Senin, 10 September 2012

«PPDi» SEMOGA KITA MAKIN CERDAS MENYIKAPI KONSPIRASI, BUKAN TENGGELAM KE DALAMNYA

 



Kini, 11 tahun berlalu pasca peristiwa 11 September 2001. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, AS dan sekutunya menjadikan peringatan ini sebagai upaya untuk mempropagandakan Islamophobia di seluruh dunia. Lebih dari satu dekade berlalu, namun hingga kini peristiwa itu masih menyisakan sejumlah pertanyaan besar. Pemerintah AS tidak memberikan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan terkait peristiwa besar itu.
 
Selama itu pula dinas intelijen Amerika (CIA) berusaha keras menutupi fakta sebenarnya yang terjadi terkait peristiwa 11 September. Salah satu upaya CIA untuk menutupi fakta di balik peristiwa ini adalah sensor terhadap sebagian buku memoar Ali Soufan, seorang mantan polisi federal AS (FBI).  Ali Soufan menulis buku memoarnya berjudul "The Black Banners: The inside story of 9/11 and the war against al-Qaeda" atau "Spanduk Hitam: Cerita di Balik Peristiwa 11 September dan Perang Melawan al-Qaeda". Dalam bukunya, Soufan mengetengahkan fakta-fakta akurat mengenai ketidakpedulian CIA terhadap ancaman keamanan dari para pelaku peristiwa itu.
 
Contohnya, sebelum terjadinya serangan ke gedung kembar WTC, CIA sebenarnya telah memiliki data dua orang penyandera pesawat yang tinggal di San Diego, tapi informasi ini tidak diserahkan kepada FBI. Kelalaian ini berakibat peristiwa yang sebenarnya dapat dicegah harus terjadi. Tampaknya, bukan pertamakalinya CIA meremehkan bahkan tidak mampu mengambil langkah preventif atas terjadinya peristiwa 11 september. Laporan resmi pemerintah Amerika tentang peristiwa 11 september menunjukkan peran kuat al-Qaeda. Tapi mereka tidak pernah mampu menjelaskan bagaimana 19 warga asing dari timur tengah mampu menyandera 4 pesawat dan lolos dari pengawasan CIA. kenyataan ini masih menyisakan keraguan mendalam terkait siapa sebenarnya dalang di balik peristiwa tersebut.
 
Ada analisa yang menyebutkan bahwa para pejabat Amerika waktu itu bekerjasama dengan kelompok teroris al-Qaeda guna menciptakan peristiwa 11 september. Tewasnya 3000 orang dalam peristiwa itu dimanfaatkan oleh Washington untuk menyerang Afghanistan dan Irak dan menduduki kedua negara ini. Namun ada analisa lain yang menyebut kecerobohan dan persaingan di tubuh lembaga-lembaga intelijen AS sebagai celah yang dimanfaatkan oleh para perancang peristiwa 11 september. Apabila informasi yang dimiliki CIA diserahkan kepada FBI, sangat mungkin sekali sebelum aksi penyanderaan pesawat terjadi, para pelakunya telah ditangkap. pertanyaannya, mengapa CIA tidak menyerahkan data dua tersangka utama kepada FBI, sampai saat ini masih belum ada kejelasannya.
 
Sebagian meyakini persaingan lama CIA dan FBI menyebabkan informasi vital yang harus berputar di tubuh lembaga-lembaga intelijen AS tidak berjalan normal. sebagian lainnya menyebut ada unsur kesengajaan dalam peristiwa itu. mereka percaya pemerintah as waktu itu sengaja mengeluarkan perintah penghentian pengejaran terhadap para anasir al-Qaeda di dalam Amerika.
 
Terlepas dari analisa tersebut, harus diakui ada upaya pemerintah AS ketika itu hingga sekarang untuk menutupi fakta sebenarnya mengenai peristiwa 11 september. Itulah sebabnya lebih dari 30 halaman laporan komite independen pencari fakta peristiwa 11 September diumumkan sebagai dokumen rahasia. publikasi buku memoar anggota FBI "The Black Banners: The Inside Story of 9/11 and the war against al-Qaeda" juga harus disensor oleh CIA. Tampaknya peristiwa teroris terbesar dalam sejarah akan tetap dipetieskan dalam dokumen rahasia CIA hingga beberapa dekade ke depan.Di luar sejumlah keganjilan itu, ironisnya AS justru menggunakan peristiwa 11 September sebagai sarana untuk menyebarkan Islamophobia di seluruh dunia.
 
Runtuhnya Uni Soviet, menyebabkan terjadinya sebuah kekosongan besar bagi AS yang melancarkan kebijakan haus perang di dunia selama lebih dari setengah abad. Sebab, Komunisme sebagai musuh besarnya telah tumbang. Untuk itu bagi Washington perlu membuat sebuah musuh baru guna membuktikan kepada dunia bahwa dirinya lebih unggul dari yang lain menjadi kekeuatan tunggal. Setelah kerah merah kini ancaman diarahkan ke kubu hijau. AS memandang Islam sebagai ancaman bagi kepentingan hegemoninya di dunia.
 
Pasalnya, kemenangan revolusi Islam Iran mengancam kepentingan AS di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu kawasan strategis dunia. Iran baru di bawah Revolusi Islam telah mengubah negara itu dari sekutu utama AS menjadi musuh utama Washington. Selama lebih dari tiga dekade AS melakukan berbagai cara untuk menaklukan Iran. Tapi, alih-alih tunduk dan menyerah Republik Islam u semakin kuat dan melebarkan pengaruhnya di dunia. Salah satu yang dilakukan AS adalah melancarkan gerakan Islamophobia di seluruh dunia.
 
Di ranah teoritis, Samuel Huntington mengemukakan teori "The Clash of Civilizations" yang memandang peradaban Islam sebagai ancaman terbesar bagi peradaban Barat. Pandangan itu diikuti oleh pusat pengambilan keputusan AS yang meniali dunia Islam adalah ancaman bagi dunia Barat. Dampaknya, Barat membentuk infrastruktur penyebaran Islamophobia di seluruh dunia. Lewat propaganda itu, muncul wajah-wajah Islam ciptaan Barat yang tidak mewakili kebenaran sejati agama ilahi itu.
 
Gelombang Islamophobia mengalami bentuk baru pasca peristiwa 11 September. Media mainstream berupaya mengubah prinsip hubungan dunia Islam dan Barat. Dua hari pasca peristiwa 11 September, John Vinocur dalam artikelnya di koran AS Herald Tribune mengungkapkan bahwa  peristiwa 11 September memperjelas tumbukan peradaban antara Islam dan Barat. Tidak hanya itu, Silvio Berlusconi, perdana menteri Italia ketika itu dalam statemennya menyebutkan bahwa peradaban Barat lebih utama dan orsinil dari Islam.
 
Sebulan pasca peristiwa 11 September, Fukuyama dalam wawancara dengan koran The Guardian menyebut Islam merupakan satu-satunya sistem yang mengancam peradaban Barat. Penulis "The End of History and the Last Men" itu menegaskan bawah kekuatan militer bisa digunakan Barat untuk mengalahkan muqawama Islam menghadapi modernisme. Di kalangan para pejabat teras AS, Mantan Menteri Pertahanan AS, William Cohen terang-terangan mengatakan bahwa perang AS dan sekutunya menghadapi Islam merupakan perang dunia keempat.
 
Sejatinya Barat berupaya menampilkan wajah Islam yang bengis dan garang ke seluruh penjuru dunia untuk menjegal penyebaran agama damai yang semakin meluas itu.Tapi realitas yang terjadi justru sebaliknya. Seiring meningkatnya propaganda Islamophobia, penganut Islam kian hari semakin meningkat melebihi sebelumnya. (IRIB Indonesia/PH)

Tags:

__._,_.___
Recent Activity:
------------------------------------------------------------------
                       TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
------------------------------------------------------------------
Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
-untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@yahoogroup.com

**************************************************************
-Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
               : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
**************************************************************
FOR THE LATEST NEWS link to us: http://PPDi.cjb.net/
                          http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages

ALL ADVERTISERS THAT HAVE NOTHING TO DO WITH condemning indon WILL BE BANNED WITHOUT WARNING!!!
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar