Jumat, 07 September 2012

[M_S] Syiah dan kasus Imam Husein - Tragedi Karbala

 

dikutip dan diedit dari
http://syiahindonesia.com/index.php/kajian-utama/sejarah-syiah/302-siapa-menipu-imam-husein 
http://syiahindonesia.com/index.php/kajian-utama/sejarah-syiah/411-konspirasi-rahasia-di-balik-tragedi-karbala-dan-terbunuhnya-husain 
agar fokus thd kasus Imam Husein saja.

sekaligus jawaban, kenapa ane pribadi, agak paranoid dgn Syiah.
mungkin reaksi berlebihan.
tetapi dgn melihat kasus Imam Husein, dan 2x ane teracuni pemikiran Syiah...membuat ane agak paranoid.
mohon maaf bila reaksi ane thd Syiah, berlebihan.

Demikian dari ane.
semoga menambah wawasan dan jadi renungan utk kita semua.

Wassalam - Nugon

-=-=-=-=-=-



Siapa Menipu Imam Husein?

Senin, 02 Agustus 2010 14:20 Redaksi

Imam Husein adalah Imam kaum muslimin, cucu Nabi SAW. kita tidak perlu menukil dalil yang berisi perintah untuk mencintai keluarga Nabi. Kita mencintai Imam Husein karena kita mencintai kakeknya.

Seperti sabda kakeknya, Imam Husein – beserta sang kakak, Imam Hasan – adalah pimpinan pemuda penghuni surga, tentunya kita semua ingin masuk Surga. Namun berita itu mengandung perintah bagi kita untuk mengikuti jalan hidup Imam Husein, karena jalan hidup Imam Husein akan membawa kita ke Surga. Isi isyarat itu jika kita terjemahkan ke bahasa kita hari ini kira-kira bunyinya menjadi begini: "Kalau mau ke Surga, ikuti Imam Husein". Inilah inti pesan dari hadits Nabi yang memberitakan jaminan Surga terhadap beberapa person. Asal pembaca tahu saja, yang dijamin Surga bukan hanya Imam Husein saja, jaminan Surga juga ada pada ayat Al-Qur'an:

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah :100).

Membicarakan kehidupan Imam Husein tidak bisa lepas dari peristiwa tragis yang menjadi awal kehidupan akherat baginya, yaitu peristiwa pembantaian yang terjadi di Karbala. Sudah semestinya setiap muslim bersedih atas peristiwa tersebut. Bagaimana cucu Nabi yang dicintainya, dibantai dengan darah dingin tanpa kasih sayang. Namun peristiwa itu menjadi awal bagi kehidupan akherat, menyusul kakeknya Muhammad SAW, beserta ayah - ibunya. Berbahagia di alam akherat, seperti yang dijanjikan Allah lewat lisan kakeknya.

Membicarakan peristiwa Karbala tak akan lengkap sekiranya kita hanya memfokuskan pada peristiwa pembantaian itu saja, tanpa pernah mengikuti episode sejarah sebelumnya. Hingga penilaian kita tidak akan bisa utuh, karena tidak berdasarkan fakta yang utuh, yang memberi kita gambaran tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Ini menimbulkan tanda tanya, dan kesan yang ditangkap adalah episode ini sengaja untuk tidak terlalu dibahas panjang lebar. Barangkali ini sebabnya mengapa episode sebelum peristiwa Karbala terjadi sangat jarang diulas, mereka yang selalu mengulas dan menganalisa kisah Karbala jarang menyinggung peristiwa yang terjadi sebelumnya, yang mengakibatkan cucu Nabi ini dibantai.

Satu peristiwa tidak bisa lepas dari peristiwa sebelumnya sebagai satu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan, tentunya tidak bisa dipisahkan begitu saja, apa yang terjadi saat ini adalah bagaikan memisahkan ayat dan (sebab turunnya ayat) sabab nuzulnya. Memisahkan peristiwa Karbala dengan peristiwa-peristiwa yang sebelumnya terjadi, yang akhirnya ikut menyebabkan terjadinya pembantaian Karbala. Tapi sayang peristiwa itu seolah terkubur di telan bumi, jarang kita mendengar tentang peristiwa-peristiwa yang melatar-belakangi dan merangkai pembantaian Karbala. Barangkali bisa kita mulai dari pertanyaan penting, yang sayangnya jarang kita dengar. Barangkali akal sehat kita sering tertutupi oleh kesedihan kita yang mendalam, yang barangkali kita buat-buat sendiri, dengan mendengarkan kisah-kisah sedih pembunuhan Imam husein, dengan diberi bumbu suara yang menyayat hati dan sebagainya akhirnya kita lupa bertanya:

Mengapa peristiwa itu terjadi? Peristiwa apa yang menjadi latar belakang peristiwa itu? mengapa Imam husein berangkat ke Karbala? Barangkali pertanyaan terakhir ini menjadi titik awal bagi perjalanan kita kali ini untuk menelusuri peristiwa-perstiwa yang melatar-belakangi peristiwa Karbala.

Peristiwa ini diawali ketika Yazid menggantikan Muawiyah yang mangkat dan segera meminta agar Husein berbaiat. Namun husein menolak bersama Abdullah bin Zubair, dan keduanya pergi diam-diam ke kota Mekah. Seperti kita ketahui bahwa Imam Husein adalah salah satu figur umat Islam karena hubungan kekerabatannya dengan Nabi, seluruh umat Islam mencintainya, dari dulu hingga hari ini, hanya orang menyimpang dan menyimpan penyakit di hatinya saja yang membenci keluarga Nabi. Hingga ketika dia menolak berbaiat maka kabar beritanya tersebar ke segala penjuru, di antara mereka yang mendengar kabar berita mengenai Imam husein adalah warga Kufah. Lalu mereka mengirimkan surat-surat kepada Imam husein mengajaknya untuk datang ke Kufah dan memberontak kepada Yazid. Surat-surat itu begitu banyak berdatangan kepada Imam, hingga jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Ahmad Rasim Nafis – seorang penulis syiah – menerangkan: "Surat-surat penduduk Kufah kepada Husein'Alaihis salam, menyatakan: "Kami tidak memiliki Imam, oleh karena itu datanglah, semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas kebenaran." Surat-surat itu mengandung berbagai tanda tangan menghimbau kedatangannya untuk menerima bai'at dan memimpin umat dalam rangka menghadapi para pendurhaka bani Umayah. Begitulah, kian sempurnalah unsur-unsur pokok bagi gerakan Huseiniyah. Di antaranya: … Adanya hasrat mayoritas masyarakat yang menuntut reformasi dan mendorong Imam Husein untuk segera memegang tampuk kepemimpinan bagi gerakan tersebut. Juga peristiwa dorongan-dorongan di Kufah ini diungkapkan di dalam surat-surat baiat dari penduduk Kufah." (Lihat: 'Alaa Khutha Husain, hal. 94).

Muhammad Kadhim Al-Qazwaini – seorang ulama syiah – menyatakan: "Penduduk Irak menulis surat kepada Husein, mengirim utusan, dan memohon agar beliau berangkat ke negeri mereka untuk menerima baiat sebagai khalifah, sehingga terkumpul pada Husein sebanyak 12.000 surat dari penduduk Irak yang semuanya berisikan satu keinginan. Mereka menulis: "Buah sudah ranum, tanaman sudah menghijau, Anda hanya datang untuk menjumpai pasukan anda yang sudah bersiaga. Anda di Kufah memiliki 100.000 (seratus ribu) pedang. Apabila Anda tidak bersedia datang, maka kelak kami akan menuntut Anda di hadapan Allah." (Lihat: Faaji'atu Ath-Thaff, hal. 6).

Seorang ulama syiah, Abbas Al-Qummi menerangkan: "Melimpah ruahlah surat-surat sehingga terkumpul pada beliau di dalam satu hari sebanyak 600 surat berisikan janji hampa. Dalam pada itu pun beliau menunda-nunda dan tidak menjawab mereka. Sehingga terkumpul pada beliau sebanyak 12.000 surat." (Lihat: Muntaha Al-Amaal: 1/430).

Ribuan – tepatnya puluhan ribu – surat yang berdatangan berhasil meyakinkan Husein mengenai kesungguhan penduduk Kufah.  Husein mengutus Muslim bin Aqil untuk mengecek keadaan kota Kufah dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana. Dan ternyata benar, sesampainya Muslim disana ternyata banyak orang berbaiat pada Muslim untuk "membela" Imam Husein melawan penguasa zhalim. Mereka menunggu kedatangan sang Imam untuk memimpin mereka.

Ridha Husein Shubh Al-Huseini – seorang penulis syi'ah – mengatakan: "Lalu Muslim berangkat dari Mekah pada pertengahan bulan Sya'ban, dan tiba di Kufah selepas lima hari bulan Syawal. Orang-orang Syi'ah berdatangan berbaiat kepadanya, sehingga jumlah mereka mencapai 18.000 orang. Sedang di dalam riwayat Asy-Sya'bi, jumlah orang yang berbaiat kepadanya mencapai 40.000 orang."  (Lihat: Asy-Syii'ah wa Asyuura, hal. 167).

Dari situ ia mulai menerima masyarakat. Dan menyebarluaslah seruan agar berbaiat kepada Husein 'Alaihis salam, sehingga jumlah orang-orang yang "bersumpah setia sampai mati" mencapai 40.000 orang. Ada juga yang mengatakan, kurang dari jumlah tersebut. Gubernur Yazid yang berada di Kufah ketika itu adalah An-Nu'man bin Basyir. Sebagaimana disifati (digambarkan) oleh para sejarawan, gubernur ini seorang muslim yang tidak menyukai perpecahan dan lebih mengutamakan kesejahteraan." (Lihat: Siiratul Aimmati Al-Itsna 'Asyar: 2/57-58).

Seorang ulama Syi'ah, Abdur Razaq Al-Musawi Al-Muqarram menerangkan: "Orang-orang Syi'ah menjumpai Muslim di rumah Al-Mukhtar dengan sambutan hangat dan menampilkan sikap taat dan patuh. Sikap yang membuat ia lebih gembira dan lebih bersemangat…, selanjutnya orang-orang Syi'ah pun datang saling berbaiat kepadanya sampai tercatat sejumlah 18.000 orang. Bahkan ada yang mengatakan sampai sejumlah 25.000 orang. Sedang di dalam riwayat Asy-Sya'bi dinyatakan, orang-orang yang berbaiat kepadanya berjumlah 40.000 orang. Kemudian Muslim menulis surat kepada Husein bersama Abs bin Syabib Asy-Syakiri, memberitakan kepada beliau tentang kesepakatan penduduk Kufah untuk patuh dan mereka yang menanti-nanti. Di dalamnya ia menyatakan: "Seorang penunjuk jalan tidak akan mendustai keluarganya sendiri. Bahkan sudah terdapat 18.000 orang penduduk Kufah yang berbaiat kepadaku…" (Lihat: Maqtal Husain, karya Al-Muqarram, hal. 147 dan Ma'saatu Ihda wa Sittiin, hal. 24).

Abbas Al-Qummi juga menerangkan: "Melalui riwayat yang lalu, membuktikan bahwa orang-orang Syi'ah dengan diam-diam menjumpai Muslim di rumah Hani, secara rahasia. Lalu mereka pun saling mengikutinya, dan Muslim menekankan kepada tiap-tiap orang yang berbaiat kepadanya agar tutup mulut dan merahasiakan hal itu, sampai jumlah orang yang berbaiat kepadanya mencapai 25.000 laki-laki. Sementara Ibnu Ziyad masih belum mengetahui posisinya…" (Lihat: Muntaha Al-Amaal: 1/437).

Sampai di sini barangkali anda membayangkan bagaimana puluhan ribu orang bersiap siaga untuk menyambut kedatangannya, bagaimana mereka mempersiapkan persenjataan untuk "melawan penguasa zhalim" di bawah pimpinan sang Imam. Tapi jangan berhenti membaca di sini, ternyata ending kisah tak seindah yang anda bayangkan.

Melihat sambutan penduduk Kufah yang begitu menggembirakan, Muslim mengirim surat pada Husein untuk segera datang. Tapi apa yang terjadi, Yazid mengutus Ubaidilah bin Ziyad, untuk "menertibkan" kota Kufah, hingga akhirnya menangkap Muslim bin Aqil dan beberapa tokoh yang mengajak untuk berbaiat pada Imam husein. Ternyata satu orang saja dapat menertibkan ribuan orang di Kufah yang telah berbaiat pada Imam Husein untuk melawan orang-orang "zhalim". Nyali mereka menjadi ciut dan melupakan baiat mereka pada Imam Husein.

Ulama Syi'ah, Muhammad Kadhim Al-Qazwaini menerangkan: "Lalu Ibnu Ziyad masuk Kufah. Ia mengirim utusan kepada para ulama setempat dan pimpinan pimpinan kabilah, mengancam mereka dengan datangnya pasukan dari Syam, dan memikat mereka, sehingga mereka pun berpisah-pisah meninggalkan Muslim sedikit demi sedikit sehingga tinggal Muslim seorang diri." (Lihat: Faaji'atu Ath-Thaff, hal. 7 dan pernyataan serupa juga tersebut di dalam kitab "Tadhallum Az-Zahra", hal. 149).

Puluhan ribu orang yang membaiat Imam Husein, baik melalui surat maupun yang berbaiat langsung akhirnya "keok"  hanya dengan digertak oleh Ibnu Ziyad. Keinginan mereka untuk menolong Imam Husein seketika sirna karena mendengar gertakan Ibnu Ziyad. Mereka lebih suka duduk di rumah beserta anak istri ketimbang berperang bersama Imam Husein melawan tentara Yazid. Rupanya itulah kualitas mental "pembela Ahlul Bait Nabi".

Ibnu Ziyad mengutus tentara untuk mencegat Imam Husein, hingga terjadilah proses negosiasi.

Ayatullah Muhammad Taqiy Ali Bahri Al-Ulum – seorang ulama syiah – menerangkan: "Husein keluar seraya mengenakan kain, selendang, sepasang sendal, dan bersandar pada penghulu pedang beliau. Lalu beliau menghadapi kelompok tersebut, memuji dan menyanjung Allah, lalu berkata: "Dengan merendahkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla dan juga kepada kalian. Sebenarnya saya tidak datang kepada kalian sehingga datang kepada saya surat-surat kalian. Dan dinyatakan oleh utusan-utusan kalian: "Datanglah kepada kami karena kami tidak memiliki Imam. Semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas petunjuk." Jika kalian memang bersikap seperti itu, maka sekarang kami datang kepada kalian, maka penuhilah janji dan ikrar kalian dengan sikap yang baik. Tetapi sekiranya kalian tidak menyukai kehadiranku, maka saya pun akan meninggalkan kalian kembali ke tempat di mana saya berangkat." Mereka pun terdiam semuanya. Lalu Al-Hajjaj bin Masruq Al-Ju'fi menyerukan shalat Dhuhur. Kemudian Husein berkata kepada Hurr: "Apakah Anda hendak berlaku sebagai Imam shalat sahabat-sahabat Anda?" Ia menjawab: "Tidak: "Tetapi kami semuanya akan bermakmum kepada Anda." Kemudian Husein pun berlaku sebagai Imam shalat atas mereka. Seusai shalat, beliau menghadap mereka, memuji dan menyanjung Allah, dan bersholawat kepada Nabi Muhammad, beliau berkata: "Wahai hadirin, sekiranya kalian bertakwa kepada Allah dan memahami hak-hak ahli-Nya, niscaya itu lebih diridhai Allah. Kami adalah Ahlul Bait Muhammad SAW, lebih layak untuk menduduki jabatan ini dibanding mereka yang merasa memiliki apa-apa yang tiada pada mereka. Dan mereka orang-orang yang suka melakukan kejahatan dan permusuhan. Tetapi sekiranya kalian merasa enggan dan tidak menyukai kami, tidak memahami hak-hak kami, dan sekarang kalian berpendapat (dengan pendapat baru) yang berbeda dengan pernyataan pernyataan surat-surat kalian. Kami akan pergi meninggalkan kalian."

Hurr berkata: "Saya tidak mengerti tentang surat-surat yang Anda sebutkan itu?" Lalu Husein memerintahkan kepada Uqbah bin Sam'an (agar mengeluarkan surat-surat tersebut). Ia pun mengeluarkan dua kantung penuh dengan surat-surat."

Hurr berkata: "Saya bukan dari golongan mereka. Bahkan saya diperintah untuk tidak berpisah dari Anda apabila bisa menjumpai Anda sampai saya membawa Anda ke Kufah menjumpai Ibnu Ziyad." Husein menjawab: "Maut lebih dekat pada diri Anda dari pada melaksanakan hal itu." Lalu beliau memerintahkan sahabat-sahabat beliau agar menunggangi kendaraan, para wanita pun sudah menunggangi kendaraan. Tetapi tiba-tiba Hurr melarang mereka pergi menuju ke Madinah." Husein berkata kepada Hurr: "Celakalah ibumu!, apakah yang kalian harap dari kami?" Hurr berkata: "Sekiranya yang mengucapkan kata-kata itu orang Arab lain selain Anda, dan ia dalam posisi seperti Anda sekarang, niscaya tidak akan kubiarkan ia menyebut celaka terhadap ibunya, betapa pun alasannya. Demi Allah, saya tidak memiliki kemampuan untuk menyebut ibu Anda, kecuali dengan ucapan yang baik dan kami hormati. Tetapi sekarang silahkan ambil jalan tengah yang mana tidak memasukkan Anda ke Kufah dan bukan ke arah Madinah, sehingga saya dapat menulis surat kepada Ibnu Ziyad. Semoga allah berkenan mengaruniakan kesejahteraan kepada kita, dan saya pun tidak mendapat musibah lantaran persoalan Anda ini." (Lihat: Waaqi'atu Ath-Thaff, karya Bahru Al-'Ulum, hal. 191-192).

Imam Husein terhenyak, ternyata dia telah ditipu mentah-mentah oleh kaum syi'ah yang berbaiat kepadanya. 


Abbas Al-Qummi menerangkan: Ibnul Hurr mengatakan: "Wahai putra Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam wa aalih, sekiranya di Kufah terdapat Syi'ah (sejati) dan para pembela yang akan berperang bersama Anda, niscaya saya orang yang paling mengetahuinya. Tetapi saya mengetahui bahwa Syi'ah Anda di Kufah itu telah meninggalkan rumah-rumah mereka masing-masing karena takut kepada pedang-pedang bani Umayah." Husein tidak menjawab ucapan itu, dan beliau 'Alaihis salam berlalu… (Abbas Al-Qummi menerangkan peristiwa tersebut di dalam Muntaha Al-Amaal: 1/466 Juga terdapat pada catatan pinggir (haamisy) hal. 177 dalam buku An-Nafsu Al-Mahmuum. Sedang lafalnya pada kitab rujukan yang kedua).

Abbas Al-Qummi menerangkan: "Lebih lanjut perhatikanlah (maksudnya; Husein), sehingga ketika tiba waktu sahur, beliau berkata kepada bujang-bujang dan pelayan pelayan beliau: "Perbanyaklah air, sehingga kalian memiliki persediaan minum. Dan perbanyak lagi, kemudian berangkatlah. Lalu beliau melakukan perjalanan. Sehingga ketika beliau sampai di tempat sampah, datang kepada beliau berita tentang Abdullah bin Yaqthar. Kemudian beliau mengumpulkan para sahabat beliau. Mengeluarkan sepucuk surat di hadapan hadirin, dan beliau membacakannya di hadapan mereka. Ternyata tertulis di dalamnya sebagai berikut: "Bismillahirrahmanirrahim. Lebih lanjut, telah datang berita buruk kepada kami, Muslim bin Aqiil dibunuh, Hani bin Urwah, dan juga Abdullah bin Yaqthar. Kita telah ditinggalkan oleh Syi'ah kita sendiri. Barangsiapa di antara kalian hendak pulang, silahkan pulang tanpa dipersalahkan dan tanpa dibebani sangsi."

Kemudian para hadirin pun bercerai-berai meninggalkan beliau, yaitu dari kalangan orang-orang yang mengikuti beliau demi memperoleh harta rampasan dan kehormatan. Sehingga beliau hanya tinggal bersama Ahlul Bait beliau dan para sahabat-sahabat beliau yang tetap memilih tinggal dan patuh bersama beliau atas dasar yakin dan iman." (Muntaha Al-Amaal: 1/462, Majlisi dalam Bihaarul Anwar: 44/374, Muhsin Al-Amin dalam Lawaaij Al-Asyhaan, hal. 67, Abdul Husein Al-Musawi dalam Al-Majaalis Al-Faakhirah, hal. 85 dan Abdul Hadi Ash-Shalih dalam Khoirul Ashhaab, hal. 37 dan 107).

Ahmad Rasim An-Nafis mengutipkan kepada kita beberapa pantun Husein Radhiyallahu 'anhu yang dikutip dari kitab "Al-Ihtijaaj" (2/24) dan peringatan beliau kepada Syi'ah (para pengikut) beliau yang telah mengundang beliau (dengan janji) hendak membelanya, tetapi kemudian meninggalkannya. Kata beliau: "Ketika itu mereka secara terus menerus merisaukan Abu Abdillah Husein, agar beliau tidak dapat menyelesaikan ibadah haji beliau. Lalu beliau berkata kepada mereka dengan murka: "Mengapa kalian tidak bersedia diam terhadapku dan mendengar tutur kataku? Sebenarnya saya mengajak kalian ke jalan lurus, sehingga orang-orang yang bersedia mengikutiku akan menjadi orang-orang yang beroleh bimbingan, sedang yang durhaka kepadaku akan menjadi orang-orang yang dibinasakan. Kalian semua telah berbuat durhaka terhadap perintahku, tidak mendengar ucapanku. Kiranya barang-barang yang kalian terima berlimpah barang haram, perut-perut kalian pun dipenuhi oleh barang haram, sehingga Allah menutup hati kalian. Celakalah kalian, mengapa kalian tiada bersedia tutup mulut? Mengapa tidak bersedia mendengar?" ……, lalu para hadirin pun diam. Selanjutnya beliau 'Alaihis salam berkata lagi: "Celakalah kalian wahai jemaah. Kalian campakkan apa-apa yang telah kalian serukan kepada kami. Kami dapati kalian dalam keadaan lemah, lalu kami pun menyeru kalian dengan siap siaga. Lalu kalian hunuskan pedang ke arah leher-leher kami. Kalian sulutkan bara api fitnah ke atas kami, sehingga menjadi peluang bagi musuh-musuh kami dan musuh kalian sendiri. Lalu kalian pun menjadi perintang orang-orang yang hendak melindungi kalian, dan pula menjadi tangan bagi musuh-musuh kalian. Tanpa adanya keadilan berlaku di antara kalian. Tak ada pula harapan kalian terhadap mereka kecuali harta duniawi haram yang akan kalian peroleh, kehidupan seorang pengecutlah yang kalian dambakan…, alangkah buruk moral kalian. Sebenarnya kalianlah para pendurhaka di antara umat ini, kelompok paling jahat, pencampak Al-Kitab (Al-Qur'an), sarana bisik-bisikan setan, golongan para pendosa, pemanipulasi Al-Qur'an, pemadam sunah-sunah, dan pembunuh putra-putri para Nabi, '(Lihat: Ala Khutha Husain, hal. 130-131).

Marilah kita perhatikan bagaimana Imam Husein Radhiyallahu 'anhu menyebutkan sifat-sifat kaum Syiah yang ingin membela keluarga Nabi:
"Pendapatan kalian dipenuhi barang-barang haram."
"Perut-perut kalian dipenuhi barang-barang haram."
"Allah menutup hati kalian."

Imam husein ditipu mentah-mentah sebelum dibantai secara tragis. Siapa yang menipunya? Siapa yang memanggil sang Imam lalu meninggalkannya? Mari kita simak lagi pengakuan Imam Husein, yang lebih tahu tentang kondisi syiahnya dibanding kita semua:

Kita telah ditinggalkan oleh Syiah kita sendiri.




Konspirasi Rahasia Di Balik Tragedi Karbala dan Terbunuhnya Husain

Selasa, 01 Februari 2011 08:21 Redaksi

Al-Husain bin 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu, atau yang dikenal sebagai Husain Radhiyallahu 'anhu, adalah cucu Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam, buah hati dan kecintaannya di dunia. Ia adalah saudara Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu, penghulu pemuda penduduk surga. Kedudukan tinggi tersebut tidak ia peroleh, kecuali ia lakoni dengan ujian dan cobaan, dan sungguh Husain Radhiyallahu 'anhu telah berhasil melewati ujian tersebut secara penuh dengan kesabaran dan keteguhan (tsabat) yang sempurna hingga menemui Alloh Subhanahu wa Ta'ala. 

Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu, "Sesungguhnya ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum ini, ia meminta izin kepada Robbnya untuk mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa Fathimah adalah penghulu kaum wanita penghuni surga dan bahwasanya Hasan serta Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga." (HR.  Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani).
Husain Radhiyallahu 'anhu dan Kronologis Syahidnya
Setelah kekhilafahan dilimpahkan kaum Muslimin kepada Hasan bin 'Ali Radhiyallahu 'anhu, kemudian ia turun (lengser) darinya untuk diberikan kepada Mu'awiyah Radhiyallahu 'anhu untuk memelihara darah kaum Muslimin, dengan syarat selanjutnya Mu'awiyah sendiri yang akan menyerahkan kembali kekhilafahan kepada Hasan Radhiyallahu 'anhu. Akan tetapi Hasan meninggal dunia sebelum Mu'awiyah meninggal. Maka ketika itu Mu'awiyah memberikan kekhilafahan kepada anaknya, Yazid. Tatkala Mu'awiyah meninggal, maka Yazid memegang perintah, dan Husain enggan memba'iatnya, lalu ia keluar dari Madinah menuju ke Mekkah dan menetap di sana.

Kemudian golongan pendukung ayahnya dari Syi'ah Kufah mengirim surat kepada Husain agar ia keluar bergabung menemui mereka. Mereka menjanjikan akan menolongnya jika ia telah bergabung. Maka Husain tertipu dengan janji mereka, dan mengira bahwa mereka akan merealisasikannya untuk memperbaiki kebijakan yang buruk dan untuk meluruskan penyelisihan yang diawali pada kekhilafahan Yazid bin Mu'awiyah.

Perbuatan Husain Radhiyallahu 'anhu untuk bergabung dengan penduduk Kufah sendiri dinilai salah oleh para penasehatnya. Di antara mereka adalah Ibnu 'Abbas, Ibnu 'Umar, 'Abdulloh bin Ja'far Radhiyallahu 'anhum dan lainnya. Bahkan 'Abdulloh bin 'Umar Radhiyallahu 'anhu terus mendesak kepada Husain  agar tetap tinggal di Mekkah dan tidak keluar. Namun dengan dilandasi baik sangka, Husain menyelisihi permusyawarahan mereka dan keluar, lalu Ibnu 'Umar Radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya, "Aku menitipkanmu kepada Alloh dari pembunuhan!".

Begitu Husain Radhiyallahu 'anhu keluar, ia menemui Farozdaq di jalan yang berkata kepadanya, "Berhati-hatilah engkau, mereka bersamamu namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah. Mereka adalah Syi'ah yang mengirim surat kepadamu, dan mereka menginginkanmu untuk keluar (ke tempat mereka), tetapi hati-hati mereka tidak bersamamu. Secara hakiki mereka mencintaimu, akan tetapi pedang-pedang mereka terhunus bersama Bani Umayyah!"

Akhirnya, sangat jelas sekali tampaklah pengkhianatan Syi'ah ahli Kufah, walau mereka sendiri yang mengharapkan kedatangan Husain Radhiyallahu 'anhu. Maka wakil penguasa Bani Umayyah, 'Ubaidillah bin Ziyad yang mengetahui sepak terjang Muslim bin 'Aqil yang telah membai'at Husain, segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya sekaligus tuan rumah yang menjamunya, Hani bin Urwah al-Muradi. Dan kaum Syi'ah Kufah hanya diam seribu bahasa melihat pembantaian dan tidak memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain Radhiyallahu 'anhu. Hal itu mereka lakukan karena 'Ubaidillah bin Ziyad telah memberikan segepok uang kepada mereka.

Maka ketika Husain Radhiyallahu 'anhu keluar bersama keluarga dan pengikutnya, berangkat pula Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah Husain Radhiyallahu 'anhu dan terbunuh pula semua sahabat yang mendampinginya secara terzhalimi dan dapat dianggap sebagai pembantaian sadis. Kepala mulianya terpotong, lalu diambil oleh para wanita dan anak-anak yang berada di antara pasukan dan diberikan paksa kepada Yazid di Damaskus. Ketika melihat kepala Husain dibawa ke hadapannya saat itu, Yazid pun sedih dan menangis. Kemudian para wanita dan anak-anak dikembalikan ke kota, sedangkan anak laki-laki ikut terbunuh, sehingga tidak tersisa dari anak-anak (Husain) kecuali 'Ali Zainul Abidin yang ketika itu masih kecil.

Kemanakah Syi'ah Kufah Pendusta dan Pengkhianat?
Sejak pertama, Syi'ah Kufah sudah takut berperang dan telah "siap" menjual kehormatan mereka dengan harta. Mereka merencanakan pengkhianatan untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan semata, walaupun hal itu harus dibayar dengan menyerahkan salah seorang tokoh Ahlul Bait, Husain Radhiyallahu 'anhu. Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin 'Aqil, dan ternyata tidak pula ikut berperang membantu Husain Radhiyallahu 'anhu.

Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait lainnya yang gugur bersama Husain Radhiyallahu 'anhu adalah putera 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu lainnya, yaitu Abu Bakar bin 'Ali, 'Umar bin 'Ali, dan 'Utsman bin 'Ali Radhiyallahu 'anhu. Juga putera Hasan sendiri, Abu Bakar bin Hasan Radhiyallahu 'anhu. Namun anehnya, ketika kita mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syi'ah yang menceritakan kisah pembunuhan Husain Radhiyallahu 'anhu, keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Lantas, apa tujuannya?

Tentu saja, agar para pengikut Syi'ah tidak memberi nama anak-anak mereka dengan tiga nama sahabat Rosululloh Shallalahualaihi wa sallam yang paling dibenci orang-orang Syi'ah, bahkan yang dilaknat oleh mereka setiap harinya.

Melihat kebusukan perangai dan pengkhinatan Syi'ah, Husain Radhiyallahu 'anhu dalam doanya yang sangat terkenal sebelum wafat atas mereka adalah "Ya Alloh, apabila Engkau memberi mereka kenikmatan, maka cerai-beraikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui para pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata malah memusuhi kami dan membunuh kami!".

Konspirasi dibalik Terbunuhnya Husain Radhiyallahu 'anhu
Di balik tragedi Karbala, yaitu terbunuhnya Husain Radhiyallahu 'anhu dan banyak Ahlul Bait lainnya serta rombongan yang menyertainya, ada rahasia besar yang harus diketahui, yaitu:
1.    Ternyata yang membunuh Husain Radhiyallahu 'anhu adalah 'Ubaidillah bin Ziyad yang berkolaborasi dengan Syi'ah Husain.
Fakta ini bahkan diakui oleh sejarawan Syi'ah sendiri, Mulla Baqir al-Majlisi, Qadhi Nurullah Syustri dan lainnya, tentunya selain fakta sejarah yang jelas dan mengedepankan nilai ilmiah yang selama ini telah banyak beredar.
Mereka adalah para pengkhianat, musuh-musuh semua kaum Muslimin, bukan hanya bagi Ahlus Sunnah saja.
2.    Kecintaan Syi'ah terhadap Ahlul Bait hanyalah isapan jempol dan kebohongan yang dipropagandakan.
Bahkan yang Syi'ah da'wahkan tiada lain merupakan upaya untuk menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Majusi Saba'iyah (pengikut Abdulloh bin Saba').
3.    Keadaan Syi'ah yang selalu diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang masa dalam sejarah membuktikan dikabulkannya doa Husain Radhiyallahu 'anhu di medan Karbala akan adzab Syi'ah.
4.    Upacara dan ritual Asyura'-an, seperti menyiksa badan dengan cara memukul-mukul tubuh dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh Syi'ah sehingga mengalirkan darah, juga merupakan bukti diterimanya doa Husain Radhiyallahu 'anhu, bahkan mereka terhina dengan tangan mereka sendiri.
Dari upaya menelusuri tragedi terbunuhnya Husain Rahimahullah dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1.    Syi'ah bukanlah Ahlul Bait, dan Ahlul Bait berlepas diri dari Syi'ah, diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, bagaikan timur dan barat, bahkan lebih jauh lagi.
2.    Barangsiapa yang mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul Bait namun ternyata mereka berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul Bait tersebut, maka yang ada hanyalah klaim kedustaan dan propaganda kesesatan.

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar