Selasa, 04 September 2012

Re: [inti-net] Karakter Jakarta Dilihat dari Gubernur Terpilih - Pemilih Indonesia Masif dan Naif

 


Subject: [inti-net] Karakter Jakarta Dilihat dari Gubernur Terpilih -
Pemilih Indonesia Masif dan Naif ....... ( TIDAK MENGHERANKAN ..... DAN
KENAIFAN itupun
dalam segala bentuknya akan SANGAT LAMA BERCOKOL DALAM
TUBUH2 DAN BENAK2NYA - because IT is about THE MENTAL AND STATE OF MIND
OF THE
MAYORITY ITSELF ....) .

** ONLY EDUCATION AND BEING EDUCATED CAN CURE AND RECOVER
THE SOCIETY FROM THIS MENTAL DISEASE ........


-------Original Message-------

From: GELORA45
Date: 3.9.2012 20:47:16
To: GELORA_In
Subject: [inti-net] Karakter Jakarta Dilihat dari Gubernur Terpilih -
Pemilih Indonesia Masif dan Naif


Karakter Jakarta Dilihat dari Gubernur Terpilih
Wednesday, 22 August 2012 02:22
http://www.gatra
com/nasional/1-nasional/16540-karakter-jakarta-dilihat-dari-gubernur-terpilih

Jakarta - Pakar komunikasi politik Henry Subiakto mengatakan, karakter
masyarakat dan pemilih Jakarta bisa dilihat dari gubernur yang terpilih
dalam putaran kedua Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, September mendatang


"Bila yang terpilih Jokowi yang mengusung pluralisme, menunjukkan bahwa
pemilih Jakarta berkarakter plural sebagaimana masyarakat Jakarta beragam
karena didominasi pendatang," kata Henry Subiakto saat dihubungi di Jakarta,
Selasa (21/8).

Jokowi -panggilan akrab Joko Widodo- yang berpasangan dengan Basuki Cahaya
Purnama selama ini memang mengusung tema pluralisme. Karena tema itu,
seringkali Jokowi mendapat serangan berupa isu yang disebut-sebut
menyinggung suku, agama, ras dan antargolongan.

Jokowi, yang saat ini masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, bukanlah orang
Betawi. Begitu pula dengan Ahok -panggilan akrab Basuki Cahaya Purnama-,
mantan bupati Belitung Timur, yang seorang Tionghoa dan bukan Muslim.

"Sebenarnya isu SARA perlu diperjelas. Kalau mengungkap latar belakang
kesukuan dan agama salah satu calon, sebenarnya sah-sah saja karena
Indonesia merupakan bangsa yang beragam," kata Henry.

Yang bisa dikategorikan isu SARA, kata dia, apabila ada salah satu calon
yang dalam kampanyenya menyebarkan permusuhan dan kebencian kepada kelompok
tertentu. Mengungkap latar belakang suku atau agama salah satu calon justru
bisa semakin mendewasakan pemilih.

Sementara, bila Foke -panggilan akrab Fauzi Bowo- kembali terpilih, Henry
mengatakan bisa saja disimpulkan bila pemilih di Jakarta masih memilih
dengan mempertimbangkan latar belakang suku dan agama calon yang dipilih.

"Kalau melihat kampanye yang sering dilakukan di Jakarta masih berdasarkan
kesukuan dan agama, bila Foke yang terpilih menunjukkan secara riil bila
suku dan agama masih menjadi pertimbangan pemilih di Jakarta," katanya. [TMA
Ant]

Pemilih Indonesia Masif dan Naif

Wednesday, 22 August 2012 01:11
Jakarta - Pakar komunikasi politik Henry Subiakto menilai, mayoritas pemilih
di Indonesia merupakan pemilih pasif dan naif yang tidak mau mencari
kelebihan dan kekurangan calon yang bersaing dalam pemilihan umum atau
pemilihan kepala daerah.

"Hal itu berbeda dengan masyarakat Barat yang cenderung aktif mencari tahu
latar belakang, kelebihan serta kekurangan calon yang akan mereka pilih,"
kata Henry Subiakto saat dihubungi di Jakarta, Selasa (21/8).

Kalaupun pemilih tahu tentang calon kepala daerah yang akan mereka pilih,
maka hal itu hanya pada tataran "kulit dan permukaan" saja. Dia berharap
masyarakat Jakarta lebih bersikap aktif dan kritis supaya mengenal calon
gubernur supaya tidak salah memilih.

Menurut dia, pasangan calon yang bersaing dalam putaran kedua Pemilihan
Gubernur DKI Jakarta 2012, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan Joko Widodo-Basuki
Cahaya Purnama, juga lebih mengampanyekan program daripada menyerang pihak
lain.

"Media dan politisi juga harus lebih aktif mengampanyekan latar belakang,
aktivitas dan rekam jejak pasangan calon yang bersaing. Jangan sibuk
menyerang dengan isu kesukuan atau agama," katanya.

Dosen Universitas Airlangga, Surabaya itu menganggap positif kampanye yang
mengangkat latar belakang kesukuan atau agama dari calon yang bersaing.
Sebab, hal itu bisa menunjukkan keberagamaan etnis dan kultur di Jakarta
yang mayoritas penduduknya adalah pendatang.

Namun, dia berharap pemilih tidak memilih gubernur hanya berdasarkan pada
kesamaan suku atau agama, tetapi lebih kepada kemampuan dan kapasitas calon
yang dinilai bisa memimpin Jakarta.

"Agama dan kesukuan cukup diketahui sebagai latar belakang saja. Pemilih
harus lebih dewasa sehingga memilih calon yang memiliki kemampuan untuk
memperbaiki Jakarta," katanya.

Menurut dia, Indonesia memiliki keberagaman suku dan agama sehingga
pembicaraan mengenai etnis sah-sah saja asalkan tidak mengangkat isu untuk
membenci atau memusuhi kelompok tertentu. [TMA, Ant]

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

Kunjungi situs INTI-net   
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar