Rabu, 12 September 2012

[inti-net] Prijanto, Foke, dan KPK by Tjipta Lesmana*

 

Prijanto, Foke, dan KPK by Tjipta Lesmana*

Prijanto mengutarkan alasan mundur dari wakil gubernur Jakarta melalui buku. Seorang wartawan, perempuan, bicara dengan suara lantang tentang sosok yang bernama Prijanto, Wakil Gubernur Jakarta. Ia mengaku sudah kenal Prijanto sejak yang bersangkutan berpangkat Kolonel TNI, sebelum ia menjabat Kepala Staf Garnisun Jakarta.

Wartawati ini kerap berdiskusi berdua saja dengan Prijanto. "Prijanto itu Jawa priyayi. Sejak kenal, saya tidak pernah sekalipun melihat Prijanto emosi," kata dia memuji Prijanto. "Tapi hari ini baru pertama kali saya menyaksikan Prijanto marah!" Prijanto berusaha melempar senyum, namun senyum yang dipaksakan.

Pagi itu, Rabu, 5 September, Prijanto memang sempat naik darah ketika salah satu hadirin, juga perempuan, dalam peradilan "Mahkamah Intelektual" memberondong Prijanto dengan kata-kata keras dan lantang.

Intinya, dia menggugat mengapa Prijanto sebagai prajurit mengundurkan diri menghadapi berbagai permasalahan selaku Wakil Gubernur DKI. "Tentara pantang mundur dalam situasi apa pun! Bapak bisa dicap pengecut karena memilih mundur..." Pagi itu, "Mahkamah Intelektual" menggelar sidang dengan agenda tunggal: meminta pertanggungjawaban Prijanto tentang isi bukunya berjudul Kenapa Saya Mundur. Buku ini sebetulnya laporan pertanggungjawabannya kepada Dewan perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta tentang pengunduran dirinya.

Namun, DPRD DKI tidak pernah menuntaskan masalah Prijanto. Artinya, Prijanto tidak pernah diberikan kesempatan seluasnya untuk membeberkan pertimbangan dan sebab-sebab dia mundur sebagai Wakil Gubernur DKI. Prijanto pun sampai hari, secara de jure, masih menjabat Wakil Gubernur Jakarta.

Oleh sebuah penerbit nasional, buku Prijanto yang semula tidak untuk konsumsi publik kemudian dicetak ulang, diperbaiki isinya di sana-sini, dan diterbitkan untuk masyarakat luas. Isinya ternyata cukup dahsyat!

Berbagai kasus pelanggaran hukum dan etika, dugaan korupsi, dan penyelewengan yang merugikan keuangan negara dibeberkan cukup terang dalam buku tersebut. Sebut saja, jabatan Direktur Utama Pasar Jaya yang tidak didasarkan Surat Keputusan Gubernur yang definitif, pengangkatan Direktur Utama PAM Jaya yang menyalahi prosedur (pejabat yang diangkat sudah memasuki usia pensiun).

Menurut Prijanto, Pemerintah Daerah Jakarta dikelola dengan prinsip pertemanan, tidak berbasiskan tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Ada lagi kasus tunjangan khusus senilai Rp 1 triliun yang ditengarai merugikan keuangan negara. Banyak di antara penerima tunjangan khusus yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria.

Tunjangan khusus sebesar satu bulan gaji diberikan kepada seorang pegawai karena jabatan dan pertimbangan memiliki keahlian langka, penugasan di daerah terpencil, mengandung risiko bagi kesehatan atau rawan terhadap risiko kejiwaan. Maka, Prijanto semula tidak mau paraf.

Fauzi marah. Ketika hal ini dijelaskan oleh Prijanto, Gubernur menjawab—seperti yang dikatakan Prijanto: "Pak Wagub tidak merasakan, mereka adalah teman-teman saya yang naik-turun tangga bersama-sama saya..." Hal itu terjadi pada Mei 2009. Hal yang lebih serius adalah dugaan korupsi yang dituturkan dalam buku, yang kemudian dikuatkan oleh LSM bernama Smak Markus, juga oleh ICW. Bahkan Smak Markus pada Mei 2012 sudah menyampaikan secara resmi laporan mengenai 10 dugaan korupsi di pemerintahan DKI kepada KPK.

Dugaan korupsi itu antara lain menyangkut proyek fasos-fasum (fasilitas sosial-fasilitas umum) berupa tanah 20 hektare lebih di kawasan Sunter yang rencananya untuk membangun stadion olahraga. Tujuh atau delapan pengembang besar sudah berpartisipasi untuk kepentingan ini. Mereka berhasil menghimpun lebih dari Rp 600 miliar.

Serah terima fasos-fasum itu dilakukan masih pada era Sutiyoso sebagai Gubernur. Anehnya, sampai sekarang belum ada tanda-tanda pembangunan stadion olahraga yang dijanjikan. Salah satu keluarga yang mengaku ahli waris sebagian besar tanah itu sampai sekarang bahkan belum menerima satu sen pun dari Pemda DKI. Namun, Prijanto mengaku tidak tahu banyak tentang urusan fasos-fasum ini. Ia menunjuk Eggy Sudjana yang juga hadir dalam peradilan Mahkamah Intelektual dan ikut memberikan kesaksian dalam kapasitasnya sebagai pengacara salah satu pemilik tanah fasos-fasum itu.

Maka, kembali kepada pertanyaan sentral yang membuat Prijanto marah dan emosional: kenapa Anda mundur? Prijanto akhirnya menjawab keras juga: "Saya tidak suka bekerja sama dengan orang yang melanggar hukum dan tidak bisa mengelola keuangan, serta melanggar etika birokrasi!"

Sebelumnya, dalam bukunya, Prijanto mengutip pendapat Tjipta Lesmana yang bersumber dari Aristoteles bahwa "yang paling membedakan manusia dengan binatang adalah harga diri atau martabat. Binatang tidak punya martabat. Jika seseorang sudah kehilangan martabatnya maka sesungguhnya ia tidak berbeda dengan binatang..."

"Saya masih punya harga diri, maka saya lebih memilih mundur. Bagi saya, jabatan bukanlah segalanya," ucap Prijanto tegas.

Urusan mundur memang urusan pribadi seseorang. Prijanto, Bung Hatta, Laksamana Udara Suryadarma (Kepala Staf Angkatan Udara RI yang pertama), dan Dicky Chandra (mantan Wakil Bupati Garut) mundur ketika sedang menjalankan tugas negara karena harga diri.

Namun, ada satu hal dalam buku Prijanto yang tidak boleh dianggap remeh, yaitu tudingan tentang dugaan tindak korupsi dan penyelewengan keuangan negara yang dilakukan di lingkungan kekuasaan pemerintahan DKI.

Untuk itu, KPK harus segera menindaklanjutinya. Buku Prijanto sudah beredar lebih dari enam bulan. Bahkan beberapa LSM sudah memasukkan pengaduan resmi kepada KPK.

Namun mengapa KPK bergeming memeriksa kebenarannya? Jika apa yang ditulis Prijanto di dalam bukunya tidak ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum, Prijanto bisa dituding menebar fitnah. Mestinya ada pihak tertentu yang menggugat Prijanto karena telah pencemari nama baiknya.

Namun, jika keduanya tidak muncul—KPK tidak berindak dan Prijanto tidak dilaporkan ke polisi—maka Indonesia jelas-jelas NEGARA SAKIT, negara yang tunahukum.

*Penulis adalah mantan anggota Komisi Konstitusi. 

disimak juga :
ALASAN WARGA DKI HARUS MEMILIH JOKOWI DALAM PILKADA DKI 2012 PUTARAN 2

By @TrioMacan2000

Eng ing eng..saya mau kultwit yg berjudul kenapa kita semua warga DKI harus pilih Jokowi sbg Gubernur DKI Jakarta ?

Mayoritas hasil QC Pilgub DKI tunjukan Jokowi menang dgn 43%, jauh
ungguli Foke yg hny 33%. Meski ada QC (INES) yg tunjukan Jokowi 52%,
Apakah mungkin perhitungan suara resmi KPUD DKI nantinya menghasilkan
suara lbh 50% utk kemenangan Jokowi? Mungkin saja !!

Mayoritas
lembaga survey sudah terbukti keliru besar dlm prediksi peroleh suara
para cagub2 sebelumnya. Mayoritas dibayar Foke, Demikian juga QC yg
dilakukan oleh lembaga2 survey itu. Bahkan sempat bocor info bhw bbrp
lembaga survey akan umumkan QC 52% utk Foke, Jika info ttg rencana
rekayasa perhitungan Quick Count tsb tidak bocor ke publik duluan,
mungkin sekali akan terjadi kecurangan tsb, Modusnya adalah merekayasa
hasil survey electibiltas, hasil QC dan kemudian all out utk rekayasa
hasil perhitungan resmi KPUD. Bahaya !!, Namun, usaha curang dari
sekelompok orang tertentu yg patut diduga dari timses Foke ini kandas.
Mata publik melotot tajam ke mereka, Apakah kecurigaan thdp hasil QC
Pilgub DKI kemaren berlebihan? TIDAK. Sdh banyak indikasi& bukti ke
arah sana. Lembaga survey/QC dibayar, Modus yg dilakukan lembaga2
survey dan konsultan politik bayaran ini mudah terbaca. Mereka terbitkan
hasil survey sesuai pesanan, Hasil survey tttg Popularitas dan
electibiltas digunakan utk giring opini agar pemilih mengikuti trend
hasil survey. Ini penipuan publik, Lalu setelah itu lembaga2 survey akan
mengumumkan quick count sesuai dgn survey yg sdh direkayasa tsb dan
kemudian "kerjain" KPUD, Modus ngerjain hasil perhitungan suara via
KPUD ini juga sdh banyak terjadi. Selain kotak suara diganti, rekap
hasil suara TPS jg diubah, Untunglah wilayah geografi Jakarta tdk
seluas provinsi2 lain, warganya sdh melek dan kritis, para cagub lain jg
pny mekanisme kontrol, Namun tetap harus diwaspadi "perjalanan" kotak
suara dan hasil rekapitulasi perhitungan suara setiap TPS. Setan Pilkada
ada dimana2, Jika perlu setiap cagub utamanya timses Jokowi harus jaga
24 jam kotak suara dan rekap itu. Lengah sedetik, bisa berubah tuh
barang hehe

Saya termasuk orang yg sgt optimis bhw hasil
perolehan suara Jokowi hasil resmi KPUD di atas 43%. Suara2 warga DKI
mayoritas ke Jokowi, Dimana2 saya mendengarkan warga meneriakan nama
Jokowi..Jokowi ! Terikan suara Foke..foke..sdh sepi senyap kayak kuburan
di malam hari, Saya sdh menyaksikan testimoni ttg kesuksesan Jokowi yg
7 tahun memimpin Solo dgn HATI. Dan sy juga sdh ikuti kegagalan Foke
slma 5 thn, Kesimpulan sy hny 1 : Jokowi jauh leboh baik drpd Fauzi
Bowo. Mgkin hny orang2 bebal, bayaran, koruptor, munafikun dsj yg msh
pilih Foke

Sdh 18 thn saya tinggal di Jakarta. Selama 5 thn
terakhir ini TIDAK ADA kinerja Foke yg sy rasakan. Hny gedung baru
Kelurahan hasilnya. Foke baru mulai "serius" perhatikan rakyat selama 1
thn terakhir ini. Perhatian yg dibuat2 dan hny untuk komoditi pilgub.
Foke mulai "sibuk" 1 thn terakhir. Baru mau "melihat& kunjungi"
warganya. Memberikan bantuan2 ke warga yg sebenarnya uang rakyat juga.
Total bansos 1.4 triliun dari APBD disebar Foke kemana2, utamanya ke
lembaga2 yg notabene punya kerabat dan timses dia. Lebih 800 M uang APBD
dikucurkannya utk koperasi2 di seluruh kelurahan DKI. Mana wujudnya ?
Ga ada. Itu hny bgian dr money politics. Foke sangat yakin akan terpilih
kembali dengan dukungan uang haramnya yg ga berseri. Ga terhitung. Tapi
dia lupa, warga DKI sdh sadar. Foke lakukan segala cara utk menang
pilgub. Selain haus kekuasaan, posisi Gyb DKI akan selamatkan dia dari
kasus2 korupsinya. Dukungan Hartati Murdaya, Cikeas, konglomerat2 hitam,
Partai Demokrat, lembaga2 survey, oknum2 KPUD dst ..berhadapan dgn
SUARA RAKYAT. Jika Foke tetap ngotot utk menang dgn segala cara, maka
dia akan berhadapan dengan rakyat DKI dan Indonesia yg MARAH. Hati2 bung
Kumis !. Jgn pancing rakyat marah dan Foke mencatat sejarah sbg
Gubernur yg diseret ke jalan dan diusir oleh warganya sendiri. Anda sdh
TAMAT !. Sudah tidak laku ancaman2 Anda pada PNS DKI dan keluarganya.
Intimidasi anda pd warga DKI. Janji2 surga & "bantuan" remeh temeh
itu. Warga DKI sdh tahu, semua sumbangan2 dan bantuan yg Foke berikan
itu berasal dari uang rakyat juga. Uang APBD atau hasil korupsi !.
Rakyat DKI juga sdh tahu, Anda hanya peduli pd rakyat sekali dalam 5
tahun ketika Anda datang mengemis2 suara rakyat utk dukung anda. Rakyat
DKI jug tahu bhw Anda si Foke bukanlah Sang Ahli. Warga DKI sdh paham si
Foke adalah pemimpin yg arogan, labil, korup dst dst... Rakyat DKI tdk
pernah melihat ketulusan terpancar dari wajah Foke. Senyumnya yg
dipaksakan, tawa yg hambar. Beda banget dgn Jokowi

Foke
memimpin DKI layaknya seorang Raja. Bahkan dia sejatinya pun tak hormat
dgn Presiden SBY apalagi menteri2 dan pemerintah pusat?. Lanjutkan !
Hehe ... Mengenai korupsi2 Foke. Mayjen TNI Purn. Prijanto wagubnya si
Foke saja sdh laporkan Foke ke KPK 4 bulan yg lalu. Knp KPK belum
menyidik Foke? Tentu KPK khawatir jika ada tuduhan penyidikan Foke
bernuansa politis. Tp, jika Foke kalah, dia masuk BUI. Kalau Kejaksaan
jangan diharap mau usut korupsi2 Foke. Ada beking Foke di Kejati dan di
Kejagung. Saya tahu persis siapa2 pejabat itu !

Mulai hari ini,
mari kita ucapkan SAYONARA kpd Foke. Selamat datang Jokowi. Rakyat DKI
butuh pemimpin yg melayani, buka minta dilayani.. Mari kita awasi KPUD
yg bbrp oknumnya sdh terima suap milyaran dari Timses Foke. Pasang mata
dan telinga agar suara rakyat tdk ditilep. Insya Allah Jokowi bisa dapat
suara lebih 50%. dan jika ternyata harus 2 putaran, kita coblos dan
doakan dapat menang diatas 90%. Aamiin

Sesuai anjuran Foke, 1
putaran akan menghemat uang rakyat ratusan milyar. Bisa untuk nambal
jalan2 di seluruh Jakarta yg bopeng2, Mengutip slogan JK : Lebih Cepat
Foke Pergi, Lebih Baek Untuk Warga Jakarta. Sekian dan terima kasih.
Semoga bermanfaat. MERDEKA !!

Baca juga:
- "OMONG KOSONG & BUALANNYA BANG "KUMIS" FOKE" ==> http://chirpstory.com/li/8657
- "PARANOID BANG 'KUMIS' FOKE TERHADAP LAWAN CAGUB" ==> http://chirpstory.com/li/7196
- "KEJAHATAN BANG 'KUMIS' FOKE DALAM PILGUB DKI" ==> http://chirpstory.com/li/7188
- "KORUPSI ALA BANG 'KUMIS' FOKE" ==> http://chirpstory.com/li/7161

Dan jangan dilupakan pelajari cara2 Pak De Karwo memenangkan PilGub
Jatim, karena hal ini bisa juga terjadi di PilGub DKI : #MelawanLupa:
cara Soekarwo - Saifulah memenangkan PILGUB Jatim pada tahun 2008: http://t.co/gntgQhsf
EDITORIAL JAKARTA BARU: KENAPA HARUS PILIH JOKOWI BASUKI   http://www.youtube.com/watch?v=s3mQnW6Q7gg&feature=shar
Jokowi - Editorial Media Indonesia      http://www.youtube.com/watch?v=PCDCVfoUkv8&feature=related
Dugaan Korupsi Fauzi Bowo http://www.youtube.com/watch?v=iSirwCL_bTA&feature=youtu.be

Katanya nara org betawi!!! Nihh liat

Nachrowi Ramli: Silakan Keluar dari Betawi Kalau Tak Pilih Orang Betawi Jakarta Nachrowi Ramli meminta warga Betawi tidak salah pilih dalam Pilgub DKI
putaran kedua nanti. Jangan memilih calon yang bukan etnis Betawi. Bila
itu tetap dilakukan, silakan keluar dari Betawi.

"Saya
mengingatkan kepada kaum Betawi, tidak ada pilihan lain, selain satu
untuk semua. Silakan keluar dari Betawi jika tidak memilih orang
Betawi," tegas Nachrowi saat memberi sambutan dalam acara Lebaran Betawi
1433 Hijriah di Lapangan Bermes, Jakarta Utara, Senin (10/9/2012).

Nara,
begitu ia biasa disapa adalah Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus)
Betawi. Dalam kesempatan itu, dia juga menegaskan fotonya bersama
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) di beberapa billboard yang
tersebar di DKI, adalah dalam rangka acara Lebaran Betawi. Acara
tersebut merupakan kerjasama antara Bamus Betawi dan Pemprov DKI
Jakarta.

"Acara Lebaran Betawi ini diselenggarakan atas kerjasama
antara Bamus Betawi dengan Pemprov DKI Jakarta. Jadi kalau ada yang
keberatan dengan foto pak FauzI Bowo di billboard DKI, tolong sampaikan,
pak Fauzi adalah ketua Dewan Pembina Bamus Betawi. Jadi kalau ada
simbol Pemda DKI di billboard, itu adala bentuk kerja keras Pemda DKI
untuk acara ini," ujar Nachrowi Ramli

Nachrowi menjelaskan,
acara lebaran Betawi ini sudah diselenggarakan sebanyak 5 kali. Karena
itu, menurut Nachrowi acara ini tidak bisa ditangani oleh orang yang
belum berpengalaman dalam bidang ini.

"Acara Lebaran Betawi ini
sudah yang kelima kalinya. Jadi kalau ada orang yang ingin mencoba-coba,
tolong pikir dua kali. Acara ini sudah didesain dengan baik. Jadi kalau
ada yang coba-coba untuk mengatur acara ini, tolong dipikir lagi. Jadi
bagi orang yang hanya berwacana, berbicara konsep, hanya pepesan kosong,
tolong dipertimbangkan," jelasnya.

http://news.detik.com/read/2012/09/10/162721/2013839/10/nachrowi-ramli-silakan-keluar-dari-betawi-kalau-tak-pilih-orang-betawi

Ridwan Saidi : Foke-Nara Tidak Intelek

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ucapan pasangan Foke-Nara
yang menyebut silakan keluar dari Betawi jika tak memilih orang Betawi
dan akan mencabut KTP jika tak memilih orang Betawi, dinilai bukanlah
ucapan yang intelek.

Menurut Budayawan Betawi, Ridwan Saidi,
pasangan Foke-Nara seakan sudah sadar kalau tipis kemungkinannya untuk
memenangkan pemilukada DKI putaran kedua. Dikatakannya, apa yang
terlontar dari pasangan tersebut sebagai bentuk pelampiasan kesal saja.

"Ya itu bukan ucapan intelek. Ucapan orang yang kesal sajalah. Perkembangan dari tim mereka tidak banyak hasilnya untuk mengubah posisi mereka.
Pasti mereka kan ada survei internal juga," kata Ridwan kepada Tribun,
Selasa (11/9/2012).

Mantan anggota DPR 1977-1987 ini juga menilai
posisi pasangan Foke-Nara di mata masyarakat tidak membaik jelang hari
pemungutan suara pada 20 September mendatang. "Jadi keadaan mereka
memang nggak membaik 10 hari jelang nyolok," cetusnya.

Sebelumnya, Ridwan juga mengatakan komentar Foke-Nara tersebut merupakan ucapan
seseorang yang frustasi  karena sudah tak ada ide untuk memperbaiki
posisi dan citra mereka selama ini jelang putaran kedua pemilukada DKI.

http://jakarta.tribunnews.com/2012/09/11/foke-nara-tidak-intelek

Perbandingan KINERJA Jokowi-Foke dalam mengurangi Kemiskinan
by @STNatanegara

nyerang
ahok dan jokowi tak mempan.. sekarang yg diserang barisan di belakang
Jokowi dengan isu tidak jelas.. padahal di'sebelah' lbh serem, saya mau
kultwitt tentang perbandingan kinerja Jokowi - Foke dalam mengendalikan
kemiskinan.. semoga bermanfaat.. semoga bermanfaat..
 
saya mulai
dg pertanyaan singkat "Bapak kerja di BPS, ya? Data-data BPS benar
nggak, bisa dipercaya nggak sih?" dalam beberapa tahun belakangan ini,
statistik kemiskinan yang dirilis BPS kerap mendapat tanggapan sinis di
ruang publik, kata yg
kerap muncul di media kala BPS mewartakan jumlah penduduk miskin yang
terus turun (sejak tahun 2006) adalah "kebohongan." "Badan Pertahanan
SBY!", demikian salah satu kalimat yang terlontar dari seseorang yang
saya kenal yg kebetulan sering diundang media, tanggal 17 Oktober
ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia. PBB
sendiri membagi kemiskinan menjadi 3 definisi
  
PBB membagi tiga definisi kemiskinan. kemiskinan potensial, kemiskinan relatif, dan kemiskinan mutlak,

kemiskinan
potensial, beberapa faktor diantaranya kekurangan pangan, sandang,
tempat tinggal, kesehatan, serta pendidikan dan pembinaan, jenis
kemiskinan seperti ini dapat disebut dengan keterbelakangan sosial yang
oleh PBB dimasukkan dalam kategori kemiskinan
   
kemiskinan
relatif, adalah kemiskinan yang menurut PBB disebabkan faktor pendapatan
rata-rata di sebuah negara, orang yang memiliki pendapatan lebih
rendah dari pendapatan rata-rata negara, maka dia tergolong miskin
relatif
   
kategori ketiga dari definisi kemiskinan oleh PBB
adalah kemiskinan mutlak, yaitu orang yang berpendapatan kurang dari dua
dolar US/hari
  
bayangkan bahwa menurut PBB pendapatan kurang 2
US Dolar/hari lah yang dikatakan miskin.. bagaimana dengan di
Indonesia? seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil
pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan,  tidak cukup untak
memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan,
pendidikan.
 
salah satu konsep kemiskinan yang digunakan di
Indonesia adalah konsep "Kemiskinan Absolut", yaitu dg menghitung "Garis
Kemiskinan (GK)", garis kemiskinan tahun 2011 adalah Rp253ribuan untuk
penduduk yang tinggal dikota dan Rp233ribuan untuk yang tinggal di desa,
disparitas tingkat kemiskinan antar daerah di Indonesia sangat tinggi
dimana di DKI Jakarta
sebesar 3,7 persen dan di papua 30 persen, di Indonesia, sebagian besar
masyarakat miskin berada didaerah pedesaan dan bekerja di pertanian
akibatnya kemiskinan lebih bnyk d daerah, pembangunan masih sangat
timpang antara daerah, dimana kota besar seperti Jakarta melesat maju
meninggalkan daerah lain seperti Papua
   
berdasarkan data BPS,
tahun 2011 jumlah penduduk miskin Jakarta mencapai 363,42 ribu,
meningkat sebesar 51,24 ribu dari tahun sebelumnya, jumlah ini masih
under estimate (di bawah perkiraan), karena survei kemiskinan yang
dilakukan BPS menggunakan pendekatan rumah tangga, pada 2010, warga
jakarta dinyatakan miskin absolut jika pengeluarannya kurang dari rp
338.783 per kapita per bulan, sedangkan warga Solo dinyatakan miskin
absolut jika pengeluarannya kurang dari rp 306.584 per kapita per bulan
  
berdasarkan
GK absolut, penduduk miskin Jakarta dan Solo adalah 4,04 % dan 13,96 %
(BPS DKI Jakarta,
2011; BPS Jawa Tengah, 2011), kemiskinan DKI Jakarta adalah yang
terendah se-Indonesia, boleh dikata Solo masih mengalami permasalahan
yang serius dengan kemiskinan, melihat satu titik waktu angka kemiskinan
untuk menilai kinerja Foke dan jokowi adalah sebuah kecerobohan atau
kebodohan, sebab kinerja hanya dapat diukur dengan membandingkan dua
buah titik waktu selama gubernur/wali kota memangku jabatan
  
saya
mengajak anda melihat angka kemiskinan dki jakarta dan solo periode
2007 - 2010 untuk memberikan penilaian yang adil dan obyektif
 
angka
kemiskinan dki jakarta tahun 2007 adalah 4,48 persen, sedangkan angka
kemiskinan kota solo tahun 2008 adalah 16,13 persen, selama kurun waktu 3
tahun (2007-2010), Foke mampu menurunkan kemiskinan sebesar 0,44 % atau
0,15 % per tahun, sedangkan jokowi selama kurun waktu 2 tahun
(2008-2010) mampu menurunkan kemiskinan sebesar 2,17 persen atau 1,1
persen per tahun, berdasar data
statistik ini maka kinerja Jokowi dalam menurunkan angka kemiskinan
jauh lebih baik dibanding kinerja Foke, dg asumsi penurunan kemiskinan
secara linear, Jokowi membutuhkan waktu sekitar 14 tahun untuk
menghilangkan kemiskinan di Solo, sedangkan Foke membutuhkan waktu lebih
dari 20 tahun berkuasa untuk memusnahkan kemiskinan dari bumi Jakarta,
mana yg lebih baik?
  
data kemiskinan relafif sengaja tdk
dipublikasikan oleh bps, karena merupakan inisiatif baru dalam
pengukuran kemiskinan di indonesia, kemiskinan relatif berkaitan erat
dengan masyarakat inklusif dan ketimpangan sosial yang ada di tengah
masyarakat
  
berdasarkan perhitungan data susenas 2005 dan 2008
serta GK relatif sebesar 60 persen rata2 pengeluaran penduduk Jakarta
dan Solo, maka angka kemiskinan relatif tahun 2005 di dki jakarta dan
kota solo adalah masing-masing 39,61 persen dan 38,88 persen, sekitar 40
persen warga jakarta dan 39 persen warga Solo
tidak dapat hidup pantas dan layak seperti kebanyakan orang di wilayah
tersebut, kurun waktu 2005-2008, angka kemiskinan relatif DKI Jakarta
dan Solo telah turun menjadi masing-masing 33,43 persen dan 28,11
persen, terlihat bahwa selama 3 tahun Jokowi mampu menurunkan kemiskinan
relatif sebesar 10,77 persen atau sekitar 3,6 persen per tahun
  
bagaimana
dengan Foke? ternyata Foke hanya mampu menurunkan kemiskinan relatif
sebesar 2,06 persen per tahun, maka jika dilihat dari KINERJA penurunan
kemiskinan absolut dan relatif, Jokowi lebih unggul dibandingkan dengan
Foke, bahkan beberapa waktu lalu sempat ada ide untuk menjadikan kawasan
miskin jakarta menjadi obyek wisata kemiskinan, orang kaya semakin pede
memamerkan kekayaan mereka dg mengendarai mobil mewah di jalanan kota
di antara para pengemis dan anak jalanan, kenyamanan kabin sejuk seakan
mengejek para pengguna angkutan umum dan motor yang kegerahan atau
kedinginan karena guyuran
hujan, demikian keadaan di Jakarta betapa ketimpangan itu terlihat
sangat nyata..
  
sekian tentang kemiskinan dan perbandingan
KINERJA Jokowi dan Foke dalam pengentasan kemiskinan. sekaligus menjawab
beberapa kawan...

Baca juga :
Sekilas Perbandingan Kepemimpinan Jokowi Vs Foke" by @STNatanegara http://chirpstory.com/li/16844

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar