Minggu, 09 September 2012

[inti-net] Mengenang Munir, Memajukan Hak Asasi Manusia

 

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/09/08/72998/mengenang_munir_memajukan_hak_asasi_manusia/#.UEzBqFGKjBo

Sabtu, 08 Sep 2012 00:05 WIB

Sewindu Meninggalnya Alm Munir

Mengenang Munir, Memajukan Hak Asasi Manusia

ilustrasi
Oleh : Supriadi Purba.

Siapa yang tida kenal dengan Munir, seorang anak manusia yang telah mencatatkan tinta emasnya di Jamrud Katulistiwa negeri ini. Seorang anak manusia yang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM) dengan segala cara walau kadang resikonya sangat tinggi. Dunia mengakui kegigihannya, tetapi sangat disayangkan negara mengabaikan nilai-nilai perjuangannya sehingga sampai detik ini masih kabur tanggung jawab negara untuk keadilan bagia dia.
Walau demikian Munir sedang meminta keadilan bagi Yang Kuasa unuk mengadili para pengacau di negeri ini.

Pembunuhan terhadap Munir bukan berarti akhir dari segalanya. Kematian Munir justru dijadikan sebagai senjata ampuh dalam melawan segala tirani kekuasaan di Indonesia. Pernyataan itu disampikan oleh Usman Hamid mantan Koordinator KontraS pada tahun 2011 lalu. Pernyataan Usman Hamid tersebut menunjukkan bahwa setelah peristiwa meninggalnya Munir pada tahun 2004, tanggung jawab itu semakin besar dalam rangka membuka tabir kasus HAM masa lalu yang telah mengabaikan prinsip hak asasi manusia. Hal lain adalah kaitan dengan semangat perjuangan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap HAM agar semakin gigih dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Bahkan di Jakarta Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM) mendesak Presiden SBY untuk segera menuntaskan penyidikan kasus meninggalnya aktivis hak asasi manusia (HAM), Munir Said Talib. Tepat 7 September tahun ini, sudah 8 tahun Munir dibunuh. Sewindu kepergiannya masih menyisakan tanda tanya. "Kami menagih janji SBY untuk menuntaskan kasus Munir," kata koordinator KASUM, Choirul Anam saat dihubungi, Senin, 3 September 2012.

Menurut Choirul, Presiden SBY sampai saat ini masih ragu-ragu memimpin penyelesaian kasus kematian Munir. Presiden SBY bahkan dinilai hanya melakukan pencitraan dengan menggunakan kasus Munir. KASUM pernah secara tegas dan langsung meminta SBY memerintahkan Jaksa Agung untuk melakukan peninjauan kembali atas putusan bebas terdakwa mantan Danjen Kopassus, Jenderal Muchdi P.R. "Itu pun belum dilakukan SBY," kata Anam yang juga Direktur Human Rights Working Group ini.

Anam menegaskan, pengungkapan kasus pembunuhan Munir bukan hanya penegakan keadilan bagi keluarga dan sahabat-sahabat Munir, melainkan buat seluruh bangsa Indonesia. "Keadilan bagi Munir adalah keadilan bagi bangsa Indonesia," ujarnya. Munir Said Thalib, yang lahir pada 8 Desember 1965, merupakan pendiri dan koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras).

Selama hidupnya, pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini aktif memperjuangkan HAM. Terakhir dia menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.

Munir meninggal 7 September 2004 karena dibunuh dengan racun arsenik saat penerbangan menuju Belanda. Sampai kali ini, baru satu pelaku, Pollycarpus Budihari Prijanto, yang sudah ditangkap dan dinyatakan bersalah. Ketika dibunuh, Munir menumpang pesawat Garuda Indonesia. Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Sisir, Kota Batu (Tempo, Selasa 4 September 2012)

Munir dan Penegakan HAM Indonesia

Satu hal yang harus diketahui adalah bahwa Munir meninggal akibat banyak yang tidak senang terhadap jejaknya yang sudah melakukan perjuangan melawan kemunafikan di negeri ini. Banyak ternyata orang-orang yang merasa dirugikan dengan perjuangannya yang setengah hati tanpa pamrih, perjuangan yang tulus, berani ambil resiko dan tanpa kenal kompromi. Mungkin tidak ada duanya sosok Alm Munir di negeri ini yang meninggal hanya karena banyak yang merasa terancam karena kehadirannya.

Kaitan dengan perjuangannya yang banyak memperjuangkan keadilan dan menuntut kebenaran adalah bagian dari kerinduannya dalam melihat negeri ini mengalami kemajuan dalam bidang HAM. Sejak sebagai sosok fenomenal di KontraS sudah sangat banyak kasus yang diangkatnya kepermukaan, membuat banyak tokoh sentral para pelaku pelanggaran HAM terusik dan merasa terancam. Apalagi para tokoh-tokoh tersebut merupakan para militer yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Sementara banyak yang merasa terancam dengan kahadirannya yang membela para korban dan menuntut keadilan bagi negara. Dunia internasional memberikan apresiasi pada nilai-nilai perjuangnya, bahkan sampai hari ini juga setelah kematiannya banyak lembaga Internasional yang terus mendesak pemerintah untuk membuka tabir siapa dalang dibalik terbunuhnya Munir.

Kaitan dengan itu bahwa citra Munir di mata dunia internasional sebagai penggiat dan Tokoh HAM tidaklah main-main, dan bahkan dewan HAM PBB-pun mendesak negara menyelesaikan kasus pembunuhannya yang melibatkan militer dan Intelijen didalamnya.

Namun sangat disayangkan mata hati Pemerintah negeri ini sudah mati. Sepele terhadap penegakan HAM di negerinya sendiri, sehingga dari tahun ke tahun persoalan pelanggaran HAM bukannya makin menurun tetapi malah semakin mengkhawatirkan. Pertanyaanya adalah, apakah respon pemerintah yang demikian akan menyelesaikan setiap kasus kelam masa lalu itu?, tentu tidak karena negara telah mengabaikan prinsip hak asasi manusia juga kaitan dengan membiarkan terjadinya pelanggaran HAM dan Hukum tidak dijadikan sebagai acuan dalam berbangsa dan bernegara, melainkan hukum dipermainkan.

Tetapi satu hal yang harus diketahui adalah bahwa meninggalnya Munir bukan akhir dari perjuangan dalam rangka penegakan hak asasi manusia.

Melainkan awal dalam rangka semakin mendesak negara untuk memberikan perhatian serius terhadap dorongan penegakan HAM di Republik ini, apalagi demokrasi yang digaung-gaungkan oleh negara diklaim sebagai keberhasilan tetapi sejatinya jikalau tidak seiring dorongan memajukan HAM maka itu adalah sia-sia dan itu terjadi pada masa Presiden SBY hari ini.

Selanjutnya adalah kaitan dengan keterlibatan intelijen dan militer dibelakang peristiwa terbunuhnya munir harus diungkap. Polycarpus yang sudah dinyatakan bersalah tidak lantas membuat negara puas, masih ada otak dibelakangnya yang beratnggung jawab atas segala tindak tanduk terhadap pembunuhan aktivis HAM Munir.

Muchdi PR yang sempat ditangkap dan kemudian dilepaskan adalah sebuah kemajuan yang luar biasa, karena seorang bekas Mayjen ditangkap dan dipenjarakan walau akhirnya bebas dengan skenario permainan hukum di pengadilan.

Tetapi satu hal yang harus diapresiasi adalah perjuangan para relawan-relawan yang setia memperjuangkan keadilan Munir, karena "keadilan bagi Munir adalah keadilan bagi negara". ***

Penulis adalah Koordinator Solidarity For Human Rights (SA-HAM) dan bekerja di Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara.

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar