Selasa, 11 September 2012

Re: Bls: [M_S] Validitas QS 36:39-40 sebagai dasar WH

 

Menambahkan masukan dari Pak Mu'iz.

Saya kira, jawaban dari Pak Thomas tidak dapat juga dikatakan meleset 100 %.
Beliau sdh memberikan pemahaman mengenai Yasin 36-40.

Dari sisi pandang beliau, intinya pd kalimat penutupnya:

BAGIAN TERAKHIR MENYIMPULKAN BAHWA SEMUA ITU KARENA BUMI-BULAN-MATAHARI MEMPUNYAI GARIS EDAR MASING-MASING. "YASBAHUN" MENJADI KATA KUNCI BAHWA GERAK MERAKA ADALAH GERAK DIRI YANG BEBAS.


Memang benar, msg2 objek tsb memiliki gerak diri yang bebas.
Namun demikian, kalau gerak bebas, mengapa di ayat tsb dikatakan mthr mendapatkan bulan?
Tentu saja tdk akan ada ungkapan itu kalau dilihat dari angkasa luar, di mana kita dg mudah memperhatikan gerak mthr dan bulan, yg memang benar2 sangat jauh, yg tdk mungkin ketemu.
Pak Yusron sdh menjelaskan ini dg gamblang.

Sy kira ini yg terlewat dari penjelasan Pak Thomas, yaitu SIAPA YANG MELIHAT FENOMENA tsb DAN DARIMANA MELIHATNYA?
Yg sebenarnya sdh diungkap oleh Pak Tono, Pak Yusron, dan saya. Namun, mungkin terlewat dibaca oleh Pak Thomas.

Dari jawaban Pak Thomas ini dapat terarah pada 2 sisi, satu sisi tafsir dari kaidah bahasa dan sisi kedua tafsir dari sisi sains.

Tafsir dari sisi sains akan bertemu dg Penjelasan Pak Tono dg model langitnya.
Sdkn, tafsir dari sisi bahasa juga tdk kalah menariknya terdapat banyak hal dapat dicermati dari pemahaman Pak Thomas.

Silakan kepada para panelis dilanjutkan......



From: Abdul Mu'iz <muizof@yahoo.com>
To: Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, 11 September 2012, 17:44
Subject: Re: Bls: [M_S] Validitas QS 36:39-40 sebagai dasar WH

 
Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuh,

Selamat datang pak Thomas, terima kasih telah langsung terlibat dalam diskusi ini, mohon maaf untuk urutan diskusi, ada baiknya diawali dari posting pak Tono Saksono, berikut saya reposting terakhir dari pak Tono yang sudah lama menunggu respons dari Bapak, tafaddlol.

Wassalam
Abdul Mu'iz

Selamat datang Pak Thomas, terima kasih sudah bersedia berdialog dalam milis ini.


Mari kita setujui sementara definisi berikut untuk sekedar memudahkan klasifikasi skala spatial system yg kita gunakan.

1.   Langit 1: Sistem sub-solar yang meliputi Bumi, Bulan, dan Matahari;
2.   Langit 2: Sistem solar yang meliputi Matahari sebagai pusat sistem dan planet2 nya;
3.   Langit 3: Sistem galaxy dimana Matahari bergerak dalam galaxy;
4.   Langit 4: Sistem kosmos dimana galaxy beredar pada sebuah pusat galaxy clusters, dst. 

Dan kita berhenti saja dalam spatial domain ini.

 

Dalam QS 36:39 pada fenomena astronomis terbentuknya al-urjun, maka dapat dipastikan bahwa ini berada pada domain Langit-1. Akan sangat sulit membuat korelasi terbentuknya al-'urjun dengan planet lain dalam domain Langit-2. Jadi meskipun yg antum sampaikan di UHAMKA lalu memang Matahari bergerak dalam domain Langit-3, tapi terait dg 36:39, maka pergerakan Matahari di sini akan lebih tepat adalah dalam domain Langit-1.


Dalam QS 36:40 pun, ini adalah penjelasan fenomena astronomis untuk pendefinisian akhir manzilah dari orbit Bulan di Langit-1, dimana dikatakan pada manzilah terakhir ini, Matahari tidak akan mengejar Bulan. Artinya, jika suatu saat Matahari telah dapat mendapatkan Bulan (ijtima'), itulah titik NOL dari perpindahan antara manzilah terakhir ke manzilah pertama siklus bulan berikutnya.

 

Disimpulkan, awal manzilah baru Bulan itu ditandai saat Matahari telah dapat melampaui Bulan (tenggelam) sebagai tanda awal bulan qomariyah. Bahwa di ayat ini juga menjelaskan fenomena gerakan Matahari di Langit-3, Langit-4 dst, memang betul. Artinya, meskipun tampak Matahari "menabrak" Bulan (i.e. dalam kasus khusus gerhana), dua benda ini berada pada dimensi (space dan size) yang berbeda.

Dalam astronomi, sudah sangat umum untuk melakukan perhitungan posisi benda2 langit (termasuk satelit buatan) dilakukan dg memproyeksikan benda langit tsb ke sebuah celestial sphere raksasa dengan diameter tak terhingga. Jadi semua benda langit itu dianggap menempel (dan bergerak) pada bola langit ini. Dengan melakukan ini, perhitungan dapat dilakukan dengan akurasi tertinggi. Analoginya adalah spt seorang artis yang menggambar biasanya dalam skala 2-3 kali lebih besar daripada gambar aslinya yang nanti ketika dicetak, sehingga setiap detil dapat digambar lebih akurat. Itulah penjelasan QS 36:40 di atas. Jadi meskpun tampak Matahari mendahului Bulan dalam bola langit di atas, sebetulnya mereka berada dalam spatial domain yang berbeda. Inilah yang saya sampaikan dalam diskusi di Uhamka: jika antum tidak menggunakan prinsip bola langit raksasa ini, gimana penganut imkan-rukyat mengukur sudut elongasi Matahari-Bulan? Untuk menjelaskan fenomena pergantian manzilah dan konsep wujudul hilal ini, saya telah buatkan animasi yang dapat dilihat di alamathttp://www.youtube.com/watch?v=Z7dWgl_hGgw&feature=plcpNamun, yang lebih penting adalah: Ya-Sin 38-40 bukanlah satu2 nya dasar bagi Muhammdaiyah dalam mengadopsi wujudul hilal sebagai kriteria menentukan awal bulan qomariyah (catatan: silahkan Ki Ageng, Pak Syamsul, Pak Agus koreksi saya CMIIW). Muhammadiyah juga mengimani hadis "summu lirukyatihi" dan hadis2 sejenis tentang hilal. Hanya, Muhammadiyah (dan khususnya saya pribadi) tidak menganggap bahwa "rukyah" di sini harus dimaknai dengan melihat hilal secara fisik dengan mata (apalagi dg naked eyes), karena itu adalah kriteria bagi kaum yang ummiy yang belum memiliki cara lain untuk memastikan kehadiran hilal. Animasi di atas juga menjelaskan ini. Makanya, kami menganut hisab murni dengan kriteria wujudul hilal.
 
Untuk sementara itu dulu. 

Wassalam,

Tono Saksono (Remote Sensing, UTHM-Malaysia)

__._,_.___
Recent Activity:
----------------------------------------------------------------------
"Muhammadiyah ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah
kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru kembali
pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah
Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah"
(K.H. Ahmad Dahlan).

----------------------------------------------------------------------
Salurkan ZAKAT, INFAQ dan SHODAQOH anda melalui LAZIS
MUHAMMADIYAH

No. Rekening atas nama LAZIS Muhammadiyah
1. Bank BCA Central Cikini
    (zakat) 8780040077 - (infaq) 8780040051
2. BNI Syariah Cab. Jakarta Selatan
    (zakat) 00.91539400 -   (infaq) 00.91539411
3. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Thamrin
    ( Zakat) 009.0033333 -  (Infaq) 009.00666666
4. Bank Niaga Syariah
    (zakat) 520.01.00186.00.0 - (infaq) 520.01.00187.00.6
5. Bank Muamalat Indonesia Arthaloka
    (Zakat) 301.0054715
6. Bank Persyarikatan Pusat
   (zakat) 3001111110 -  (infaq) 3001112210
7. Bank Syariah Platinum Thamrin
    (zakat) 2.700.002888 -  (infaq) 2.700.002929
8. BRI cab. Cut Meutia
    (zakat) 0230-01.001403.30-9 -    (infaq) 0230-01.001404.30-5

Bantuan Kemanusiaan dan Bencana:
BNI Syariah no.rekening: 00.91539444

DONASI MELALUI SMS
a. Jadikan jum'at sebagai momentum kepedulian,
salurkan donasi anda, ketik: LM(spasi)JUMATPEDULI kirim ke 7505

b. Bantuan kemanusiaan  ketik: LM(spasi)ACK kirim ke 7505

Nilai donasi Rp. 5000, semua operator,belum termasuk PPN

email: lazis@muhammadiyah.or.id
website : www.lazismu.org
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar