoh di atas, Pak Rudy sudah tak bingung lagi membedakan antara amal dan insya Allah ya Pak. 


Salam,

Akmal Nasery Basral

On Sep 9, 2012, at 12:36 AM, hakekat hidup <hakekathidupku@yahoo.co.id> wrote:

 


AMAL ATAU INSYAALLAH

Kalau boleh saya bertanya, atas dasar apakah keselamatan Islam? Amal atau Insyaallah – mudah-mudahan.

 

Kalau berdasarkan amal, maka keselamatan adalah di tangan kita, bukan di tangan ALLAH. Tergantung kita, mau berbuat amal atau tidak. Kalau amal maka kita selamat. Sama seperti kalau kita nonton sepakbola. Kita bisa nonton tergantung karcis, bukan tergantung dari pemilik stadion.

 

Sedangkan kalau berdasarkan insyaallah, maka itu bergantung pada suka-suka ALLAH. Meskipun kita jungkir balik sholat 5 kali sehari dan meskipun kita hambur-hamburkan duit kita untuk amal, itu bukan suatu jaminan. Sama seperti kita memilih cewek. Dari sekian banyak cewek, kita pilih yang paling kita cintai. Dan karena sudah cinta, maka kita nggak peduli lagi apakah dia itu cantik atau enggak, kaya atau miskin, cerewet atau enggak, pokoknya kita senang sama dia, ya kita pilih dia.

 

Dan lagi, jika amal, harus berapa atau harus berupa apa itu? Seharusnya ada ketentuannya seperti sekolahan menetapkan nilai 5 untuk kelulusan, maka siswa harus mencapai nilai itu baru lulus. Tujuannya supaya tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh gurunya dan supaya murid termotivasi untuk mencapai nilai tersebut.

 

Kalau amal iya, insyaallah juga iya, apakah tidak membingungkan? – Nah, siapa yang mau lebih membingungkan, silahkan dibingungkan.


Cat avatar Avatars



xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

 

Computer mania Avatars




>>Surat-menyurat :   hakekathidupku@yahoo.co.id,  newhakekatku@yahoo.co.id, 

                                   Hakekatku_00@yahoo.co.id,   hakekatku_05@yahoo.co.id, 

                                    hakekathidup_h5@yahoo.co.id,

                                    hakekathidupku_nolnol@yahoo.co.id, 

 

>> MilisGroup:   hakekatku_00@yahoogroups.com,  

                             http://groups.yahoo.com/group/hakekatku_00/

 

                             newhakekatku@yahoogroups.com,

                             http://groups.yahoo.com/group/newhakekatku/

 

>>B l o g  :    http://bloghakekatku.blogspot.com

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar