Kamis, 06 September 2012

[kmnu2000] Indonesia dalam Cengkeraman Vampire SDA

 

Indonesia dalam Cengkeraman Vampire SDA

by @STNatanegara

doktrin 'kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah' sudah
membudaya, karena menimbulkan 'value', melanjutkan tentang Vampire
penghisap SDA di Madura dan hubungannya dengan neo kolonialisme di
Indonesia tercinta...

West Madura Offshore, lapangan minyak yang berada di perairan madura cukup kontributif bagi produksi minyak dalam negeri. bau permainan sangat kental dalam penetapan pengelolaan blok Offshore West
Madura ini karena BPMIGAS sebenarnya telah menetapkan PERTAMINA, sebagai OPERATOR sesuai dengan suratnya nomor 238/BP00000/2003-S0 tanggal 05
Mei 2003, namun kenyataannya pihak lain yang menjalankan tugas sebagai
operator sehingga perlu diinvestigasi lebih lanjut...
konstelasi
yang berkembang dalam pengelolaan blok Offshore West Madura ini
terindikasi mengarah kepada permainan bisnis yang kotor, jauh dari
semangat untuk memenuhi kepentingan / kemakmuran Rakyat Indonesia.
kecurigaan patut diarahkan pada munculnya 2 perusahaan abal2.. yg
mengambil saham pemegang kontrak yang waktunya hanya tersisa dua bulan
lagi (terminasi 06 Mei 2011) tanpa adanya janji2 tertentu, pdhl
pertamina cukup aktif merebut konsesi atas blok Offshore West Madura.
pertamina sudah melayangkan 7 proposal kepada pemerintah

pengelolaan blok West Madura Offshore dilakukan melalui kerjasama
Pertamina & Kodeco Energy co.,Ltd pada tanggal 7 Mei 1981, kerjasama
tersebut telah berakhir pada 7 Mei 2011 setelah melalui masa kontrak
kerjasama selama 30 tahun, pemerintah menyetujui kepemilikan hak
partisipasi West Madura Offshore melalui surat dirjen migas nomor
6989/13/DJM.E/2010 tgl 17 Maret 2011, BP Migas & Menteri ESDM,
Darwin Zahedy Saleh melalui surat bernomor 0176/BP00000/2011/SO telah
menyetujui pengalihan interes wilayah kerjasama WMO tertanggal 31 Maret
2011 dan surat tersebut ditandatangani oleh Kepala BP Migas
Ir.R.Priyono. dalam surat tersebut tersirat jelas bahwa kepemilikan
saham Kodeco dialihkan sebesar 12,5% ke PT.Sinergindo Citra Harapan dan
milik CNOOC Madura,. Ltd (PMA China) ke PT.Pure Link Invesment,. Ltd.
sebesar 12,5%, fakta bahwa menteri ESDM menunjuk PT.SCH & PLI tanpa
proses tender terbuka dan disinyalir berpontensi merugikan negara
sebesar USD 100 juta. pemerintah memberikan hak kepada 'pendatang' baru
(SCH & LCI) , jadi indikasi permainan berebut 'fee' bagi para
petinggi negeri

kengototan Pertamina untuk menjadi operator
di Blok West Madura / WMO mengingatkan pada peristiwa yang sama di
tahun 2006, Pemerintah yang mewakili kepentingan "USA" melawan Pertamina
dalam memperebutkan kepemilikan dan operator migas di Blok Cepu, Dirut
Pertamina saat itu, Widya Purnama, seorang yang menurut saya sangat
berani, begitu memperjuangkan Pertamina untuk menguasai Blok Cepu, Widya
tidak menggubris permintaan Pemerintah agar Blok Cepu di kuasai bersama
Exxon Mobil dimana Exxon menjadi operatornya. Widya mengatakan kalau
Pertamina mampu menguasai dan menjadi operator tunggal di Blok Cepu jika
seandainya pemerintah mengijinkan

gebrakan dan perlawanan
Widya Purnama membuat pemerintah kebakaran jenggot dan mengambil langkah
strategis maka untuk memuluskan keinginan ExxonMobil menjadi operator
di Blok Cepu, Pemerintah segera menyopot jabatan dan mengganti Widya
Purnama, akhirnya tentu saja Widya Purnama dicopot dan diganti oleh Ari
Sumarno selaku Dirut Pertamina yang baru, Ari Purnomo mengatakan bahwa
tugas pertama yang dia harus lakukan adalah menyelesaikan negosiasi Blok
Cepu yang terbengkalai dan sehari sebelum kedatangan Menlu USA,
Condolezza Rice, terjadi penandatangan perjanjian pengelolaan Blok Cepu
dan Exxon Mobil operatornya. kisruh perpanjangan kontrak di Blok West
Madura /WMO terkesan mirip jika dibandingkan dengan kasus Blok Cepu,

ribut-ribut pembagian kue SDA di Madura menjadi contoh betapa
kolonialisme kembali berkembang di negara kita ini, Neo Kolonialisme
tidak lagi berbekal amunisi dan bayonet tetapi cukup menggunakan
kekuatan capital untuk menjajah negeri ini, padahal Presiden Soekarno
sbg Pemimpin Besar Revolusi dalam melaksanakan agenda revolusi
menjalankan kebijakan yang sangat berani ; Pertama, pembatalan hasil
kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) secara sepihak pada 1956
termasuk penghentian pembayaran utang warisan Hindia Belanda. ; Kedua,
nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda pada 1957 ; Ketiga,
perebutan kembali Papua Barat pada 1962. ; Keempat, penarikan diri
Indonesia dari keanggotaan PBB, IMF, dan Bank Dunia pada awal 1965;
Kelima, penerbitan UU Nomor 16 Tahun 1965 ada 23 Agustus 1965 yang
memerintahkan segala bentuk keterlibatan perusahaan asing di Indonesia

sayangnya lompatan berani itu harus terhenti pasca peristiwa G30S dan
penggulingan Soekarno dari tampuk kekuasaan oleh rezim Order Baru,
Soeharto memegang tampuk kekuasaan dan menjadi sekutu bagi kekuatan
Kolonialis-Imperialis yang dikomandoi oleh Amerika Serikat, dengan
penerbitan UU 7, 8, dan 9 Tahun 1966 serta UU Nomor 1 dan 12 Tahun 1967,
perekonomian Indonesia menuju kekuasaan neo-kolonialisme

dominasi pihak asing penjajah kini semakin meluas dan menyebar pada
sektor2 strategis perekonomian. semakin kuat pada sektor2 strategis,
seperti keuangan, energi dan sumber daya mineral, telekomunikasi,
perkebunan. pihak asing jg menguasai 60 persen asset perbankan nasional
sekitar Rp 1.551 T dari total asset perbankan Rp 3.065 T dikuasai asing.
pdhl Juni 2008 kepemilikan asing baru mencapai 47,02 persen, asuransi
juga didominasi asing. dari 45 perusahaan asuransi jiwa yang beroperasi
di Indonesia, tak sampai setengahnya murni milik Indonesia, asuransi
yang ekuitasnya di atas Rp 750 miliar hampir semuanya patungan. dari
sisi perolehan premi, lima besarnya adalah perusahaan asing. pasar modal
juga demikian, total kepemilikan investor asing 60-70% dari semua saham
perusahaan yang dicatatkan dan diperdagangkan di BEI, badan usaha milik
negara (BUMN) pun demikian. dari semua BUMN yang telah diprivatisasi,
kepemilikan asing sudah mencapai 60 persen.

perusahaan
asing, terutama China dan India, masuk menguasai tambang kecil dengan
membiayai perusahaan tambang lokal yang kesulitan pendanaan, dua negara
ini sangat agresif mencari sumber daya batubara sebagai pengganti
minyak di luar negeri, sementara cadangan migas dan tambangnya sengaja
mereka simpan untuk ketahanan dalam negeri mereka. dari total 225 migas
yang dikelola kontraktor kontrak kerja sama non-Pertamina, 120 blok
dioperasikan perusahaan asing, hanya 28 blok yang dioperasikan
perusahaan nasional, serta sekitar 77 blok dioperasikan perusahaan
gabungan asing dan lokal, dengan penguasaan wilayah kerja yang meluas
dan tersebar dari Sabang sampai Papua di Nusantara, membuat kedaulatan
negara dan bangsa rawan, jadi tidah hanya Madura, Nusantara bahkan telah
dicengkeram oleh Imperialisme Vampire-vampire penghisap darah yang
jahat!

penghasil minyak utama jg didominasi oleh pihak
asing, diantaranya; Chevron 44 persen, Pertamina dan mitra 16 persen,
Total E&P 10 persen, Conoco Philips 8 persen, Medco 6 persen, CNOOC 5
persen, Petro china 3 persen, British Petroleum 2 persen, Vico
Indonesia 2 persen, Kodeco Energy 1 persen, lainya 3 persen.

Modus yang sama juga terjadi pada bidang pertanian, perkebunan dan
perhutanan. Bahkan pasar ritel kita pun kini sudah didominasi asing

Demikian tentang Indonesia dlm cengkeraman Vampire jahat. Hanya mengingatkan akan kondisi nyata bahwa kita masih terjajah.

baca juga : Cerita tentang Madura dan Vampire Penghisap SDA
by @STNatanegara http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/08/medianusantara-cerita-tentang-madura.html

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
kmnu2000-unsubscribe@yahoogroups.com
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar